Tuesday, May 19, 2026

Ringkasan Berakhirnya Kerajaan Mojopahit

HARTABUTA :

Rabu, 20-5-2026 M. 

Sumber :

Mr. Firmansyah 'Alii - WAG Wali Songo

Catatan SUHU :

Butuh kajian lebih lanjut, namun SUHU setuju Raden Patah tidak pernah kudeta Ayahnya yakni Prabu Brawijoyo V Ksetobhumi/ Raden Alit Ongkiwijoyo/ 'Abdul Malik. 

Prabu Brawijoyo V Kertobhumi dikudeta oleh Pasukan Adik Sepupunya yakni Raden Ronowijoyo / Prabu Brawijoyo VI. 

Rupanya itu lanjutan dari Perang Paregreg tahun 1404 & 1406 M. 

Artikelnya :

*KRONOLOGI PERANG TAPAL KUDA (PASURUAN HINGGA BANYUWANGI) MELAWAN RAJA-RAJA JAWA*


1316 :  Kerajaan Lamajang Tigang Juru di bawah pimpinan Patih Nambi terpaksa berperang melawan Majapahit akibat fitnah Halayuda (Ramapati). Majapahit menang, kemudian bekas kerajaan Lamajang Tigang Juru dipecah jadi tiga Provinsi yang dipimpin oleh para Bhre (Sumber : Negarakretagama dan Pararaton)


1389-1406 : Karena para sesepuh (Bhre Matahun dan Bhre Tumapel II) wafat, Hayam Wuruk mulai menata masa depan Tapal Kuda. Putera Hayam Wuruk, Bhre Wirabhumi kemudian diadopsi oleh Bhre Daha dan Bhre Matahun, lalu dinikahkan dengan Bhre Lasem II (Nagawardhani). ​Melalui pernikahan politik dan adopsi politik ini, seluruh wilayah Tapal Kuda (Pasuruan hingga Blambangan) disatukan kembali di bawah satu kepemimpinan tunggal Bhre Wirabhumi. Wilayah gabungan ini kelak dikenal sebagai Majapahit Wetan (Majapahit Timur).


1389 : Pasca-wafatnya Hayam Wuruk, Bhre Wirabumi mengobarkan perang saudara untuk merebut takhta utama Majapahit di Kraton Barat. Perangnya disebut paregreg karena berlangsung lama. Perang Paregreg akhirnya dimenangkan oleh Majapahit Barat. (Sumber : Negarakretagama dan Pararaton)


1453-1456 : Terjadi Interregnum Majapahit, kosong tanpa Maharaja. Bhre Blambangan Dyah Wijayakarana dan Bhre Pakembangan Dyah Suraprabawa menjadi raja semi merdeka. (Sumber : Prasasti Renek dan Prasasti Sendang Sedati)


1468-1474 : Kraton Majapahit pecah jadi Kraton Trowulan di bawah pimpinan Bhre Kertabhumi dan Kraton Jiranawandana di Koridor Pasuruan-Probolinggo di bawah pimpinan Singhawikramardhana. Bhre Blambangan memilih memerdekakan diri, tidak patuh kepada siapapun. (Sumber : Prasasti Pamintihan dan Jiu)


1474-1478 : Dyah Ranawijaya naik tahta  Kraton Jiranawandana menggantikan ayahnya Singhawikrawardhana. Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dan Jember Selatan loyal kepada Dyah Ranawijaya di Kraton Jiranawardana, sedangkan Blambangan (Banyuwangi, Jember Utara, Bondowoso, Situbondo) memerdekakan diri dari Majapahit.


1478-1498 : Dyah Ranawijaya menghancurkan Kraton Trowulan, membunuh Raja Kertabhumi, kemudian memindahkan Kraton Majapahit ke Daha. Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dan Jember Selatan ikut Maharaja Ranawijaya. Sedangkan Blambangan (Banyuwangi, Jember Utara, Bondowoso dan Situbondo) sudah merdeka penuh di bawah Bima Koncar dan Menak Pentor. (Sumber : Prasasti Jiu/Trailokyapuri, pamenang, dan Catatan Tome Pires) 


1498-1518 : Jember dan Lumajang (Pakembangan) loyal kepada Patih Udara di Daha. Blambangan (Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso) berdaulat penuh. (Sumber : Catatan Tome Pires, Laporan Alfonso d'albuqueque, dan Prasasti Jiu IV)


1518-1545 : Singgasana Majapahit di Daha direbut dari Patih Udara, diduduki oleh Demak. Sisa-sisa bangsawan Majapahit loyalis Dinasti Girindrawardhana lari ke tapal kuda. Tapal kuda (mulai dari Pasuruan hingga Blambangan) total menolak tunduk kepada Demak. Pasuruan dipimpin oleh Adipati Supetak, Gending dan Pajarakan dipimpin oleh dua adipati loyalis Blambangan. Lumajang juga dipimpin adipati loyalis Blambangan.


1545-1546 : Pasuruan, Gending dan Pajarakan (Probolinggo) berhasil direbut oleh Sultan Trenggono. Namun Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi tetap merdeka sebagai Kerajaan Blambangan.


1546-1590 : Pasuruan  Probolinggo Lumajang ikut Islam gaya Giri Kedaton, sementara di Jawa Tengah ada Islam gaya Demak-Pajang


1590-1617 : Panembahan Senopati taklukkan Madiun. Jawa Timur di bawah koordinasi Giri Kedaton langsung membentuk Aliansi Surabaya. Aliansi Surabaya tersebut secara teknis dipimpin oleh Adipati Surabaya. Pasuran, Probolinggo dan Lumajang ikut aliansi tersebut. Untuk membendung Mataram dan Aliansi Surabaya, Dinasti Tawangalun di Blambangan melakukan kawin silang (endogami silang) dengan Dinasti Kepakisan di Bali (Kerajaan Gelgel), agar Blambangan dan Bali dapat selalu saling bantu dan saling lindungi, karena masih saudara.


1614-1625 : Sultan Agung menaklukkan anggota Aliansi Surabaya satu per satu. Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang jatuh pada tahun 1617. Sedangkan Surabaya sebagai pimpinan Aliansi jatuh pada tahun 1625. 


1625-1772 : Upaya islamisasi Blambangan selalu gagal, karena Bali tidak tinggal diam dalam melindungi Blambangan dari Islamisasi.


1767-1768 : Sunan Pakubuwono II menyerahkan Tapal Kuda ke VOC. Blambangan menolak dengan keras dan melakukan Puputan Blambangan, di bawah pimpinan Wong Agung Wilis. VOC dibantu Madura berhasil memenangkan perang. Wong Agung Wilis dibuang. Kemudian VOC mengangkat Sutanagara jadi Bupati Blambangan Timur (Banyuwangi), ibukota di Teluk Pampang, dan Wangsengsari jadi Bupati Blambangan Barat (Jember, Situbondo, Bondowoso), Ibukota di Panarukan. Sebelum dilantik jadi Bupati, keduanya dipaksa maksuk Islam terlebih dahulu. Para bangsawan Blambangan marah dan lari ke hutan Bayu. Kedua Bupati (Dwi Bupati) ternyata mengkhianati VOC, diam-diam mereka sering bertemu dan membantu Mas Rempeg di Hutan Bayu. Akhirnya VOC mengetahui itu dan membuang Dwi Bupati ke Sri Lanka. Jabatan mereka digantikan oleh Bangsawan Surabaya yang beragama islam, RM Kertawijaya. Namun karena Kertawijaya gagal mengendalikan para pejuang di Hutan Bayu, VOC menunjuk Mayor Colmond dari militer VOC sebagai Bupati Blambangan. 


1772 : Mas Rempeg (Raja Blambangan penerus Wong Agung Wilis) mengobarkan Puputan Bayu melawan VOC. Blambangan kalah. Kemudian VOC mengangkat seorang bangsawan muslim, Mas Alit, sebagai Bupati Blambangan.


1772-1942 : Belanda mendatangkan imigran muslim dari Madura dalam jumlah besar ke Tapal Kuda termasuk Blambangan, membentuk birokrasi baru berbasis islam, menggalakkan bahasa Jawa dan Madura, hingga akhirnya Islam di Blambangan berkembang pesat sebagaimana di kawasan Jawa lainnya. (Sumber : HJ De Graaf, Kuntowijoyo, Denys Lombard, MC Ricklefs, Laporan Misionaris dan Kontrolir Belanda abad 19, Francois Valentijn, TS Raffles)



Kesimpulan : 

- Raja-raja Demak, Pajang hingga Mataram tidak ada yang berhasil menaklukkan dan mengislamkan Blambangan

- Islamisasi Blambangan dilakukan secara masif oleh migran Madura yang dimobilisasi oleh VOC di bawah dukungan raja-raja dan ulama Madura.

- Dalam versi lain, jauh sebelum VOC memobilisasi muslim Madura ke Blambangan, sebetulnya orang Blambangan sudah banyak yang diam-diam ikut dakwah Giri Kedaton.


و الحمد للّه ربّ العالمين

صلّى اللّه على محمّد

0 comments:

Post a Comment