HARTABUTA :
Rabu, 25-3-2026 M.
Sumber :
https://web.facebook.com/share/p/1FJdsD1btP/
LELAKON JIPANG
Urat Nadi Perjuangan Pangeran Mangkubumi
Oleh : Temmy Wirawan Suryo Diwongso
Jipang sebagai Poros Strategis Mangkubumi
Pecinta sejarah, perjalanan kali ini kita menuju Kadipaten Jipang. Bagi Pangeran Mangkubumi (kelak Sri Sultan Hamengkubuwono I), Jipang bukan sekadar titik di peta. Wilayah yang membentang dari Blora hingga Bojonegoro ini adalah "Benteng Logistik dan Kunci Gerbang Timur". Posisi Jipang sangat vital karena menguasai aliran Bengawan Solo—"jalan tol" ekonomi abad ke-18—serta memiliki hutan jati yang melimpah sebagai modal perang. Menguasai Jipang berarti memutus napas finansial VOC di pesisir utara dan menjamin perut ribuan prajurit gerilya Mataram tetap kenyang.
Selain itu dalam peta pertempuran, wilayah Jipang memiliki topografi yang sulit bagi tentara Eropa yang terbiasa bertempur di lapangan terbuka. Seperti yang tertulis di naskah Babad Giyanti(wana Sambèng), hutan Jipang sangat lebat. Ini menjadi tempat persembunyian sempurna bagi Mangkubumi, dengan harapan Jendral Hogendorp dan pasukan bayarannya (Bugis/Bali) sangat mudah terjebak dalam perangkap di rawa-rawa dan hutan Jipang karena mereka tidak menguasai medan sefasih pasukan lokal.
Teks Babad: Pangeran Mangkubumi anggêbag Mataram, botên angsal damêl lajêng mangalèr, nêluk-nêlukakên, dumugi Grobogan, Blora, Jipang. (Hal. 134)
Terjemahan: Pangeran Mangkubumi menyerang Mataram, namun tidak membuahkan hasil, kemudian menuju ke utara, menaklukkan wilayah-wilayah hingga sampai ke Grobogan, Blora, dan Jipang.
Kehancuran Pasukan Gabungan Hogendorp
Mengetahui pentingnya Jipang, Gubernur Hogendorp (Hondhorop) dari Semarang mengirimkan pasukan besar. VOC tidak hanya mengirim serdadu Eropa, tetapi juga menyewa ratusan tentara bayaran tangguh dari etnis Bugis dan Bali. Namun, mereka meremehkan medan Jipang yang penuh rawa dan hutan lebat. Di bawah kepemimpinan Mangkubumi, pasukan multinasional VOC ini tumpas. Sejarah mencatat kekalahan memalukan ini sebagai bukti keunggulan taktik gerilya Mangkubumi atas kekuatan kolonial.
Teks Babad: tuwan gupnur wus miyarsa warti | prang ing Jipang Kumpêni tumpêsan | ingkang kapupu cacahe | Bugis Bali rongatus | Kumpênine putih mung kalih (Hal. 145)
Terjemahan: Tuan Gubernur telah mendengar berita, perang di Jipang pasukan Kompeni tumpas... Dua ratus prajurit Bugis dan Bali (pihak VOC) tewas, sementara orang Belanda kulit putih hanya tersisa dua orang.
Tragedi Keserakahan Surodimenggolo
Di tengah posisi Jipang yang sangat sakral bagi perjuangan, sebuah noktah hitam muncul dari dalam. Tumenggung Surodimenggolo, seorang panglima yang telah lama setia menemani Mangkubumi bergerilya di hutan, justru meminta imbalan berupa tambahan tanah jabatan (sawah). Bagi Mangkubumi, permintaan ini adalah penghinaan terhadap nilai perjuangan. Jipang adalah aset negara untuk modal perang, bukan untuk memperkaya pejabat. Dengan ketegasan seorang raja, Surodimenggolo dijatuhi hukuman mati.
Teks Babad: Tumenggung Suradimenggala ing Jipang ambeka nyuwun dipun indhaki sabinipun. Sunan Kabanaran duka. Kyai Tumenggung kapatrapan ukum pejah. (Hal. 862)
Terjemahan: Tumenggung Surodimenggolo di Jipang bertingkah dengan meminta ditambah luas sawah miliknya. Sunan Kabanaran (Mangkubumi) marah. Kyai Tumenggung dijatuhi hukuman mati.
____________________
Kenapa Pangeran Mangkubumi mengambil keputusan yang tegas?, karena Secara historis, Jipang memiliki "marwah" politik yang besar sejak zaman Arya Penangsang. Dalam budaya politik Jawa, penguasaan atas Jipang memberikan legitimasi bahwa sang pemimpin memiliki pengaruh kuat di wilayah mancanegara wetan (wilayah luar di sebelah timur). Dan inilah alasan mengapa Mangkubumi begitu marah ketika Surodimenggolo meminta tambahan tanah. Bagi Mangkubumi, Jipang adalah aset negara yang suci untuk modal perang, bukan untuk kepentingan pribadi pejabatnya.
Pengukuhan Wilatikta di Blora
Kemenangan strategis di Jipang ini turut mengukuhkan posisi para bupati setia di wilayah sekitarnya. Salah satu yang menonjol adalah Tumenggung Wilatikta di Blora. Wilatikta berdiri sebagai benteng pendukung di sisi utara Jipang, bertugas membendung pengaruh VOC yang mencoba merangsek masuk dari arah Rembang dan Jepara. Keberadaan Wilatikta memastikan stabilitas di wilayah Mancanegara Wetan tetap terjaga dalam kendali Mangkubumi.
Teks Babad ( Wilatikta): Halaman 137
pêpak andhèr sagunging bupati | Pangran Tumênggung Gadamastaka | ugi anunggil barise | mêntas andon anglurug | bêdhah ingkang Balora nagri | Tumênggung Wilatikta | Balora wus ngumpul | Suranata awêwarta | yèn pangeran masanggrahan Pêlêm dèsi | wusnya rêrêp watara ||
terjemahan: Lengkap berkumpul semua bupati; Pangeran Tumenggung Gadamastaka juga bergabung dalam barisan pasukan. Ia baru saja melakukan penyerangan dan berhasil menaklukkan negeri Blora. Tumenggung Wilatikta dari Blora pun sudah ikut berkumpul. Suranata memberi kabar bahwa Pangeran (Mangkubumi) sedang berkemah di Desa Pelem; setelah beristirahat sejenak di sana.
________________
Teks Babad (Wilatikta): Halaman 145
Suryanagara Pugêr Dipati | lawan Tumênggung Rêksanagara | Samadipura malihe | Wilatikta Tumênggung | Natasingron Kartanagari |
Terjemahan: Adipati Suryanagara Puger, bersama Tumenggung Reksanagara, Samadipura juga, serta Tumenggung Wilatikta, Natasingron, dan Kartanagari.
_________________
Teks Babad (Wilatikta): Dyan Tumênggung Wilatikta | ing Balora lawan malih | Ngabèi Selanagara | ing Sêsela kang palinggih | bupati ing pasisir | Dêmak Pangeran Tumênggung | Gadamêstaka lawan | Suranata Adipati | Dyan Tumênggung Jipang Suradimanggala || (Hal. 168)
Terjemahan : Raden Tumenggung Wilatikta di Blora, dan juga Ngabehi Selanagara yang berkedudukan di Sesela. Para bupati di pesisir: Pangeran Tumenggung Demak, Gadamastaka, serta Adipati Suranata, dan Raden Tumenggung Jipang, Suradimanggala.
(Catatan: Halaman ini berisi daftar nama-nama pemimpin/bupati yang tergabung dalam koalisi pasukan Mangkubumi).
Pembagian Wilayah dan Reorganisasi
Setelah eksekusi tersebut, Mangkubumi melakukan langkah politik jenius untuk mencegah lahirnya "raja kecil" di Jipang. Ia membagi wilayah Jipang menjadi dua kekuatan yang saling menopang. Tumenggung Natapura dan Kartasari (yang kemudian menyandang gelar Tumenggung Mataun) diangkat untuk memimpin masing-masing separuh wilayah. Pembagian ini bertujuan menjaga stabilitas keamanan dan memastikan Jipang tetap menjadi benteng yang tak tertembus VOC.
Teks Babad (Pembagian Jipang): Si Jipang mêngko sun paro, Si Tumênggung Natapura, Si Kartasari iya, nama Tumênggung Mataun. (Hal. 1372)
Terjemahan: Wilayah Jipang sekarang aku bagi dua; untuk Si Tumenggung Natapura dan Si Kartasari yang juga menyandang nama Tumenggung Mataun.
________________
Pangeran Mangkubumi memandang Jipang terlalu kuat jika dipimpin satu orang. Dengan membaginya, beliau memastikan tidak ada "Raja Kecil" di Jipang yang bisa memberontak padanya.
Dengan mengangkat dua bupati berarti mencoptakan dua markas komando yang saling menopang untuk menjepit pasukan VOC jika mereka berani masuk lagi melalui jalur darat atau sungai, satu di Padangan dan yang satu lagi di Panolan.
Kesimpulan:
Tegasnya Takhta di Ujung Keris Jipang
Kisah pertempuran Jipang bukan sekadar catatan kemenangan militer Pangeran Mangkubumi atas Gubernur Hogendorp, melainkan sebuah manifestasi keras dari prinsip kepemimpinan Jawa: bahwa kesetiaan tanpa pamrih adalah harga mati, dan ketamakan harta di tengah perjuangan—sebagaimana nasib tragis Tumenggung Surodimenggolo—hanya akan berakhir di ujung hukuman. Dengan membelah Jipang untuk Natapura dan Mataun, serta mengukuhkan kekuasaan Wilatikta di Blora, Mangkubumi tidak hanya menata geografi kekuasaan, tetapi juga memahat pondasi bagi lahirnya kedaulatan besar yang kelak dikenal sebagai Kesultanan Yogyakarta.
Semoga bermanfaat
Daftar Pustaka :
- Sumber Primer: Babad Giyanti (Naskah Kuno), koleksi digital Internet Archive / Wayback Machine.
- Referensi Historis: Ricklefs, M.C. (1974). Jogjakarta under Sultan Mangkubumi 1749-1792: A History of the Division of Java. Oxford University Press.
Salam Sejarah
Salam Jaga Budaya






0 comments:
Post a Comment