Tuesday, June 9, 2026

Memerdekakan Sejarah Indonesia dari Yamansentrisme dan Eurosentrisme

HARTABUTA :

Senin, 9-6-2026 M. 

Sumber : 

WAG Siroh Wali Songo. 

Topik :

Inferisasi Nusantara Kini NKRI Pancasila Lewat Gerakan Tarimisaai Hadlromisasi Ba'Alawyy. 

Artikel :

[9/6 13.21] +62 819-: 

Memerdekakan Sejarah Indonesia dari Yamansentrisme dan Eurosentrisme


Oleh : Firman Syah Ali


Sejak kecil kita mempelajari sejarah para pemikir besar yang membentuk peradaban dunia, seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Phytagoras, Tales, Herodotus dan lain-lainnya. Nama-bama besar itu berasal dari Yunani semua. Berasal dari abad ke-5 hingga ke-4 Sebelum Masehi semua.


Padahal jauh sebelum abad ke-5 dan ke-4 SM, bangsa-bangsa di luar Yunani sudah berperadaban raksasa dan melahirkan banyak ilmuwan hebat.


Tiongkok saat itu sedang berada dalam era Seratus Aliran Pemikiran, di mana filsafat, sains dan strategi militer berkembang pesat. Nama Mozi, Sun Zu, Zou Yan, Gongshu Ban dan lainnya telah memberikan kontribusi besar terhadap peradaban dunia. 


India pada abad tersebut merupakan pusat pembelajaran sains, terutama kedokteran, sehingga muncul nama-nama Panini, Chanakya, Jivaka, dan lain-lainnya.


Persia saat itu menguasai hampir seluruh wilayah pusat peradaba dunia kuno mulai dari Balkan hingga Mesir. Negarawan dan ilmuwan juga banyak muncul pada abad tersebut. 


Tapi kenapa yang selalu muncul dalam historiografi hanya Socrates, Plato, Aristoteles dan lain-lainnya?


Kenapa juga ketika sejarah dunia membahas tentang Abad Kegelapan (Abad 5-10 M), kok merujuk pada Abad Kegelapan Eropa Barat Laut? Sedangkan kawasan dunia lainnya saat itu sangat tidak gelap, malah terang benderang, sebut saja  Abbasiyah Baghdad, Umayyah Spanyol, Fathimiyah Cairo, Tang dan Song di Tiongkok, Byzantium di Konstantinopel, serta Sriwijaya dan Medang di Nusantara. Sangat tidak adil kalau abad 5-10 disebut abad kegelapan, sebab saat itu dunia sama sekali tidak gelap. Hanya eropa barat laut yang gelap gulita.


HISTORIOGRAFI EUROSENTRISME DALAM RANGKA KOLONIALISME


Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas adalah karena pemimpin peradaban dunia saat ini adalah kaum Eropa Barat Laut beserta keturunannya. Eropa Barat Laut yang terdiri dari Inggris, Perancis, Jerman, Benelux, Skandinavia dan Islandia adalah bangsa-bangsa serumpun sesama Jermanik atau Nordic. Mereka memimpin peradaban dunia pada abad 18-19. Waktu itu imperialisme dan kolonialisme mereka mencapai puncak. Sejarahpun mereka tulis ulang sesuai dengan kepentingan imperialisme dan kolonialisme. Inilah yang kemudian melahirkan apa yang kita sebut sebagai Historiografi Eurosentrisme. 


Historiografi Eurosentrisme adalah  paradigma atau metode penulisan sejarah yang menempatkan Eropa Barat Laut (beserta nenek moyang dan keturunanya) sebagai pusat, standar, dan titik acuan utama dalam memahami sejarah dunia. Dalam sudut pandang ini, sejarah manusia sering kali dilihat sebagai narasi kemajuan yang berpusat pada perkembangan peradaban, nilai-nilai, dan institusi Eropa. Sedangkan bangsa lain dilenyapkan dari historiografi.


YAMANSENTRISME


Bangsa kita yang pernah dijajah oleh kaum Eropa Barat Laut tidak luput dari demam Historiografi Eurosentrisme, terutama 

dalam penulisan sejarah dunia. Kemudian menjadi ironi ketika ternyata bukan hanya eurosentrisme yang melanda negeri kita, tapi juga Yamansentrisme, terutama terkait historiografi nusantara Abad 14-16. 


Yamansentrisme Indonesia merujuk pada kecenderungan naratif yang menempatkan wilayah Hadhramaut (Yaman) sebagai episentrum utama asal-usul silsilah (nasab) dan transmisi intelektual Islam di Nusantara pada abad ke-14 hingga ke-15. Semua ini dalam kerangka legitimasi.


Seringkali terjadi usaha untuk menarik silsilah tokoh-tokoh besar Nusantara agar "tersambung" ke figur tertentu di Hadhramaut, meskipun bukti tertulisnya lemah atau bersifat spekulatif (anachronism). 


Narasi sejarah sering kali dibuat "berlebihan" (hyperbolic) untuk mengangkat martabat tokoh tertentu, sehingga mengaburkan peran tokoh-tokoh lokal atau pribumi yang sebenarnya lebih sentral dalam proses dakwah atau pembangunan peradaban.


Sentimen kesucian nasabpun kerap digunakan untuk membungkam kritik. Jika seseorang mengkritik tindakan seorang tokoh yang kebetulan memiliki nasab tertentu, ia sering dituduh "membenci dzurriyah" atau "tidak beradab". Ini adalah bentuk demagogi yang efektif untuk mematikan nalar kritis di ruang publik.


Nalar sejarahpun digantikan oleh narasi "silsilah suci dan karomah" yang tidak terverifikasi.  


Selanjutnya sejarah berubah menjadi mitologi. Dampak mitologi adalah langgengnya budaya kultus individu yang menghambat rasionalitas. Masyarakat sulit diajak berpikir rasional terkait inovasi atau perubahan yang membutuhkan bukti nyata, bukan sekadar cerita pengantar tidur tentang silsilah, karomah dan barokah.


REBUT NARASI


​Jika historiografi kita dikuasai narasi asing secara eksklusif, yang terjadi adalah krisis identitas kolektif. Bangsa yang mengalami krisis identitas akan mudah dipecah-belah, mudah diatur oleh kepentingan luar, dan kehilangan rasa percaya diri sebagai sebuah peradaban.

​Di dunia ini banyak bangsa besar yang kini tenggelam digilas sejarah, seperti bangsa Kurdi, Asyur, Kasdim, Aram, Basque, Hun dan lain-lainnya. Mereka adalah bangsa-bangsa yang tidak lagi punya narasi tentang dari mana mereka dan ke mana akan pergi.


Kita tidak bisa menjadi seperti bangsa-bangsa itu, narasi harus kita rebut. Jangan biarkan gen Z mewarisi historiografi eurosentrisme dan yamansentrisme, serta kehilangan historiografi asli nusantara.

[9/6 18.22] +62 881-: 

Leluhur2 kita memberikan tempat kpd mrk, mnghormati & memulikan mrk maka kita pun ikuti Leluhur kita demikian,kbaikan Leluhur2 kita banyak Bani Alawi Muda tdk paham,namun mreka jangan ikut memanipulasi sejarah Bangsa kita,& mnggunakan Nasab mrk untuk memperbudak Rakyat Pribumi & melebih2kan Leluhur2 mrk punya banyak Karomah shingga Indonesia jadi Makmur padahal di Yaman 18 juta kelaparan 🥹& jangan membodohi Ummat Islam di Indonesia bahwa mrk yg mengislamkan Indonesia & memperjuangkan Kmerdekaan serta hanya cocoklogi sejarah bahwa mrk bagian dr Nasab WaliSongo untuk Legimitasi pngaruh mrk terhadap Rakyat Pribumi,maka Kemunculan Kh Imad memberikan Pencerahan untuk Bangsa tanpa kita harus mgusir mereka karena Leluhur kita telah ikhlas Bumi Allah SWT yg Luas mrk diperbolehkan tinggal di Bumi Pertiwi & Bani Alawi harus Intropeksi akhlak mreka apa sesuai dgn Akhlak Nabi Muhammad SAW 🕋👳🏻🇲🇨


و الحمد للّه ربّ العالمين

صلّى اللّه على محمّد

0 comments:

Post a Comment