HARTABUTA :
Senin, 16-2-2026 M.
[16/2 09.49] Zain Aliwafa Melaka WAG SAMBUNG: Mohon maaf aku ini pencinta tesis KH. Imad.
Takutnya tidak sama dgn sampean dalm pemahaman. Dalam hal bab kajian ilmu Nasab ini ( polemik nasab ) ini.
[16/2 09.54] Zain Aliwafa Melaka WAG SAMBUNG: Lamungan yaaa
[16/2 10.08] Zain Aliwafa Melaka WAG SAMBUNG: Panjenengan saja yg nilpon kepada orang ini..
[16/2 10.09] Zain Aliwafa Melaka WAG SAMBUNG: Karna di SMS / Chata oleh saya .. gak tau katanya..
..🫢
[16/2 10.09] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Mungkin sama 80 ℅ :
* Yg jelas sejak tahun 1988-an sudah mulai pertanyakan Shohiih Tidaknya Nasab Para Habaaib yg mengaku Dzurriyyah Nabii Kita.
* Terasa janggal & aneh bangeeetttddd karena di Literatur Kitaab Fiqih Pesantren Salaf, Dzurriyyah Nabii Kita itu bergelar *Sayyid, Sayyidah, Syarif, Syariifah*.
* Lebih janggal, lebih konyol & lebih aneh lagi tahun 1990-an temukan *Komunitas Habaaib di Kraksaan-Probolinggo Halaalkan Mo Limo* pasca dicurhati *10 Murid SMAN 1 Kraksaan*.
1. Lalu SUHU tegaskan, justeru SUHU meragukan Klaim Nasabnya ke Nabii Kita.
2. Bisa2 hanya ngaku2 yg justeru merusak ISLAAM dari dalam, Bangsa 'Arob, dan kacaukan NKRI Pancasila.
3. Jikalau dibiarkan sewaktu2 akan Bledhos dahsyat Sekala Nasional bahkan Internasional.
* Tahun 1999-an dikasih ceritera langsung seorang Habiib Marga Al Kaff, Tetangga di belakang rumah Kraksaan tentang Perilaku Dawirisasi & Palakisasi Sebagian Habaaib, lalu SUHU ingatkan karena bisa Bledhos Sekala Nasional bahkan Internasional.
* Dampak negatifnya sangat mengerikan bagi :
1. Klan Habaaib.
2. Orang 'Arob Indonesia.
3. Orang 'Arob manapun
4. Gerogoti ISLAAM dari dalam.
5. Mencoreng Nabii Kita.
6. Dll.
👇
Selama *Klan Ba'Alawyy* tidak mampu menjawab dg argumentasi yg :
* Benar.
* Pas.
* Valid
Maka *Thesis KH. 'Imaaduddiin* Benar Adanya.
* Namun harapan SUHU perilaku Gedabrus Sesat Menyesatkan : Dawirisasi, Palakisasi, Angkat Dirinya Sebagai Majikan Di Indonesia, Indonesia milik Tariim & Aneka Doktrin Sesat Menyesatkan *Harus Diberantas Hingga Ke Akar-Akarnya*.
[16/2 10.12] Zain Aliwafa Melaka WAG SAMBUNG: Poin 3.
Yaaa lerres pasti dinpastinkan itu secara aqliyah. Karena mereka itu adalah pemberontak.
Hanya selisihnya tidak memikul Bendel meriyam. Saja .. aslinya akal liciknya itu lebih dari merian dan beddil.
[16/2 10.13] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Jl. Pondok Beron No. 688, RT 01, RW 06, Beron - Punggulrejo - Rengel - Tuban.
* Dikelilingi Telaga Beron.
* PAUD Al Birru - Jejeran selisih 2 meter.
* TK Al Birru.
* MIN 2 Tuban.
* MTsN 2 Tuban.
* MAN 2 Tuban.
[16/2 10.16] Zain Aliwafa Melaka WAG SAMBUNG: OOO njih.
Alhamdulillah punya saudara yg jadi tokoh agamaaa islam.
🤝🫰💚
Lanjutkan
[16/2 10.23] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Banyak juga *Kaum Pribumi* yg mentertawakan *Thesisnya Kiyai 'Imaad* karena harus diuji oleh Dewan Penguji Di Hadapan Para Dosen di Perguruan Tinggi sesuai bidangnya.
* Jawaban SUHU, Thesis yg di Perguruan Tinggi tergolong jenis *Thesis Tertutup/ Thesis Khusus/ Thesis Terikat (Dependent Thesis)*.
* Adapun Thesisnya Kiyai 'Imaaduddiin itu tergolong jenis *Thesis Terbuka/ Thesis Umum/ Thesis Bebas (Open Thesis, General Thesis/ Independent Thesis)* dan yg mengujinya *Seluruh Jenis Lapisan Masyarakat Nasional & Luar Negeri Yg Peduli*.
* Jadi istilah *Thesis* yg dipakai oleh Kiyai 'Imaaduddiin *ya tidak salah*.
[16/2 10.27] Zain Aliwafa Melaka WAG SAMBUNG: Yaaa aku setuj..
[16/2 10.27] Zain Aliwafa Melaka WAG SAMBUNG: Beliau seorang Mujaddid / 100 tahun.
[16/2 10.36] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Jikalau KH. 'Imaaduddiin 'Utsmaan Al Bantanyy :
* Tetap istiiqoomah di Jalan Lurus.
* Tidak "Riyaa" 'Ujub, Adigang, Adigung & Adiguno".
* Tetap Bhirawa Anoraga.
* Tetap Kedepankan Achlaaqul Kariimah
👇
Maka sangat layak mendapatkan *Julukan Gelar* sebagai :
* *Seorang Mujadddiid/ Reformer* terutama *Urusan Silsilah Nasab & Menjaga Marwah ISLAAM*.
[16/2 10.51] Zain Aliwafa Melaka WAG SAMBUNG: Ya stujuuu
[16/2 11.00] Zain Aliwafa Melaka WAG SAMBUNG: Mengapa sunan Ampel bergelar Raden Rahmat.. kok tidak ambil gelar Sayyid..?
Positif Ngambil dari kitabnya
( Dari bak Lawi YAr-mut ini ) 🤜
[16/2 11.09] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Jikalau silsilah Nasab hanya diambil dari *Jalur Lelaki Saja* :
* Sudah putus di Sayyidah Faathimah Az Zahroo".
* Gak perlu sodorkan *Kisah Sayyidah Faathimah Az Zahroo"* terbuat dari Bahan Sepesial.
* Gak perlu sodorkan Hadiits *Hasan Husain bernasab langsung kepadaku (= Nabii Muhammad S'AW)*.
* Jikalau dikaji mendalam & obyektif justeru malah dibilang mengada2, bukan Hadiits Nabii dibuatkan Hadiits yg seolah2 Valid bin Shohiih oleh Para Pecinta Nabii Kita Overdosis.
* Yg Lelaki ya gak usah butuh Wanita untuk punya Keturunan.
* Yg Wanita ya gak usah butuh Lelaki untuk punya Keturunan.
* Gituu Saja Kok Repoootttddd !
* Hanya saja dalam urusan tertentu Lelaki & Perempuan ada pembedaan karena ada tujuan besar di balik itu semua.
[16/2 11.10] Zain Aliwafa Melaka WAG SAMBUNG: Lerres .. kulo gak nerimu dgn arguminnya bak Lawi ini makanya aku balik tanya di sini ..ini..
[16/2 11.31] Zain Aliwafa Melaka WAG SAMBUNG: Membiasakan Diri pada Fakta: “Habib Bukan Cucu Nabi”
Frasa “habib bukan cucu Nabi” seharusnya tidak lagi dianggap provokatif, apalagi ofensif. Ia bukan ujaran kebencian, bukan penghinaan, dan bukan pula serangan terhadap agama. Ia adalah pernyataan faktual yang lahir dari disiplin ilmu sejarah, genealogi, dan metodologi ilmiah yang sehat.
Masalahnya bukan pada kalimat itu. Masalahnya ada pada ketidaksiapan psikologis dan kultural sebagian kalangan—terutama Ba‘alwī dan para muhibbin—untuk menerima bahwa klaim nasab bukan wilayah sakral yang kebal kritik.
* Nasab Itu Klaim Ilmiah, Bukan Dogma
Dalam tradisi Islam klasik, nasab adalah klaim historis, bukan rukun iman. Ia diuji dengan:
- kesinambungan data,
- kejelasan sumber,
- dan konsistensi kronologi.
Tidak ada satu pun kaidah usul fikih, ilmu hadis, atau ilmu tarikh yang menyatakan bahwa nasab harus diterima hanya karena populer atau diwariskan secara emosional. Popularitas (syuhrah) tidak otomatis berarti kebenaran. Terlebih ketika berhadapan dengan bukti-bukti yang bersifat qath‘i (tegas dan pasti).
Maka ketika ada kalangan yang mengatakan “habib bukan cucu Nabi”, itu bukan tindakan lancang. Itu konsekuensi logis dari metode ilmiah.
* Masalah Sebenarnya: Identitas yang Terlanjur Disakralkan
Penolakan keras terhadap frasa ini sering kali bukan karena lemahnya argumen ilmiah, melainkan karena ketergantungan identitas. Bagi sebagian muhibbin, habib tidak lagi diposisikan sebagai manusia biasa yang bisa salah, tetapi sebagai simbol kesucian yang tidak boleh disentuh kritik.
Di titik ini, nasab berhenti menjadi data sejarah dan berubah menjadi alat legitimasi sosial:
- legitimasi dakwah;
- legitimasi kepemimpinan;
- legitimasi kuasa simbolik;
- bahkan legitimasi narasi sejarah Bangsa Indonesia, NU dan tokoh serta ulamanya.
Ketika simbol itu digugat, yang terasa bukan sekadar bantahan ilmiah, melainkan ancaman eksistensial.
* Cinta Tanpa Akal: Masalah Muhibbinisme
Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. adalah kewajiban iman. Tapi mencintai manusia tertentu seolah ia pasti mewakili Nabi adalah kesalahan logika. Inilah yang bisa disebut muhibbinisme: cinta yang mematikan nalar.
Muhibbinisme membuat orang:
- membela klaim tanpa verifikasi,
- menganggap kritik sebagai kebencian,
- dan memusuhi fakta demi menjaga rasa nyaman.
Padahal, cinta sejati kepada Nabi justru menuntut kejujuran, bukan manipulasi silsilah.
* Mengatakan “Bukan Cucu Nabi” Bukan Menghina Nabi
Perlu ditegaskan dengan jujur:
mengatakan “habib bukan cucu Nabi” sama sekali tidak mengurangi kemuliaan Nabi. Yang justru berbahaya adalah menempelkan kemuliaan Nabi pada klaim manusia yang tidak sah sebagai keturunannya.
Nabi Muhammad tidak membutuhkan klaim palsu untuk dimuliakan.
Yang membutuhkan klaim itu adalah manusia.
* Menuju Kedewasaan Beragama
Jika Ba‘alwī dan muhibbin ingin dihormati secara intelektual, maka langkah pertama adalah berdamai dengan kritik. Dewasa dalam beragama berarti:
- siap diuji,
- siap dikoreksi,
- dan siap menerima bahwa tidak semua warisan kultural adalah kebenaran.
Frasa “habib bukan cucu Nabi” bukan serangan.
Ia adalah undangan untuk berpikir jernih.
Dan keimanan yang rapuh karena fakta, sejatinya memang perlu diperbaiki—bukan dibela mati-matian.
Nabi Muhammad Saw. tetap mulia. Ilmu tetap berjalan. Dan nasab—seperti klaim sejarah lain—harus siap diuji.
Kalau itu terasa menyakitkan, mungkin yang terluka bukan iman, tapi kenyamanan.
[16/2 11.38] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Sengaja tidak bahas di Group Wilwatikta karena :
* Membernya Majemuk.
[16/2 11.40] Zain Aliwafa Melaka WAG SAMBUNG: OOO majmuk yaaa
[16/2 11.53] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Malah ada yg *Nashroonii*.
[16/2 11.55] Zain Aliwafa Melaka WAG SAMBUNG: Ooh gtu yaaa
[16/2 11.56] Zain Aliwafa Melaka WAG SAMBUNG: Ini ya mas YAI..?
[16/2 12.03] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: WILWATIKTA ... 💥✅⭐
[16/2 12.25] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Belum lagi yg *Aliran Kejawen*.
[16/2 12.32] Zain Aliwafa Melaka WAG SAMBUNG: Lerres njih
[16/2 12.36] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Lelaki & Perempuan :
* Garis kodratnya beda.
* Punya tanggung jawab peran positif masing2.
* Tidak bisa berdiri sendiri alias harus berkolaborasi satu sama lain.
* Dg prinsip :
*١- فاستبفوالخيرات*
*٢- و تعاونوا على البرّ و التقوى و لا تعاونوا على الاثم و العدوان*
*٣- سورة العصر*
👇
Dalam rangka Full 'Ibaadah :
* Vertikal.
* Horisontal.
و الحمد للّه ربّ العالمين
صلّى اللّه على محمّد






0 comments:
Post a Comment