PENGORBANAN RARA LEMBAYUNG DEMI MASA DEPAN PUTRANYA
Dibalik
cerita besar tentang wahyu Keraton Mataram yang melibatkan tokoh Ki
Ageng Giring III dan Ki Ageng Pemanahan, terdapat kisah Rara Lembayung
yang tak kalah menarik. Dalam cerita tutur masyarakat, kisah ini turut
mewarnai perjalanan Kerajaan Mataram di kemudian waktu.
Cerita
tutur tersebut mengenai kisah anak Ki Ageng Giring III yang bernama
Rara Lembayung Niken Purwasari. Ia memiliki nama besar Kanjeng Ratu
Giring. Ketokohannya cukup akrab di telinga masyarakat Desa Sodo
Kecamatan Paliyan Kabupaten Gunungkidul. Pada pentas-pentas seni
pertunjukan kethoprak, kisah tokoh Rara Lembayung tersebut sering
dimainkan dan menjadi adegan klimaks yang mengharu-biru.
Juru
Kunci Makam Ki Ageng Giring III, Yusuf Fajarudin saat ditemui di
komplek makam pada Senin (23/4/18) berkisah tentang perjalanan hidup
Rara Lembayung Niken Purwasari. Disebutkan, atas nasehat kakak ipar
sekaligus penasihat Ki Ageng Pemanahan yaitu Ki Juru Mertani, agar kuat
dalam meneruskan tampuk kekuasaan Kasultanan Mataram, maka Ki Ageng
Pemanahan harus bergabung atau menyatu dengan Ki Ageng Giring III.
“Memang
benar yang meminum degan (air kelapa muda) “Gagak Emprit” lambang wahyu
keraton ialah Ki Ageng Pemanahan, tetapi yang menemukan atau
mendapatkannya Ki Ageng Giring III. Maka Ki Ageng Pemanahan menuruti
nasehat Ki Juru Martani,” ujar lelaki berjuluk Mas Bekel Anom Surakso
Fajarudin ini.
Maka,
dijodohkanlah Suta Wijaya sang penerus pemimpin Mataram anak dari Ki
Ageng Pemanahan yang di kemudian waktu dikenal sebagai Panembahan
Senapati dengan Rara Lembayung anak Ki Ageng Giring III. Disebutkan,
meski disebutkan diperistri oleh Panembahan Senapati, akan tetapi
Kanjeng Ratu Giring tak tinggal di lingkungan keraton.
Yusuf
Fajarudin menyebutkan, Rara Lembayung memang istri tertua, tetapi bukan
merupakan istri permaisuri dari Panembahan Senapati yang menjadi Raja
Mataram yang berkuasa dari 1575-1603. Singkat cerita, Rara Lembayung
mengandung bayi dari Sutawijaya dan lahir anak laki-laki yang diberi
nama Jaka Umbaran.
Dalam
penuturan Yusuf Fajarudin, tak diketahui apa alasan Panembahan Senapati
menghendaki dan meminta kepada Rara Lembayung agar kelak ketika si bayi
lahir tidak boleh diberitahu mengenai siapa ayahnya. Sebagai seorang
istri yang patuh Rara Lembayung menyanggupinya.
Disebutkan
kemudian, anak Rara Lembayung yang diberi nama Jaka Umbaran tumbuh dan
beranjak dewasa bersama ibu dan keluarga kakeknya Ki Ageng Giring III.
Pada suatu hari, anak yang beranjak dewasa tersebut menanyakan kepada
sang ibu, mengenai siapakah ayahnya. Akhirnya, Rara Lembayung tak sampai
hati ketika Jaka Umbaran ingin mengetahui perihal tersebut.
Dalam
versi cerita lain disebutkan, bahwa pengakuan Rara Lembayung mengenai
siapa ayah Jaka Umbaran itu hanya disampaikan melalui pasemon
(kiasan-kiasan petunjuk). Tidak secara langsung menyebut nama sang ayah.
Petunjuk tersebut menyebutkan, bahwa ayah Jaka Umbaran ialah pemilik
alun-alun atau tanah yang sangat luas di pusat kerajaan.
Kemudian,
berangkatlah Jaka Umbaran mencari tahu pemilik tanah yang luas itu.
Sesampainya di kawasan alun-alun pusat kerajaan, dirinya kesulitan
mendapat akses masuk untuk mencari tahu ke dalam keraton. Maka ia
mempunyai siasat, Jaka Umbaran berbuat onar.
Setelah
berbuat onar, ia ditangkap dan menyampaikan niatnya hendak menemui
ayahnya pemilik alun-alun yang luas. Lantas dirinya pun dikirim ke ruang
Keraton Mataram. Di hadapan raja yang tak lain ayahnya sendiri, Jaka
Umbaran menyampaikan asal usul dirinya.
Mendengar
cerita Jaka Umbaran, Panembahan Senapati sadar, bahwa yang berada di
hadapannya ialah keturunannya. Dirinya kecewa kepada Rara Lembayung yang
telah mengingkari janji. Lantas Panembahan Senapati menyampaikan
syarat, Jaka Umbaran akan diakui sebagai anak setelah syarat yang
diminta terpenuhi.
“Jaka
Umbaran diberi keris tanpa warangka (sarung). Dirinya diperintah
Panembahan Senapati untuk mencari sarung keris tersebut berupa kayu
cendhana sari bergaris putih,” tutur Yusuf Fajarudin.
Selanjutnya,
kembalilah Jaka Umbaran ke kediaman ibunya. Setiba di rumah ia lantas
menyampaikan permintaan Panembahan Senapati. Seketika itu pula Rara
Lembayung sadar bahwa Panembahan Senapati tidak suka atas tindakannya
yang telah ingkar janji. Rara Lembayung tidak mau hidup dihantui rasa
malu. Ia hanya berkeinginan agar kelak dikemudian hari, anaknya mendapat
pengakuan sebagai putra raja.
Dalam
sekejap Rara Lembayung menabrakkan tubuhnya ke keris yang masih
dipegang anaknya. Keris menghunjam tubuhnya. Rara Lembayung atau Kanjeng
Ratu Giring meninggal dunia. Ia mendahului ayahnya Ki Ageng Giring III
ke alam kelanggengan.
Menurut
uraian juru kunci, Jaka Umbaran tidak menyadari bahwa syarat yang
diminta Panembahan Senapati adalah kematian ibunya. Kematian sang ibu
itu menyadarkan Umbaran, bahwa yang dimaksud sarung keris kayu cendhana
sari bergaris putih tak lain justru sang ibunya, perempuan yang telah
melahirkan dirinya.
Takdir
telah tergaris. Jaka Umbaran kemudian kembali ke Keraton Mataram. Ia
diangkat menjadi senapati memerangi para musuh Panembahan Senapati.
Disebutkan kemudian, ia diberi gelar sebagai Pangeran Purbaya yang
berjuluk Banteng Mataram.
Masyarakat
lokal khususnya di Desa Sodo sangat mengagumi tokoh Rara Lembayung atau
Kanjeng Ratu Giring. Ia dipandang sebagai seorang perempuan yang rela
berkorban, rela mati demi kemuliaan anaknya.
Pintu gerbang memasuki kompleks makam Ki Ageng Giring III di Desa Sodo Paliyan. KH/Kandar.
Makam
Kanjeng Ratu Giring berada di sebelah timur makam Ki Ageng Giring.
Masyarakat yang berziarah selain berdoa di pusara Ki Ageng Giring,
sebagian juga menyempatkan berdoa di dekat batu nisan makamnya. Tidak
sedikit yang hadir sengaja langsung menuju ke makam tanpa cungkup
(bangunan beratap sebagai pelindung) itu. Tak hanya warga lokal, warga
manca juga banyak yang mengunjunginya.
Yusuf
Fajarudin menyebutkan, juru kunci makam yang pertama kali adalah Madio
Kromo Sutoreko, kemudian dilanjutkan generasi setelahnya, Surakso Sedono
dan Imam Musdi pernah membangun cungkup. Namun, ketika sore hari
selesai dibangun, esok hari bangunan cungkup bergeser. Begitu
seterusnya.
Kemudian
salah satu dari juru kunci mendapat petunjuk, bahwa Kanjeng Ratu Giring
tidak bersedia dibangun cungkup di pusaranya. Berdasar sasmita atau
petunjuk yang diterima pula, ia tidak mau lantaran masih merasa prihatin
dengan kondisi anak cucunya. Dalam sasmita tersebut, Kanjeng Ratu
Giring menegaskan dirinya tidak takut panas dan hujan.
Yusuf
Fajarudin menerangkan, untuk berkunjung ke makam Kanjeng Ratu Giring,
ada jenis sajen khusus. Sajen khusus berupa kinang dadi (uba rampe
kunyahan daun sirih) dan daun mawar putih. Kemudian bagi perempuan tidak
boleh memasuki kawasan makam jika sedang datang bulan.
Ada
adat kebiasaan sehari-hari yang masih dipegang warga Desa Sodo dan
sekitarnya yang erat kaitannya dengan Kanjeng Ratu Giring. Ketika
menyebut daun lembayung, mereka mengganti sebutan dengan daun kacang.
Nama ‘Lembayung’ disakralkan oleh masyarakat setempat secara
turun-temurun.
“Misalnya
jika hendak bilang, mau memasak sayur daun mbayung, maka diganti mau
memasak daun kacang. Seperti itu sudah sejak zaman dahulu,” imbuh lelaki
ramah ini.
Hal
lain yang disampaikan Yusuf Fajarudin yakni terkait keberadaan makam
Nyi Ageng Giring III. Hingga saat ini pusara peristirahatan Nyi Ageng
Giring III tidak ditunjukkan keberadannya. Hanya juru kunci secara turun
temurun saja yang mengetahui, mereka tidak diperkenankan menunjukkan
atau menginformasikan ke siapapun. Hal tersebut merupakan rahasia
estafet yang belum diketahui akan dibuka sampai kapan.
“Saya juga tahu letaknya namun tidak berani menyampaikan. Tidak tahu sampai kapan rahasia ini dibuka,” tukas Yusuf.