Tuesday, February 3, 2026

Mix 19-1-26--4-2-26

HARTABUTA :

Rabu, 4-2-2026 M.  

https://www.facebook.com/share/p/1TWLFXRyRE/

SILSILAH RAJA RAJA DI NUSANTARA SEMUANYA MEMPUNYAI HUBUNGAN KEKERABATAN DARI TANJUNG PURI, KUTAI, CHAMPA, SALAKANAGARA, TARUMANAGARA, SRIWIJAYA,MEDANG, DHARMASRAYA, PAGARUYUNG, SINGASARI, MAJAPAHIT, TEMASIK, MALAKA, JOHOR, PERAK, PAHANG, RIAU LINGGA, SIAK DLL 


Mahasenopati Pushwamitra pendiri dinasti Sungga di kerajaan Maghada, India. Mempunyai putra bernama Agnimitra yang membangun kota Wisida, mempunyai putra bernama Wasuma Mitra mempunyai putra bernama Mitrongga yang menetap di Kalimantan Selatan kerajaan Tanjung Puri Banua 5 , Mitrongga mempunyai putra bernama Atwangga dan Atwangga mempunyai dua putra bernama Kundungga (pergi ke Kaltim mendirikan kerajaan Kutai pada abad ke 4) dan adiknya bernama Rajendra Warman (pergi ke Vietnam Selatan mendirikan kerajaan champa pada abad ke 4). 


Kundungga mempunyai putri yang bernama Dewi Gari yang kemudian dinikahkan dengan putra dari Prabu Dharmawirya raja Salakanagara yang bernama Asmawarman, kemudian Asmawarman diangkat menjadi Raja di Kutai Martapura menggantikan mertuanya kundungga. Asmawarman mempunyai adik bernama Dewi Minawati yang dinikahi oleh Jayasinga Warman raja Tarumanagara.


Raja Kutai Asmawarman mempunyai 2 orang Putra yaitu Mulawarman yg kemudian naik tahta jadi Raja Kutai menggantikan ayahnya Asmawarman. Putra kedua Asmawarman atau adiknya Mulawarman yang bernama Wamsejenjat menikahi Putri kerajaan Champa dan kemudian Wamsejenjat naik tahta jadi raja Champa dengan gelar Maharaja Dijayawarman.

Dari Maharaja Dijayawarman inilah lahir Dapunta Hiyang Srijayanasa pendiri kerajaan Sriwijaya pada abad ke 7 dan Dapunta Hiyang Srijayanasa menurunkan Dharma Setu.


Dharma Setu mempunyai putri bernama Dewi Tara yang menikah dengan Samaragrawira dari Kerajaan Medang Jawa yang kemudian melahirkan Balaputra Dewa yang menjadi raja di Sriwijaya dari dinasti Syailendra.


Keturunan Dapunta Hiyang Srijayanasa yang bernama Sang Maniaka pada tahun 700 Masehi pergi ke Kalimantan Barat mendirikan kerajaan Tanjung Pura dan Wijaya Pura (Sambas).


Keturunan Dapunta Hiyang Srijayanasa yang lain yang bernama Trilokyarala Maulibhusana Warmadewa pada abad ke 12 mendirikan kerajaan Dharmasraya di bekas kerajaan Malayu di Jambi yang dulu tahun 686 ditaklukkan oleh Sriwijaya, kemudian, kemudian ibukota kerajaan Dharmasraya dipindahkan ke kabupaten Dharmasraya Sumbar oleh Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa yang mempunyai putri  bernama Dara Jingga yang kemudian dibawa ke Jawa dinikahi oleh putra mahkota Singasari bernama Raden Wijaya pendiri Majapahit.

Dari pernikahan Dara Jingga dan Raden Wijaya melahirkan putra bernama Adityawarman yang kemudian kembali ke Dharmasraya bersama ibunya kemudian abad ke 14 Adityawarman mendirikan kerajaan Pagaruyung di Tanah Datar Sumbar. 


Keturunan Dapunta Hiyang Srijayanasa bernama Sang Nila Utama mendirikan kerajaan Temasik (Singapura) pada abad ke 13 Masehi. Kemudian Prameswara mendirikan kerajaan Malaka pada abad ke 15 Masehi di semenanjung.Putra Raja Malaka yang bernama  Sultan Muhammad Shah mendirikan kerajaan Pahang pada tahun 1470an.

Putra raja Malaka yang terakhir yang bernama Sultan Alauddin Riayat Shah II pada tahun 1528 mendirikan kesultanan Johor. Dan adiknya yang bernama Raja Muzaffar Shah  mendirikan Kesultanan Perak di tahun yang sama 1528.


pada tahun 1723 Raja Kecik (Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah), putra dari Sultan Mahmud Syah dari Johor mendirikan kerajaan Siak Sri Indrapura setelah memisahkan diri dari Kesultanan Johor. 


Pada tahun 1824 terjadi pembagian wilayah kolonial oleh Belanda dan Inggris, di mana wilayah semenanjung dikuasai oleh Inggris dan wilayah Riau dan Kepulauan Riau dikuasai oleh Belanda, sehingga kerajaan Johor yg wilayahnya dari semenanjung hingga Riau dan Kepulauan Riau terpecah menjadi dua, sehingga berdirilah Kesultanan Riau Lingga yg dipimpin oleh  Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah putra dari Sultan Johor yaitu Sultan Mahmud Syah III.


Semua kerajaan dalam bagan silsilah di bawah ini, bahasanya mirip mirip dengan bahasa Banjar karena akarnya memang dari Kalimantan Selatan.

Oleh Andin Banjar

[21/1 08.50] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/p/186172FVU6/


Kyai Hasan Besari, Gurunya Para Raja Hingga Rakyat Jelata


Memasuki makam Kyai Ageng Hasan Besari nampak pintu besar menghalang-halangi. Setiap hari-hari tertentu pintu tersebut ditutup. Di dalamnya terdapat dua kuburan. Pada batu nisannya menempel dua buah papan bertuliskan Jawa Kuno. Kata juru kunci, makam yang satu adalah Kyai Hasan Besari, satunya isterinya.


Pada dinding-dinding makam terbentang kain kafan mengelilinginya. Lantainya berbahan keramik, buatan modern. Pun kuncup makam telah direnovasi dengan batu marmer. Arsiteknya pastilah seorang amatiran sebab bangunannya terkesan biasa-biasa saja, tiada menonjolkan suatu maha karya besar. Setiap malam-malam tertentu makam tersebut sering didatangi keturunan Kyai Hasan Besari guna melakukan doa bersama.


Tak jauh dari makam terdapat sebuah masjid. Masjid tersebut konon pernah digunakan Kyai Ageng menyebarkan ilmunya. Peninggalan Kyai Ageng yang masih terlihat adalah Pondok Tegalsari.


Dalam sejarahnya, Pesantren Tegalsari pernah mengalami zaman keemasan berkat kealiman, kharisma, dan kepiawaian para kyai yang mengasuhnya. Ribuan santri datang menuntut ilmu di pondok ini.


Mereka berasal dari hampir seluruh tanah Jawa dan sekitarnya. Karena besarnya jumlah santri, seluruh desa menjadi pondok, bahkan pondokan para santri juga didirikan di desa-desa sekitar, misalnya Desa Jabung (Nglawu), Desa Bantengan, dan lain-lain. Jumlah santri yang begitu besar dan berasal dari berbagai daerah dan berbagai latar belakang itu menunjukkan kebesaran lembaga pendidikan ini.


Pakubuwono II dan HOS Cokroaminoto.

Dari tangan Kyai Ageng Hasan Besari telah lahir orang-orang besar, seperti Pakubuwono II atau Sunan Kumbul, Raden Ngabehi Ronggowarsito dan tokoh pergerakan nasional H.O.S Cokroaminoto.


Setelah Kyai Ageng Hasan Besari wafat, beliau digantikan oleh putra ketujuh yaitu Kyai Hasan Yahya. Namun pada pertengahan abad ke-19 atau pada generasi keempat keluarga Kyai Besari, Pesantren Tegalsari mulai surut. Jumlah santrinya kian menyusut. Walaupun demikian, banyak para santri dan anak cucunya yang mengembangkan agama Islam dengan mendirikan Pondok Pesantren di berbagai daerah di seluruh Nusantara.


Salah satu yang terbesar adalah Pondok Modern Darussalam Gontor yang terletak di wilayah kecamatan Mlarak. Pondok ini didirikan oleh tiga orang cucu Kyai Ageng Hasan Besari.


Terkait dengan berdirinya pondok pesantren Gontor, saat kepemimpinan dipegang Kyai Khalifah, ada seorang santri yang sangat menonjol dalam segala bidang. Namanya Sulaiman Jamaluddin. Karena kedekatannya dengan Kyai maka Sulaiman diangkat menjadi mantu bahkan dipercaya untuk mendirikan pesantren sendiri di Desa Gontor.


Pada saat itu Gontor sendiri masih merupakan hutan belantara yang jarang didatangi orang.


Hutan tersebut dikenal sebagai tempat persembunyian perampok, penjahat, penyamun dan pemabuk.


Jelasnya, tempat ini adalah tempat kotor dan sumber dari segala kotoran.


Dalam bahasa Jawa, tempat yang kotor disebut nggon kotor (tempat kotor), yang disingkat menjadi “gon-tor”.


Pesantren Tegalsari.

Di desa inilah Kyai Sulaiman Jamaluddin diberi amanat untuk merintis pondok pesantren seperti Tegalsari dengan bekal 40 santri. Pondok inilah yang menjadi cikal bakal dari Pondok Modern Gontor saat ini.


Sebenarnya ada banyak versi soal sosok Kyai Hasan Besari. Karena keterbatasan literatur, ulasan sosok Kyai Hasan Besari diambil dari sumber-sumber sesepuh di Desa Tegalsari yang masih hidup. Dari kumpulan cerita masyarakat bila diuraikan kisahnya menjadi demikian:


Pada abad ke-18, dua pemuda sedang melakukan perjalanan mencari seorang guru. Keduanya berjalan mengelilingi hampir separuh kepulauan nusantara. Sampailah keduanya di perkampungan penduduk di mana banyak ditumbuhi pepohonan kelapa. Saat terik mentari menjalar ke pori-pori kulit, seketika rasa haus mengakibatkan tenggorokan keduanya mengering.


Di desa tersebut mereka melihat pohon kepala menjulang ke atas beserta buah kelapanya yang ranum. Rasa haus dan lelah membuat kesadaran keduanya tersulut. Tanpa meminta ijin kepada ‘si empunya’ mereka segera mengambilnya. Pohon tersebut tidak dipanjat. Terlalu tinggi. Lagipula mereka tidak tahu cara memanjat kelapa.


Dengan bebatuan di samping mereka, keduanya melempari buah kelapa. Tak urung beberapa kali lemparan mereka meleset, mengena pun tidak menjatuhkan kelapa. Pada saat itu muncullah seorang lelaki tua dengan dandanannya layaknya petani. Rambutnya sudah ditumbuhi uban. Kulitnya keriput. Namun demikian, gerakannya masih gesit. Kepada kedua pemuda tadi, lelaki tua tersebut menegur:


“Wong kelopo kok disawat. Yo ora iso yo, Tole!” (Buah kelapa kok dilempari, ya tidak bisa yo, Nak).


“Maafkan kelancangan kami, Kek. Kami melakukannya karena haus dan kalau memanjat juga tidak tahu caranya,” kata seorang dari mereka.


“Caranya begini lho, Tole!”


Lelaki tua tersebut lalu menginjakkan kaki kanannya pada batang pohon. Dengan kaki tuanya pohon kelapa didorongnya hingga melengkung ke bawah.


“Sudah cepat ambil saja!” Serunya.


Kedua pemuda tertegun. Dengan hanya menggunakan satu kaki dia sanggup melenturkan pohon kelapa seperti melenturkan karet. Tentu dia bukan sembarang orang, melainkan seorang yang berilmu dan memiliki kesaktian. Kedua pemuda tersebut segera bersimpuh dan meminta dijadikan muridnya.


Singkat cerita, keduanya diterima oleh lelaki tua yang tidak diketahui namanya. Namun orang menyebutnya: Kyai Sopo Nyono.


Kedua pemuda haus ilmu itu kemudian diajari ilmu tingkat tinggi, hingga tibalah ajal Kyai Sopo Nyono. Sebelum pergi sang guru berpesan kepada kedua muridnya agar mendakwahkan ilmunya kepada masyarakat. Sepeninggal Kyai Sopo Nyono, kedua murid menyebarkan agama Islam hingga ke pelosok-pelosok desa.


Pintu masuk ke makam Kyai Hasan Besari di Desa Tegalsari.

Satu murid yang tidak diketahui namanya berdakwah dengan cara berkeliling. Sementara murid satunya yang belakangan diketahui adalah Hasan Besari berdakwah di daerah Ponorogo. Dengan warisan ilmu gurunya, seketika nama Hasan Besari mulai dikenal kalangan pemuka agama, cendekiawan, raja-raja, hingga rakyat jelata.


Tidak sedikit orang-orang dari penjuru Nusantara datang kepadanya untuk menimba ilmu. Beliau bukan saja pandai mengajar agama, melainkan juga mahir dalam ketatanegaraan, ahli strategi perang dan kesusastraan.


Dengan ilmu karomah–orang dulu menyebut kesaktian–yang dimiliki Hasan Besari, tak pelak semakin menumbuhkan keyakinan orang-orang bahwa Hasan Besari adalah orang besar.


Dalam waktu singkat Hasan Besari telah mendirikan pondok pesantren. Ribuan orang tak surut memadati pesantren Hasan Besari. Hingga suatu ketika terjadilah perselisihan antara Hasan Besari dengan Pakubuwono II.


Saat itu Sang Raja iri melihat pengaruh Hasan Besari sangat besar terhadap masyarakat. Saking besarnya sampai-sampai menimbulkan kekhawatiran terhadap kedudukannya sebagai raja.


Kebesaran nama Hasan Besari dinilai raja bakal meruntuhkan kekuasaannya. Memang, semenjak Hasan Besari berdakwah di Ponorogo, wilayah tersebut seakan-akan memiliki hukum dan perundang-undangan sendiri.


Bagi Sang Raja, Hasan Besari telah menodai kekuasaan kerajaan dengan menerapkan hukum sendiri. Sesuai titah baginda raja, para prajurit diutus untuk menangkap Hasan Besari. Diputuskan Hasan Besari diasingkan ke luar Jawa.


Namun ada sebuah keajaiban. Ketika Hasan Besari naik kapal, tiba-tiba kapal berhenti dengan sendiri. Meski layar telah dikembangkan, kapal itu tetap tidak bergerak. Diam di tempatnya seakan ada bongkahan batu raksasa telah menahan laju kapal. Sebaliknya manakala Hasan Besari diturunkan, kapal dapat melaju kencang.


Karena kurangnya keyakinan para prajurit terhadap nama besar Hasan Besari, hal ini dilakukan berkali-kali hingga membuat mereka menyerah dan membawa kembali tawanan ke hadapan Sang Raja.


Melihat kejadian di luar nalar ini, Pakubuwono II lantas mengutus prajuritnya menjebloskan Hasan Besari dalam tahanan. Selama dalam tahanan, setiap malam Hasan Besari selalu melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Suaranya sangat merdu sekali. Sampai-sampai hewan yang biasa melolong di malam hari seketika terdiam mendengarkan alunan Hasan Besari.


Dengan suara keemasannya pula, beliau mampu menggetarkan dinding-dinding istana. Seluruh kadipaten seakan ikut berdzikir mendengarkan suara Hasan Besari. Pepohonan dan dedaunan menari-nari. Angin barat, timur, selatan, utara telah dibuatnya membisu dalam keheningan malam.


Bahkan hati seorang putri raja tersayat-sayat mendengarkan lantunan Hasan Besari. Ia luluh. Air mata menetes dari kedalamannya dan meninggalkan beribu tanda tanya: siapakah pelantun ayat-ayat tersebut.


Tanpa mengetahui orangnya, sang putri rupanya telah jatuh hati terhadap Hasan Besari. Keinginannya ini kemudian disampaikan kepada ayahandanya. Namun keinginan putrinya ini sempat ditentang lantaran sang pelantun hanyalah seorang tahanan.


“Ayahanda, aku sangat menyukai sang pelantun. Bolehkah kiranya ayahanda menikahkan aku dengannya.”


“Anakku, dia itu hanya seorang tahanan, seorang pelawan hukum. Tidak sepatutnya kamu jatuh cinta kepadanya.”


“Kalau ayahanda tidak bersedia menikahkan aku dengannya, maka aku akan bunuh diri!” Ancam Sang Putri.


Karena tekad yang kuat, raja tak kuasa menolak keinginan anaknya. Ia pun mengabulkan permintaan anaknya untuk menikah dengan Hasan Besari.


Makam Kyai Hasan Besari.

Namun dalam Babad Perdikan Tegalsari diceritakan tentang latar belakang Pakubuwono II yang nyantri di Pondok Tegalsari. Pada suatu hari, tepatnya tanggal 30 Juni 1742, di Kerajaan Kartasura terjadi pemberontakan Cina yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi Susuhuhan Kuning, seorang Sunan keturunan Tionghoa.


Serbuan yang dilakukan oleh para pemberontak itu terjadi begitu cepat dan hebat sehingga Kartasura tidak siap menghadapinya. Karena itu Pakubuwono II bersama pengikutnya segera pergi dengan diam-diam meninggalkan Keraton menuju ke timur Gunung Lawu.


Dalam pelariannya itu dia sampai di desa Tegalsari. Di tengah kekhawatiran dan ketakutan dari kejaran pasukan Sunan Kuning itulah kemudian Pakubuwono II berserah diri kepada Kanjeng Kyai Hasan Besari.


Penguasa Kartasura ini selanjutnya menjadi santri dari Kyai wara` itu; dia ditempa dan dibimbing untuk selalu bertafakkur dan bermunajat kepada Allah, Penguasa dari segala penguasa di semesta alam.


Berkat keuletan dan kesungguhannya dalam beribadah dan berdoa serta berkat keikhlasan bimbingan dan doa Kyai Besari, Allah swt mengabulkan doa Pakubuwono II. Api pemberontakan akhirnya reda. Pakubuwono II kembali menduduki tahtanya. Sebagai balas budi, Sunan Pakubuwono II mengambil Kyai Hasan Besari menjadi menantunya.


Selama pernikahan antara Hasan Besari dan putri Pakubuwono II, terjadi banyak kejadian-kejadian ganjil di halaman istana.


Tersebutlah seorang patih juga paman sang putri yang memiliki kesaktian, merasa iri dengan kelebihan serta kedudukan Hasan Besari sebagai menantu raja. Maka, dengan ijin Pakubuwono II, Maha Patih ingin menguji kesaktian Hasan Besari.


Suatu hari dalam perjamuan makam malam, tiba-tiba maha patih berkelakar, “Aku sanggup menghidupkan ayam ini,” katanya menunjuk ayam panggang di depan meja makan. Dengan kesaktiannya, ayam tersebut dipegangnya dan tiba-tiba hidup lagi.


Hasan Besari tidak mau kalah. Ia ingin menghentikan kesombongan sang patih. Saat itu Hasan Besari melihat sebuah telur yang telah dimasak. Dipeganglah telur tersebut, dan atas ijin Allah, telur matang mendadak menetes dan keluarlah anak ayam. Kejadian ini bukan sekali saja.


Beberapa kali Hasan Besari ditantang sang patih mengadu kesaktian. Akan tetapi kesaktian yang dimiliki sang patih tiada apa-apanya dibanding karomah yang diberikan Allah kepada Hasan Besari.


Dalam setiap tantangan, Hasan Besari tidak pernah berkeinginan mengalahkan kesaktian Maha Patih. Yang beliau lakukan hanyalah mengimbangi. Tiada pula keinginan dari beliau untuk mencederai, mencelakakan maupun mengalahkan. Sebab meski Maha Patih orangnya angkuh dan sombong, beliau masih menganggap ia sebagai kerabatnya.


Pada jamuan makan berikutnya, sang patih dengan sombongnya mengajak Hasan Besari keluar istana menuju halaman kaputren. Di situ sang patih menantang Hasan Besari memanah.


Maha Patih mendapat giliran pertama. Ia memanah sebuah pohon besar. Dengan kesaktiannya, pohon besar tersebut terbelah menjadi dua. Melihat kesaktian itu, beberapa orang yang hadir di istana, termasuk raja bersorak-sorai. Maha Patih tidak saja membuat orang-orang bangga, tapi kesaktiannya dianggap mampu mengalahkan menantu raja.


Saat giliran Hasan Besari tiba. Beberapa orang saling berbisik meragukan kesaktian Hasan Besari. Mereka menganggap Hasan Besari adalah seorang penyihir, pembual, pemimpi, dan pesakitan yang gila karena berani menantang kesaktian patih kerajaan. Namun mereka tidak ingat dengan Allah, yang telah memberi Hasan Besari sebuah karomah.


Dengan kelebihannya itu Hasan Besari mampu menandingin kesaktian Maha Patih. Sewaktu melontarkan panah ke arah pohon, mata panah tidak mengenai pohon, hanya melewati. Pohon tidak terbelah seperti yang dilakukan Maha Patih. Beberapa orang kemudian melayangkan ejekan ke Hasan Besari. Dikiranya dia telah meleset.


Hasan Besari terdiam. Lalu dia berkata: “Lihatlah dedaunan pohon itu!” Serunya.


Pohon besar nan rindang tersebut memang tidak tumbang atau terbelah, tetapi semua daunnya berguguran ke tanah tanpa meninggalkan bekas apapun. Sehingga pohon itu lebih mirip pohon kering di padang tandus.


Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu sempat tertegun. Padahal panah beliau sama sekali tidak menyentuh pohon alias meleset, lalu mengapa dedaunan bisa terlepas dari ranting-rantingnya. Kalau bukan seorang yang berilmu tinggi, tentu tidak bakal sanggup melakukan hal seperti itu. Hasan Besari adalah orang hebat, orang besar, ulama sekaligus pemimpin. Dalam hati mereka mengakui kebesaran Hasan Besari.


Pada perkembangan selanjutnya, Hasan Besari memboyong isterinya ke Ponorogo. Sebagai catatan, semenjak putri Solo pindah ke Ponorogo, kala itu Ponorogo pernah mendapat julukan sebagai Kota Batik.


Maklum, waktu itu kesenian batik baru terbatas dalam lingkungan keraton. Dan ketika putri keraton Solo diperistri Hasan Basri, maka dibawalah kesenian batik keluar dari keraton menuju Ponorogo. Apalagi saat itu banyak keluarga kraton yang belajar di Pesantren Tegalsari. Tak heran jika kemudian para pemuda-pemudi yang dididik dalam lingkungan Pesantren kemudian menyumbangkan dharma batiknya dalam bidang-bidang kepamongan dan agama.


Daerah perbatikan lama yang sampai sekarang dapat dilihat ialah daerah Kauman yaitu Kepatihan Wetan sekarang. Dari sini kemudian meluas ke desa-desa seperti Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono dan Ngunut. Namun sekarang hampir-hampir tidak pernah ditemukan lagi jejak batik di Ponorogo. Sisa-sisa batik yang masih ada hanya berupa nama-nama jalan yang ada di sekitar Kelurahan Kertosari dan Patihan Wetan.


Sejak Hasan Besari mempersunting putri Keraton Solo, beliau mendapat sebutan Yang Mulia Kanjeng Kyai Hasan Bashari (Besari). Dan saat itu Desa Tegalsari menjadi desa merdeka atau perdikan, yaitu desa istimewa yang bebas dari segala kewajiban membayar pajak kepada kerajaan.

[21/1 16.01] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Pejuang Nasional Pangeran Singosari - prabowosubianto.com https://prabowosubianto.com/pejuang-nasional-pangeran-singosari/


Lewati ke konten



Search


Search



Home » Pojok Prabowo » Pejuang Nasional Pangeran Singosari


Pejuang Nasional Pangeran Singosari


Pojok Prabowo


Januari 4, 2024


11:49 pm


Foto: promediateknologi.id


Oleh: Prabowo Subianto [diambil dari Buku Kepemimpinan Militer 1: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto]


Siapa yang pernah tinggal di Magelang seperti saya, pasti mengetahui kisah perjuangan Pangeran Singosari. Ia tidak hanya seorang senopati perang dan pemimpin agama, tetapi juga seorang pemimpin pembangunan Magelang.


Pangeran Singosari atau dikenal sebagai Kyai Raden Santri, Putra Ki Ageng Pemanahan adalah keturunan Prabu Brawijaya Majapahit. Beliau juga merupakan saudara kandung Raden Sutawijaya atau sering dikenal dengan nama Panembahan Senopati yang menjadi raja Mataram Islam Pertama.


Baca Juga : Sun Tzu


Pangeran Singosari merupakan seorang bangsawan yang pernah ditugaskan menjadi senopati perang untuk menaklukkan kembali kadipaten-kadipaten yang ingin memisahkan diri dari Mataram Islam.


Pangeran Singosari juga pernah ditawari untuk menjadi adipati sebuah kadipaten setelah Panembahan Senopati menjadi Raja, tetapi beliau menolaknya. Karena niat dan semangat beliau yang kuat untuk menyebarkan agama Islam, Pangeran Singosari memilih untuk keluar dari keraton dan menumpas berandalan di Magelang.


Baca Juga : Foundation for Indonesia's Advancement: The Economic Foundation of President Joko Widodo [Economic Achievements]


Pangeran Singosari juga meninggalkan keluarganya lalu berkelana menuju tempat terpencil di daerah pegunungan hutan bambu arah barat Gunung Merapi, untuk menyebarluaskan agama Islam. Karena sikap dan perilakunya yang ramah dan membangun, masyarakat setempat menyambut baik kedatangan beliau.


Masyarakat setempat sangat kagum dan menghormati beliau. Sampai sekarang banyak masyarakat berziarah ke makam Kyai Raden Santri, karena jasa-jasa serta keistimewaan beliau dalam perkembangan ajaran Islam dan membangun masyarakat di Magelang.


Baca Juga : Whatever Your Political Leanings, We Can Still Work Together


Kisah beliau mengingatkan saya bahwa seorang pemimpin militer harus mampu mendapatkan dukungan dari rakyat. Ia harus mampu berbuat, memberi kebaikan yang berkesinambungan kepada rakyat tersebut. Tidak cukup hanya jago berperang dan menghancurkan musuh. Pemimpin militer yang efektif harus pandai membangun. Tidak mungkin rakyat mendukung seorang pemimpin militer, rela berkorban harta dan mungkin nyawa, jika tidak untuk kebaikannya sendiri.


< Previous


Next >



Prabowo Subianto


InstagramYoutubeX-twitterFacebookWikipedia-w


Artikel Terkait



Juni 12, 2025


Janji Presiden Ditepati



September 3, 2024


LEADERSHIP OF INDONESIAN NATIONAL LEADERS [RADEN PANJI MUHAMMAD NOER]



September 3, 2024


LEADERSHIP OF INDONESIAN NATIONAL LEADERS [USMAN AND HARUN]



September 3, 2024


LEADERSHIP OF INDONESIAN NATIONAL LEADERS [MAJOR TNI ELIAS DAAN MOGOT]



September 2, 2024


LEADERSHIP OF INDONESIAN NATIONAL LEADERS [BRIGADIER GENERAL TNI POSTHUMOUS SLAMET RIYADI]



September 2, 2024


LEADERSHIP OF INDONESIAN NATIONAL LEADERS [MARINE LIEUTENANT GENERAL TNI (RET.) ALI SADIKIN]


Baca Juga


Berita Update


Bridge Construction Remains a Connectivity Priority in ...Rabu, 21 Januari 2026


Pengerjaan Jembatan Tetap Jadi Prioritas Konektivitas d...Rabu, 21 Januari 2026


State-Funded Daily Wages Fuel Recovery as Cash-for-Work...Rabu, 21 Januari 2026


Pojok Update


Janji Presiden DitepatiKamis, 12 Juni 2025


LEADERSHIP OF INDONESIAN NATIONAL LEADERS [RADEN PANJI ...Selasa, 3 September 2024


LEADERSHIP OF INDONESIAN NATIONAL LEADERS [USMAN AND HA...Selasa, 3 September 2024


Populer


Indonesia Takes the Stage at WEF Davos 2026, Underscori...


Minggu, 18 Januari 2026


Indonesia’s Endless Horizons: The Consistency of Indo...


Minggu, 18 Januari 2026


Indonesia Endless Horizons: Konsistensi Diplomasi Indon...


Minggu, 18 Januari 2026


Indonesia Hadir di WEF Davos 2026, Pertegas Daya Saing ...


Minggu, 18 Januari 2026


#Hastag


No tags found.


Ayo Bergabung bersama


INDONESIA MAJU


Ambil Peran Menuju Indonesia Emas 2045



Facebook X-twitter Youtube Instagram Wikipedia-w


Email :


senopati@prabowosubianto.com


© Copyright 2026 Tim Senopati Hamdan Hamedan


Disclaimer


Terms Of Service


Privacy Policy

[23/1 08.32] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Kecamatan Candiroto, Temanggung-Jawa Tengah


Makam Raden Trenghono Kusumo Trah Kesultanan Mataram


https://share.google/JGafSTXoQEyWaVEp1



 English


 Kecamatan Candiroto


-->


 


PPID


Rekap DIP


 


Permohonan Informasi


 


Lacak Permohonan


Kategori Berita


Kategori Galleri



Makam Raden Trenggono Kusumo


 Minggu, 18 Agustus 2024 11:14  4077


Nama WisataMakam Raden Trenggono KusumoDeskripsi


Makam Raden Trenggono Kusumo di Desa Muneng, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, memiliki sejarah yang kaya dan signifikan, khususnya terkait dengan penyebaran Islam di wilayah Jawa Tengah. Raden Trenggono Kusumo merupakan tokoh penting dalam sejarah lokal, yang dikenal sebagai salah satu penyebar agama Islam di daerah Temanggung dan sekitarnya.


Menurut cerita rakyat dan catatan sejarah, Raden Trenggono Kusumo adalah seorang bangsawan yang memiliki garis keturunan dari Kerajaan Mataram. Ia memainkan peran penting dalam memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat, dan dikenal sebagai sosok yang bijaksana, dihormati oleh rakyatnya, serta memiliki pengaruh yang kuat dalam kehidupan sosial dan keagamaan di wilayah tersebut.


Makamnya di Muneng, Candiroto, tidak hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga menjadi situs ziarah yang penting bagi masyarakat setempat dan peziarah dari berbagai daerah. Setiap tahunnya, terutama pada saat-saat tertentu seperti peringatan haul, banyak orang datang untuk berdoa, mengenang jasa-jasanya, dan memohon berkah. Suasana di sekitar makam yang tenang dan penuh dengan nuansa spiritual menambah keistimewaan tempat ini sebagai tujuan wisata religi.


Seiring berjalannya waktu, makam ini telah menjadi salah satu simbol warisan budaya dan sejarah di Temanggung. Kompleks makam yang sederhana namun sarat makna ini tetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat setempat. Mereka meyakini bahwa dengan menghormati dan menjaga makam Raden Trenggono Kusumo, mereka turut menjaga warisan leluhur yang penting bagi identitas dan sejarah daerah tersebut.


AlamatJl. Desa Muneng, Hutan, Muneng, Kec. Candiroto, Kabupaten Temanggung, Jawa TengahFasilitasParkiran, Mushola, Tempat duduk, Toilet, Tempat WudhuHargaSeikhlasnyaKontak PersonSosmedKoordinat-7.180042901877881,110.07465004920961


Kecamatan Candiroto


JL. Raya Candiroto, No. 32, Kabupaten Temanggung 56257, Indonesia


Tlp.: (0293) 5922234

Email: candiroto@temanggungkab.go.id


 


 


 


Pengaduan


 Aduan


 Whatsapp Gateway (Wage)


 Helpdesk



Daftar Link


 Link OPD


 Link Kecamatan


 Link Desa


Potensi


 Tempat Pariwisata (Tourism Spot)


 Ekonomi Kreatif (Creative Economy)


 Rumah Makan (Restaurant)


 Penginapan (Homestay)


 Acara (Event)



PengunjungPengunjung Hari ini  :  3 orangTotal Pengunjung  :  41665 orang


Radio eRTe FM 94.8 FM 


Temanggung TV 


© Copyright Kecamatan Candiroto. 2023 - 2026 Versi: V.1.0


Dibangun oleh: Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Temanggung

Tema oleh: BootstrapMade


Ramah

[23/1 13.16] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Gelar Keturunan Bangsawan Jawa dan Artinya 


https://share.google/WhxFQlAwKSa4yLDA4


× KOMPAS.com Official App GRATIS Install Kompas.com Stori Gelar Keturunan Bangsawan Jawa dan Artinya Kompas.com, 9 Oktober 2021, 11:00 WIB Baca di App Widya Lestari Ningsih, Nibras Nada Nailufar Tim Redaksi 1 1 Lihat Foto KOMPAS.com - Pada masa kekuasaan Kesultanan Mataram, masyarakat Jawa dibedakan ke dalam tiga golongan, yaitu priyayi atau bangsawan, santri, dan abangan. Kekerabatan pada golongan priyayi ditandai dengan adanya gelar pada nama seseorang yang masih memiliki hubungan darah dengan penguasa Mataram atau masih keturunan bangsawan. SCROLL UNTUK LANJUT BACA Powered by VidCrunch Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+ Gelar kebangsawanan Jawa tersebut secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yakni gelar keturunan dan gelar anugerah. Baca juga: Tak Ada Pemberitahuan, Karyawan Kaget Akses Rumah Makan Padang Tertutup Galian di Jaksel Gelar keturunan bangsawan Jawa adalah gelar yang diberikan berdasarkan hubungan pertalian darah, yaitu oleh orang tua kepada anak, cucu kemudian cicit hingga generasi di bawahnya. Bisakah Eropa Melepaskan Diri dari Trump? Mengapa Pemberantasan Penipuan Daring Gencar Dilakukan Kamboja? Artikel Kompas.id Peraturan mengenai gelar keturunan mengalami beberapa kali perubahan, bahkan sejak sebelum Kesultanan Mataram terpecah. Setelah terpecah menjadi Keraton Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman, masing-masing keraton dan kadipaten menetapkan peraturan yang berbeda. Berikut ini gelar keturunan bangsawan Jawa dan artinya. Gelar keturunan di Keraton Surakarta Gelar keturunan raja untuk laki-laki Gusti Raden Mas (G.R.M.), gelar untuk putra raja dari istri permaisuri Bendara Raden Mas (B.R.M.), gelar untuk putra raja dari istri selir dan cucu raja dari putra mahkota Raden Mas (R.M.), gelar untuk cucu, cicit, piut, dan anggas raja Raden (R.), gelar untuk udeg-udeg raja dan keturunan seterusnya yang sudah menikah Raden Bagus (R.Bg.), gelar untuk udeg-udeg raja dan keturunan seterusnya yang belum menikah Gelar keturunan raja untuk perempuan Gusti Raden Ayu (G.R.Ay.), gelar untuk putri raja dari istri permaisuri yang sudah menikah Gusti Raden Ajeng (G.R.A.), gelar untuk putri raja dari istri permaisuri yang belum menikah Bendara Raden Ayu (B.R.Ay.), gelar untuk putri raja dari istri selir yang sudah menikah Bendara Raden Ajeng (B.R.A.), gelar untuk putri raja dari istri selir yang belum menikah Raden Ayu (R.Ay.), gelar untuk cucu, cicit, piut, dan anggas raja yang sudah menikah Raden Ajeng (R.A.), gelar untuk cucu, cicit, piut, dan anggas raja yang belum menikah Raden Nganten (R.Ngt.), gelar untuk udeg-udeg raja dan keturunan seterusnya yang sudah menikah Raden Rara (R.Rr.), gelar untuk udeg-udeg raja dan keturunan seterusnya yang belum menikah Baca juga: Keraton Surakarta: Sejarah Berdirinya, Fungsi, dan Kompleks Bangunan Gelar keturunan di Kadipaten Mangkunegaran Gelar keturunan untuk laki-laki Gusti Raden Mas (G.R.M.), gelar untuk putra adipati dari istri permaisuri Bendara Raden Mas (B.R.M.), gelar untuk putra adipati dari istri selir dan cucu adipati dari istri permaisuri Bendara Raden Mas Harya (B.R.M.H.), gelar untuk putra adipati dari istri selir yang sudah dewasa Raden Mas (R.M.), gelar untuk cucu adipati dari istri selir, cicit, dan piut adipati Raden (R.), gelar untuk anggas adipati dan keturunan seterusnya Gelar keturunan untuk perempuan Gusti Raden Ayu (G.R.Ay.), gelar untuk putri adipati dari istri permaisuri yang sudah menikah Gusti Raden Ajeng (G.R.A.), gelar untuk putri adipati dari istri permaisuri yang belum menikah Bendara Raden Ayu (B.R.Ay.), gelar untuk putri adipati dari istri selir dan cucu adipati dari istri permaisuri yang sudah menikah Bendara Raden Ajeng (B.R.A.), gelar untuk putri adipati dari istri selir dan cucu adipati dari istri permaisuri yang belum menikah Raden Ayu (R.Ay.), gelar untuk cucu adipati dari istri selir, cicit, dan piut adipati yang sudah menikah Raden Ajeng (R.A.), gelar untuk cucu adipati dari istri selir, cicit, dan piut adipati yang belum menikah Raden Nganten (R.Ngt.), gelar untuk anggas adipati dan keturunan seterusnya yang sudah menikah Raden Rara (R.Rr.), gelar untuk anggas adipati dan keturunan seterusnya yang belum menikah Gelar keturunan di Keraton Yogyakarta Gelar keturunan raja untuk laki-laki Gusti Raden Mas (G.R.M.), gelar untuk putra sultan dari istri permaisuri Gusti Bendara Raden Mas (G.B.R.M.), gelar untuk putra sulung raja dari istri selir Bendara Raden Mas (B.R.M.), gelar untuk putra bukan sulung raja dari istri selir Raden Mas (R.M.), gelar untuk cucu, cicit, dan piut raja Raden (R.), gelar untuk anggas raja dan keturunan seterusnya yang sudah menikah Raden Bagus (R.Bg.), gelar untuk anggas raja dan keturunan seterusnya yang belum menikah Baca juga: Keraton Yogyakarta: Sejarah Berdirinya, Fungsi, dan Kompleks Bangunan Gelar keturunan raja untuk perempuan Gusti Raden Ayu (G.R.Ay.), gelar untuk putri raja dari istri permaisuri yang sudah menikah Gusti Raden Ajeng (G.R.A.), gelar untuk putri raja dari istri permaisuri yang belum menikah Gusti Bendara Raden Ayu (G.B.R.Ay.), gelar untuk putri sulung raja dari istri selir yang sudah menikah Gusti Bendara Raden Ajeng (G.B.R.A.), gelar untuk putri sulung raja dari istri selir yang belum menikah Bendara Raden Ayu (B.R.Ay.), gelar untuk putri bukan sulung raja dari istri selir yang sudah menikah Bendara Raden Ajeng (B.R.A.), gelar untuk putri bukan sulung raja dari istri selir yang belum menikah Raden Ayu (R.Ay.), gelar untuk cucu, cicit, dan piut raja yang sudah menikah Raden Ajeng (R.A.), gelar untuk cucu, cicit, dan piut raja yang belum menikah Raden Nganten (R.Ngt.), gelar untuk anggas raja dan keturunan seterusnya yang sudah menikah Raden Rara (R.Rr.), gelar untuk anggas raja dan keturunan seterusnya yang belum menikah Gelar keturunan di Kadipaten Pakualaman Gelar keturunan untuk laki-laki Gusti Raden Mas (G.R.M.), gelar untuk putra adipati dari istri permaisuri Gusti Raden Mas Harya (G.R.M.H.), gelar untuk putra adipati dari istri permaisuri yang sudah dewasa Bendara Raden Mas (B.R.M.), gelar untuk putra adipati dari istri selir Bendara Raden Mas Harya (B.R.M.H.), gelar untuk putra adipati dari istri selir yang sudah dewasa Raden Mas (R.M.), gelar untuk cucu, cicit, dan piut adipati Raden (R.), gelar untuk anggas adipati dan keturunan seterusnya Gelar keturunan untuk perempuan Gusti Raden Ayu (G.R.Ay.), gelar untuk putri adipati dari istri permaisuri yang sudah menikah Gusti Raden Ajeng (G.R.A.), gelar untuk putri adipati dari istri permaisuri yang belum menikah Bendara Raden Ayu (B.R.Ay.), gelar untuk putri adipati dari istri selir dan cucu adipati dari istri permaisuri yang sudah menikah Bendara Raden Ajeng (B.R.A.), gelar untuk putri adipati dari istri selir dan cucu adipati dari istri permaisuri yang belum menikah Raden Ayu (R.Ay.), gelar untuk cucu adipati dari istri selir, cicit, dan piut adipati yang sudah menikah Raden Ajeng (R.A.), gelar untuk cucu adipati dari istri selir, cicit, dan piut adipati yang belum menikah Raden Nganten (R.Ngt.), gelar untuk anggas adipati dan keturunan seterusnya yang sudah menikah Raden Rara (R.Rr.), gelar untuk anggas adipati dan keturunan seterusnya yang belum menikah Referensi: Sulistyawati. (2004). Nama dan Gelar di Keraton Yogyakarta. Humaniora, 16 (3), 263-275. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang 1 1 1 Komentar ada kanjeng raden mas ayu utk wanita diganti kanjeng raden mbak ayu atau bok ayu Lihat semua gelar kebangsawanan dari keraton solo Gelar kebangsawanan Jawa Gelar Keturunan Bangsawan Jawa dan Artinya Gelar Keturunan Bangsawan Jawa gelar bangsawan Jawa perempuan gelar bangsawan Jawa laki-laki kerajaan nusantara selengkapnya Lihat Stori Selengkapnya Sri Susuhunan Pakubuwono VI: Kehidupan, Penangkapan, dan Akhir Hidup Biografi Sri Sultan Hamengkubuwono II Sri Sultan Hamengkubuwono III: Masa Pemerintahan dan Peninggalannya Sri Sultan Hamengkubuwono I, Pendiri Kesultanan Yogyakarta Hamengkubuwono IV, Sultan Termuda Yogyakarta   Pilihan Untukmu News Indonesia Resmi Gabung Dewan Perdamaian Buatan Trump News KNKT: Pesawat ATR 42-500 Kebablasan Saat akan Landing lalu Tabrak Gunung News Eks Dirjen Sebut Kebijakan Kemendikbud Era Nadiem Ibarat Kopi Hitam Siap Minum, Pejabat Tinggal Ikut News OTT di Pati, KPK Tangkap Bupati Sudewo News SP3 Kasus Ijazah Jokowi Terbit, Eggi Sudjana Berangkat ke Malaysia untuk Berobat Bola Pernyataan FIFA Usai Pemerintah AS Bekukan Visa Imigran 75 Negara Jelang Piala Dunia 2026 News OTT, KPK Tangkap Wali Kota Madiun News Viral, Kezia Syita WNI Jadi Tentara AS, Menkum: Tidak Boleh Kecuali Izin Presiden Bola Pemerintah AS Angkat Bicara Usai Banyak Desakan Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Dipindah News Selasa Depan, JPU Hadirkan Ahok hingga Ignasius Jonan Jadi Saksi Sidang Anak Riza Chalid News Deklarasi Jadi Parpol, Gerakan Rakyat Ingin Anies Baswedan Jadi Presiden Regional Pesawat ATR 42-500 Rute Yogyakarta-Makassar Hilang Kontak di Leang Leang Maros News Tak Ada Pemberitahuan, Karyawan Kaget Akses Rumah Makan Padang Tertutup Galian di Jaksel News Arcandra Tahar Ajak Jaksa Pakai Logika Saat Bertanya soal Minyak Mentah Iran Tak Selemah Venezuela, Duet Rudal HQ-9B China dan S-400 Rusia "Bentengi" Teheran dari AS 09:51 Iran Tak Selemah Venezuela, Duet Rudal HQ-9B China dan S-400 Rusia "Bentengi" Teheran dari AS Video 1 hari lalu 03:26 Polisi Tangkap Pelajar yang Gelar Balap Lari Sambil Bertaruh di Jaksel Video 2 hari lalu 03:49 Rusia dan China Buka Suara soal Ambisi Trump Kuasai Greenland Video 2 hari lalu 03:05 Sosok Yustika Sopir Perempuan Transjakarta di Mata Rekan: Wonder Woman yang Disiplin Video 2 hari lalu 04:49 AS Pangkas 200 Posisi di NATO, Picu Kecemasan Eropa Video 2 hari lalu 03:40 Dibombardir Rusia, Hampir Separuh Kyiv Tanpa Listrik dan "Membeku" akibat Suhu Ekstrem Video 3 hari lalu 02:59 Cerita Perempuan Sopir TJ, dari Jaklingko hingga Bawa Gubernur Video 3 hari lalu 09:19 AS Vs Iran: Prediksi Target Utama, Strategi, dan Senjata yang Digunakan Washington Video 3 hari lalu 03:01 Tak Didukung Keluarga, Perempuan Driver Bus TJ Ini Bertahan demi Anak Video 3 hari lalu 03:26 Dimaki dan Diremehkan Penumpang, Susahnya Jadi Driver Perempuan Bus TJ Video 3 hari lalu 03:30 Trump "Bentrok" dengan Marcon soal Gaza, Ancaman AS Dapat Balasan Video 3 hari lalu 02:59 Perempuan di Balik Kemudi Bus TJ: Ranthy Cerita Tantangan Jadi Pramudi Video 3 hari lalu 03:32 Isu Tukar Kursi Juda Agung dan Thomas Djiwandono Mencuat, Ini Penjelasan Menkeu Video 3 hari lalu TERPOPULER 1 Hari Raya Siwaratri: Sejarah, Makna Malam Suci, dan Tradisinya di Bali 2 Cerita Lubdaka dalam Siwaratri, Pemburu Berdosa yang Mendapat Pengampunan Dewa Siwa 3 Mengapa Ada Blue Monday? Ini Sejarah di Balik Julukan Hari Paling Menyedihkan TERPOPULER LAINNYA TERKINI Mengapa Ada Blue Monday? Ini Sejarah di Balik Julukan Hari Paling Menyedihkan STORI - 3 hari lalu Cerita Lubdaka dalam Siwaratri, Pemburu Berdosa yang Mendapat Pengampunan Dewa Siwa STORI - 6 hari lalu Hari Raya Siwaratri: Sejarah, Makna Malam Suci, dan Tradisinya di Bali STORI - 6 hari lalu Sejarah Hari Dharma Samudera 15 Januari, Ini Latar Belakang dan Maknanya STORI - 1 minggu lalu Sejarah Hari Desa Nasional 15 Januari: Ini Latar Belakang dan Tema 2026  STORI - 1 minggu lalu Hari Logika Sedunia 14 Januari, Ini Sejarah dan Maknanya  STORI - 1 minggu lalu Mengapa Greenland Disebut Tanah Hijau, Padahal Hampir Seluruhnya Es? STORI - 1 minggu lalu Hari K3 Nasional 12 Januari: Sejarah dan Makna Keselamatan Kerja STORI - 2 minggu lalu Hari Tuli Nasional 11 Januari, Ini Sejarah Perjuangannya  STORI - 2 minggu lalu Sejarah Hari Rotasi Bumi, 8 Januari: Menelusuri Peurbahan Waktu  STORI - 2 minggu lalu Tahun-tahun Terakhir VOC Menjelang Pembubaran pada 31 Desember 1799 STORI - 3 minggu lalu 31 Desember 1991, Hari Ketika Dunia Menutup Bab Uni Soviet STORI - 3 minggu lalu Kenapa Tahun Baru Masehi Jatuh pada 1 Januari? Ini Sejarah Kalender Gregorian STORI - 3 minggu lalu Kenapa Malam Tahun Baru Identik dengan Kembang Api? Ini Sejarahnya STORI - 3 minggu lalu 29 Desember 1891, Jejak Awal Radio dari Paten Edison hingga Siaran Suara STORI - 4 minggu lalu 1 2 3 Next JELAJAHI KOMPAS.COM BOLA TEKNO OTOMOTIF GLOBAL NEWS PEMILU IKN TREN NASIONAL MEGAPOLITAN ENTERTAINMENT MONEY SAINS REGIONAL HEALTH PROPERTI LIFESTYLE HYPE TRAVEL EDUKASI FOTO VIK OHAYO JEPANG PESONA INDONESIA KOLOM JEO VIDEO LESTARI PLAY EVENT STORE ARTIKEL TERPOPULER ARTIKEL TERKINI TOPIK PILIHAN ARTIKEL HEADLINE BACK TO TOP Dapatkan informasi dan insight pilihan redaksi Kompas.com Daftarkan Email Penghargaan dan sertifikat: Kabar Palmerah About Us Advertise Ketentuan Penggunaan Kebijakan Data Pribadi Pedoman Media Siber Career Contact Us ©2026 PT. Kompas Cyber Media


Sumber: https://www.kompas.com/stori/read/2021/10/09/110000879/gelar-keturunan-bangsawan-jawa-dan-artinya.



Membership: https://kmp.im/plus6

Download aplikasi: https://kmp.im/app6

[25/1 01.44] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Danurejo I - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas 


https://share.google/ndsmQtCiWOd19Bop4






Cari


Anda juga bisa ikut ambil peran dalam penyebaran pengetahuan bebas. Mari bergabung dengan sukarelawan Wikipedia bahasa Indonesia!


Danurejo I


Bahasa


Unduh PDF


Pantau


Sunting


Danurejo I (O Jawa: Danureja I) adalah seorang patih (perdana menteri) di Keraton Yogyakarta. Ia lahir dengan nama Raden Bagus Kunting atau Raden Panji Gandakusuma. Ia berasal dari Banyumas, bergelar Tumenggung Yudanegara III dan pernah menjabat sebagai bupati Banyumas.[1] Ia dikenal sebagai patih yang cakap semasa kepemimpinan Sultan Hamengkubuwana I dan Hamengkubuwana II.[2]


Yudanegara III / Danurejo I


Bupati Banyumas ke-9Masa jabatan

1749 – 13 Februari 1755



Pendahulu

Reksa Praja


Pengganti

Yudanegara IV



Patih Dalem Yogyakarta ke-1Masa jabatan

13 Februari 1755 – 19 Agustus 1799Penguasa monarkiHamengkubuwono I

Hamengkubuwono II



Pendahulu

Jabatan baru


Pengganti

Danurejo II



Informasi pribadiAnakRaden MertawijayaOrang tuaYudanegara II (ayah)

Nyai Ajeng Yudanegara (ibu)Sunting kotak info • L • B


Danurejo I lahir dengan nama Raden Bagus Konting Mertawijaya.[3] Ia adalah anak sulung Tumenggng Yudanegara II dan Nyai Ajeng Yudanegara. Semasa kecilnya, Tumenggung Yudanegara II memindahkan pusat kota Banyumas ke sebelah timur di Geger Duren dan membangun sebuah pendopo yang diberi nama Balai Si Panji. Nama Si Panji berasal dari nama Raden Panji Gandakusuma―nama lain Raden Bagus Kunting―yang merupakan nama pemberian dari Pakubuwana II karena suaranya yang merdu ketika menyanyikan Serat Wiwaha Kawi. Raden Bagus Kunting dikirim oleh ayahnya untuk mengabdi di Keraton Kartasura. Ia menjadi sahabat Raden Mas Sudjono atau Pangeran Mangkubumi.[4][5]


Referensi


sunting


Catatan kaki


sunting


Priyadi 2004, hlm. 307.


Ricklefs 2001, hlm. 144.


"#SejarahMasaKerajaan | Pemerintah Kabupaten Banyumas". dinarpus.banyumaskab.go.id. Diakses tanggal 2024-11-12.


Priyadi 2004, hlm. 306-307.


Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat (2018-04-02). "Pepatih Dalem Kesultanan Yogyakarta". kratonjogja.id. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-04-07. Diakses tanggal 2024-02-05.


Daftar pustaka


sunting


Carey, Peter B.R (2015). The power of prophecy: Prince Dipanagara and the end of an old order in Java, 1785-1855. Leiden: KITLV Press. ISBN 9789067183031.


Priyadi, Sugeng (2004). "Sejarah Trah Yudanegaran Banyumas". Humaniora. 16 (3): 303–312.


Ricklefs, M.C. (2001). A history of modern Indonesia since c. 1200. London: Palgrave Macmillan. ISBN 9780230546868.


Jabatan politikDidahului oleh:

Reksa PrajaBupati Banyumas

sebagai Yudanegara III

1749 - 13 September 1755Diteruskan oleh:

Yudanegara IVDidahului oleh:

Jabatan baruPatih Dalem Yogyakarta

sebagai Danurejo I

13 September 1755 - 19 Agustus 1799Diteruskan oleh:

Danurejo II


Terakhir disunting 1 tahun yang lalu oleh Rizki Hidayatulloh


Halaman terkait


Danurejo II


Danurejo IV (III)


Dipoyudo IV





Halaman di-rènder menggunakan Parsoid.


Konten tersedia di bawah CC BY-SA 4.0 kecuali dinyatakan lain.


Kebijakan privasi


 


Kode Etik


 


Pengembang


 


Statistik


 


Pernyataan kuki


 


Ketentuan Penggunaan


 


Tampilan komputer (PC)

[25/1 01.45] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Mertawijaya - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas 


https://share.google/r69MNvlj5IXnoFeuG





Cari


Anda juga bisa ikut ambil peran dalam penyebaran pengetahuan bebas. Mari bergabung dengan sukarelawan Wikipedia bahasa Indonesia!


Mertawijaya


Bahasa


Unduh PDF


Pantau


Sunting


R. Mertawijaya atau Ngabehi Singasari merupakan anak dari Yudanegara III dan ayah dari Wedana Bupati Kanoman Banyumas bernama Mertadiredja I. Ia bertempat tinggal di Kedungrandu, Patikraja dan meninggal dunia ketika Mertadiredja I masih kecil.[1]


Referensi


sunting


PurwOkartun, NasSirun (2022-02-07). "Adipati Mertadiredja I Pemilik Naskah Babad Banyumas Mertadiredjan". Babad Banyumas, Rujukan Utama Sejarah Banyumas. Diakses tanggal 2024-11-16.


Terakhir disunting 4 bulan yang lalu oleh HsfBot


Halaman terkait


Sejarah Banyumas


Yudanegara V


Mertadireja I





Halaman di-rènder menggunakan Parsoid.


Konten tersedia di bawah CC BY-SA 4.0 kecuali dinyatakan lain.


Kebijakan privasi


 


Kode Etik


 


Pengembang


 


Statistik


 


Pernyataan kuki


 


Ketentuan Penggunaan


 


Tampilan komputer (PC)

[25/1 06.18] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: KH Dalhar Watucongol, Kiai Pejuang dan Cucu Panglima Perang Jawa

 https://share.google/WmFcSWJvpBTiKZF8a


KH. Dalhar Nachroowii bin


'Abdur Rohmaan bin 


'Abdur Ro+uuf bin 


Hasan Tuqoo/ Hasan Tetuko, Dzurriyyah Sunan Amangkurat III. 


* Membantu perjuangan Pangeran Diponegoro Sa'iid Ontowiryo Mustahar dalam Perang Diponegoro/ Perang Jawa tahun @825 - 1830 M.

[25/1 06.31] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Garis Keturunan dan Silsilah Sunan Muria | kumparan.com 


https://share.google/cU1ld2bsETWHB4Bgd



Sejarah dan Sosial


Beranda



News


Konten dari Pengguna


Garis Keturunan dan Silsilah Sunan Muria


Sejarah dan Sosial


Artikel yang membahas seputar sejarah hingga topik sosial lainnya.


10 April 2023 13:57 WIB


·


waktu baca 2 menit


Tulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan





Foto hanya ilustrasi: Silsilah Sunan Muria. Sumber: Michael Burrows/Pexels.com


ADVERTISEMENT


Sunan Muria termasuk seorang Wali Songo yang lahir di Jawa Tengah dan mempunyai jasa besar dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.


ADVERTISEMENT


Sunan Muria terkenal sebagai Wali Songo paling muda dari pada wali yang lain. Beliau senang berdakwah di lokasi terpencil yang jauh dari kota. Oleh karena itu, beliau memilih bukit di utara Kudus sebagai lokasi dakwah dan sekarang disebut “Gunung Muria”.


Tahukah kamu, bahwa garis keturunan dan silsilah Sunan Muria bersambung hingga Nabi Muhammad SAW. Sebenarnya, bagaimana silsilah beliau? Simak dalam uraian berikut!


Silsilah Sunan Muria





Foto hanya ilustrasi: Silsilah Sunan Muria. Sumber: Muhammad-taha Ibrahim/Pexels.com


Yoyok Rahayu Basuki dalam buku berjudul Sunan Muria (Raden Umar Said) menjelaskan bahwa, nama kecil Sunan Muria adalah Raden Prawoto. Beliau juga dikenal dengan sebutan Raden Umar Said, yaitu nama yang diberikan Ayahnya waktu kecil.


Sunan Muria adalah putra pertama dari Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Dewi Saroh merupakan saudara perempuan dari Sunan Giri, putra dari Syekh Maulana Ishaq. Oleh karena itu, Sunan Muria masih termasuk keponakan Sunan Giri.


ADVERTISEMENT


Kemudian, Sunan Muria menikah dengan Dewi Sujinah, putri dari Sunan Ngudung. Dari sini, Sunan Muria mempunyai pertalian keluarga dengan Sunan Kudus. Sebab, Sunan Kudus termasuk putra Sunan Ngudung (Raden Usman Haji).


Inilah garis keturunan Sunan Muria, antara lain:


Abdul Muthalib (kakek Rasulullah SAW).


Sayid Abbas.


Sayid Abdul As-har.


Syekh Wais (Syekh Wakhid?).


Syekh Mudzakir.


Syekh Abdullah.


Syekh Kurames.


Syekh Mubarak.


Syekh Abdullah.


Syekh Ma'ruf.


Syekh Arifin.


Syekh Hasanuddin.


Syekh Jamal.


Syekh Ahmad.


Syekh Abdullah.


Syekh Abbas.


Syekh Abdullah.


Syekh Kurames, pendeta di Makkah.


Abdur Rakhman ke Pulau Jawa (Majapahit), bergelar Ario (Arya). Namanya berganti menjadi Teja (Ario Teja) dan menjadi Bupati Tuban.


Ario Teja I, Bupati Tuban.


Ario Tejo Laku, Tuban.


Ario Tejo, Bupati Tuban.


Raden Tumenggung Wilotikto, Bupati Tuban.


Raden Mas Said (Sunan Kalijaga).


Raden Umar Said alias Sunan Muria.


ADVERTISEMENT


Sunan Muria wafat tahun 1560 M. Makam beliau berada di Bukit Muria yang berlokasi di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.


Itulah penjelasan singkat garis keturunan dan silsilah Sunan Muria. Semoga bermanfaat!


(eka)


Sunan Muria


Wali Songo


Rasulullah


·


Laporkan tulisan


Tim Editor



Bagikan:


Baca Lainnya


Bus Rombongan Peziarah Terbakar di Tol Japek, 34 Penumpang Dievakuasi


Jejak Entrepreneurial Rasulullah: Inspirasi untuk Generasi Muda


Gubernur Norsan Hadiri Maulid Nabi di Polda Kalbar: Teladani Akhlak Rasulullah


Trending di News


BMKG Umumkan Bibit Siklon 91S Berkembang Jadi Siklon Luana, Ini Dampaknya


Longsor Terjang Cisarua Bandung Barat, 8 Orang Tewas


Kajari Padang Lawas Dibawa ke Kejagung, Diklarifikasi soal Dugaan Dana Desa


Update Longsor Cisarua Bandung Barat: 10 Orang Tewas, 82 Warga Masih Hilang


Bima Arya Ungkap Arahan Prabowo soal Longsor di Bandung Barat


kumparanPLUS



Remaja WNI dalam Tahanan Yordania


3 Konten


Baru


1.440 WNI Pelaku Online Scam di Kamboja Serbu KBRI


3 Konten


Tumbler, Dosa Kecil yang Terlalu Sering Kita Banggakan


21 Konten


Narkoba Tidak Datang Mendadak, Kita yang Terlambat Sadar


21 Konten

[25/1 06.32] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/p/1HeFsSuKxu/


Silsilah trah keturunan Sunan Muria R. Umar Said dari istri Ibu Dewi Soedjinah yang menjadi juru kunci makam Sunan Muria dan keluarga : 


Tapi versi ini yg diserahkan ke tim peneliti dari UIN Walisongo sudah ada distorsi. Distorsinya a.l Romo (ayah) Sunan Muria ditulis Sayyid Karohmat dalam kurung Sunan Ampel (mungkin intrepretasi juru kunci saat ini), antara Sunan Muria ke bawah ada 2 nama lelaki yg "sengaja" dihilangkan untuk tujuan khusus biar tidak dikopi atau dicangkok. Kemudian ada distorsi lain a.l gelar Sunan Muria asli adalah Sunan Drajat ing Muryopodo (tapi disingkat Sunan Muria). Dsb. 

Juru kunci diambilkan dari trah Honggokusumo yg tinggal di Colo (dekat makam). Juru kunci/ penglawang pertama ditunjuk dari Kraton Solo terwariskan sampai 9 generasi. Generasi terakhir dipegang R. Kartodirono (sepupu Buyut saya R. Morodirono dan R. Mertorejo). Maklum, dulu terjadi banyak pernikahan antar kerabat 🤭

Sebenarnya di kurun waktu juru kunci ditunjuk kraton Solo ada pemerintahan Kasunanan Muria di Cendono Dawe oleh Pangeran Mertokusumo, sampai 5 generasi ke bawah. Pangeran Cendono yg terakhir Raden Suro Sudjono merangkap Kades, wafat sekitar tahun 90an. Keliatannya punya anak lelaki tapi tidak diteruskan. 

Masalah pengelolaan makam, setelah juru kunci R. Kartodirono sekitar th 2000 ada sengketa dg pemda Kudus dan juru kunci saat ini dipegang keturunan jalur perempuan yg pro Pemda  🙏


Nepangaken kulo trah Murio krabat Mrican Honggosoco : Joko bin S. Badrin bin R. Surani Zuhdi bin R. Morodirono Sofyan jalur Pangeran Mertokusumo (Cendono Dawe) . 

Mungkin membantu pengungkapan misteri ayah Sunan Muria. Keluarga Muria saja beda2 pendapatnya tentang ayah Sunan Muria kok, yakni antara Sunan Kalijogo dan Sunan Undung. Tapi sepakat Ibu Sunan Muria adalah Ibu Nyai Ageng Maloko Rembang. Dan garis bawah yg jelas Sunan Muria adalah seorang Sayyid 🙏

[25/1 09.10] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Ora Trimo - Rebutan Jasa


https://www.facebook.com/share/p/1AY5tLNYMr/


Orang Jawa  merasa besar kepala terkait sejarah ratu Kalinyamat dari Kesultanan Demak (Jepara) dan mereka  sengaja membalikan fakta pada saat pasukan Demak melawan Portugis di Malaka, 


Dalam sejarah yg mereka tulis, 

Kesultanan Aceh meminta bantuan dari Kesultanan Demak untuk melawan Portugis di Malaka, 

Pada masa kepemimpinan pati Unus & ratu Kalinyamat, 


Narasi tersebut adalah salah dan meyesatkan para meminat sejarah di Nusantara ini, 


Padahal sebalik nya Kesultanan Demak memohon bantuan dari Kesultanan Aceh 

Untuk melawan Portugis di Malaka setelah kematian pangeran pati Unus yg gugur dalam perang ke dua kali nya di Malaka, 


Pada masa kepemimpinan pati Unus ini panglima perang nya adalah FATHILLAH (Wong ageng pasai) putra Aceh 


Panglima Pasukan perang Demak pada masa kepemimpinan ratu Kalinyamat masih di pegang oleh  Fattahillah ( wong ageng pasai) putra Aceh, 


Di masa ini lah ratu Kalinyamat memerintah kan panglima perang nya Fatahillah ( wong ageng pasai)  untuk datang ke Kesultanan Aceh 

Memintal bantuan dan kesediaan nya sultan Aceh membantu pasukan Demak

Bersama-sama menyerang Portugis di Malaka, 


Namun jadual keberangkatan dua aliansi ini ke Malaka tidak bersamaan di sebab kan pasukan Demak terlalu keras kepala karna cepat masuk ke Malaka pada waktu ashar

menyerang Portugis, 

tidak menunggu pasukan perang Kesultanan Aceh terlebih dahulu yg masuk menjelang magrib 

Apa yg terjadi akibat terlau gegabah di alami pasukan Demak hancur lebur di gempur Portugis dalam 40 armada kapal nya hanya tinggal dua lagi yg utuh 

Dan pasukan Demak sudah banyak yg tewas yg sebagian menyelamatkan diri di pulau pemyengat, 


Pada menjelang magrib tiba nya armada kapal perang Kesultanan Aceh di pulau penyengat membantu pasukan Demak yg luka-luka dan menguburkan yg sudah tewas, 


Saat magrib tiba pasukan perang Kesultanan Aceh bergerak ke Malaka untuk membalas kekalahan Demak, 

Serta di ikuti sisa - sisa pasukan Demak 

Perang di Malaka malam itu berkecamuk saling membom bardir meriam nya serta sebagian meliter Kesultanan Aceh naik ke darat memukul mundur Portugis, 

sampai menjelang subuh penjajah Portugis melarikan diri dan meninggal kan Malaka menuju Gowa di ( India) 


Namun sangat di sayang kan Portugis tetap kembali lagi ke Malaka meski sudah beberapa kali di pukul mundur 


Pada perang kedua kalinya  pada masa kepemimpinan ratu Kalinyamat di Malaka 

Pasukan Demak tetap tidak mampu melawan Portugis dan membuat efek jera pada pasukan Demak untuk datang lagi melawan Portugis di Malaka ini lah kali terahir nya Demak melawan Portugis, 


Dan pihak Portugis semakin berani mendatangi Jepara niat mereka untuk menyerang balik Demak, 

Namun ternyata kedatangan mereka di sambut baik oleh ratu Kalinyamat di Jepara, 

Berhubung Saat itu Fatahillah tidak lagi menjabat sebagai panglima perang nya, 


Dari sini terjalin nya hubungan Demak dengan Portugis untuk menguasai 

Perdagangan di wilayah timur Nusantara, 


Kabar itu sampai ke sultan Aceh dan sultan Aceh sangat murka pada penguasa Demak hubungan Demak dan Aceh 

Tidak baik lagi, 


#membongkar_fakta

#sejarah_yang_di_sembunyikan

#Demi_menjaga_nama_baik_keultanan_demak

[27/1 12.05] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/p/17txRqPm3v/


Di Yaman itu banyak Dzurriyah Rasululloh Saw yang asli.


Klan ba'alwi imigran Tarim Bani Ubaidillah keturunan biologis Gog magog Yahudi khazar pemalsu nasab pemalsu makam pemalsu sejarah bukan Dzurriyah Rasululloh Saw.


Putra Sayyid Ahmad Al Abah bin Isa hanya tiga: Muhammad, Ali dan Husen. Nggak ada nama Ubaidillah ataupun Abdulloh. Apalagi dengan adanya kemajuan teknologi yang telah di terapkan klan ba'alwi Bani Ubaidillah terbukti valid bukan keturunan Rasululloh Saw melainkan keturunan biologis Gog magog Yahudi khazar serumpun dengan Zionis Israel Yahudi ke 13 pemalsu nasab pemalsu makam pemalsu sejarah yang menjajah negara Palestina.


Alhamdulillah kami warga Nahdliyyin sudah sadar tidak lagi pertahankan jalur nasab palsu hasil mimpi karya Ali asakran Yahudi khazar yang di cantolkan pada Rasululloh Saw.!!!


#sorotanpublik #ayopodotaubat

[28/1 11.07] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/p/18CY9xam5B/


Benarkah R.A. Kartini Murtad?


*** Kartini, Islam, dan Makna “Habis Gelap Terbitlah Terang” ***

Oleh: Mbah Jev 


     Raden Ajeng Kartini binti Raden Mas Ario Sosroningrat (1879–1904) sejak kecil tumbuh dalam lingkungan Jawa Muslim. Dia bukan tokoh yang berada di luar Islam, melainkan seorang Muslimah bangsawan Jawa yang hidup di tengah tradisi Islam kultural abad ke-19. Identitas ini penting ditegaskan agar Kartini tidak diposisikan secara ahistoris sebagai figur yang terlepas dari konteks keagamaannya sendiri.


     Dalam surat-surat pribadinya yang kemudian dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Licht, terlihat jelas bahwa pencarian intelektual Kartini tidak pernah terpisah dari kegelisahan spiritual. Dia menulis tentang Tuhan, wahyu, iman, dan makna ibadah dengan nada bertanya, resah, sekaligus jujur. Kegelisahan ini bukan penolakan terhadap agama, melainkan ekspresi seorang pencari makna yang merasa terhalang oleh keterbatasan pemahaman.


     Salah satu fakta sejarah yang dapat diverifikasi adalah hubungan Kartini dengan Kyai Sholeh Darat as-Samarani, seorang ulama besar Jawa pada abad ke-19. Kartini bersama adik-adiknya diketahui pernah secara rutin belajar tafsir al-Qur’an kepada Kyai Sholeh Darat di Semarang. Pada masa itu, al-Qur’an umumnya hanya dibaca dalam bahasa Arab tanpa terjemahan, sehingga Kartini merasa resah karena tidak memahami maknanya. Keresahan ini menjadi salah satu faktor yang mendorong Kyai Sholeh Darat menulis tafsir al-Qur’an dalam bahasa Jawa beraksara Arab Pegon, yang kemudian dikenal sebagai Tafsir Faidh ar-Rahman. Banyak sejarawan menyebut minat dan pertanyaan Kartini sebagai pemicu penting lahirnya karya tersebut.


     Setelah berguru kepada Kyai Sholeh Darat, perubahan nada dalam surat-surat Kartini tampak jelas. Dia tidak lagi sekadar mempertanyakan agama, melainkan mulai menunjukkan penghormatan dan penerimaan terhadap Islam sebagai kebenaran ilahiah. Meski demikian, Kartini tetap kritis terhadap praktik sosial umat yang menurutnya tidak adil, terutama terhadap perempuan. Kritik ini tidak diarahkan pada Islam sebagai ajaran, melainkan pada tradisi dan tafsir sosial yang membelenggu.


     Penting dicatat bahwa tidak ada bukti historis shahih yang menunjukkan Kartini pernah murtad atau meninggalkan Islam. Data yang ada justru menunjukkan proses pendalaman dan rekonsiliasi batin Kartini dengan Islam. Dalam historiografi modern —terutama pada masa kolonial dan awal pascakemerdekaan— aspek religius Kartini kurang mendapat penekanan, sementara pemikiran emansipasinya lebih sering dibingkai secara sekuler dan humanis. Hal ini lebih merupakan akibat seleksi narasi, sudut pandang penyunting, dan kebijakan pendidikan, bukan bukti adanya penutupan sejarah yang disengaja atau terorganisasi.


     Secara faktual pula, Kartini tidak pernah menulis frasa “Habis Gelap Terbitlah Terang”, apalagi menjadikannya judul buku. Frasa tersebut adalah terjemahan dari judul Door Duisternis tot Licht yang dipilih oleh J.H. Abendanon ketika menghimpun dan menerbitkan sebagian surat-surat Kartini pada tahun 1911, beberapa tahun setelah wafatnya. Karena melalui proses seleksi dan penyuntingan, surat-surat Kartini yang dikenal publik saat ini bukan keseluruhan korespondensi mentah, melainkan versi terpilih yang telah diedit.


     Surat-surat Kartini sendiri pada hakikatnya adalah surat pribadi, bukan dokumen resmi negara dan bukan manifesto politik. Surat-surat itu merupakan korespondensi reflektif dan intelektual Kartini dengan sahabat-sahabatnya di Eropa, terutama di Belanda, yang berisi curahan pikiran, kegelisahan batin, kritik sosial, serta harapan tentang pendidikan, feodalisme Jawa, kolonialisme, agama, dan kemanusiaan. Kartini menuliskannya tanpa niat menjadikannya dokumen publik; nilai historisnya lahir kemudian, setelah surat-surat itu dipublikasikan.


     Di dalam isi surat-surat tersebut terdapat pengakuan jujur tentang kegelisahan Kartini terhadap iman yang dia yakini, tetapi belum dia pahami secara mendalam karena kendala bahasa. Bagi Kartini, iman tanpa pemahaman adalah kegelapan batin yang menyakitkan. Setelah belajar tafsir al-Qur’an, tulisannya menunjukkan ketenangan dan sikap afirmatif terhadap Islam sebagai kebenaran ilahi.

Sebagian sejarawan dan sarjana Muslim kemudian menafsirkan konsep “gelap” sebagai ketidaktahuan terhadap makna wahyu, dan “terang” sebagai pemahaman setelah belajar. Penafsiran ini bersifat interpretatif dan tidak dapat diklaim sebagai pernyataan eksplisit Kartini. Yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah adalah bahwa pendalaman Islam melalui Kyai Sholeh Darat merupakan salah satu sumber pencerahan dalam perjalanan batin Kartini, di samping kesadaran sosial dan intelektualnya.


     Dengan demikian, secara historis dapat dikatakan bahwa Kartini adalah seorang Muslimah pencari kebenaran yang menunjukkan kedewasaan spiritual menjelang akhir hidupnya, pernah belajar al-Qur’an kepada ulama besar, dan memandang Islam sebagai cahaya moral. Bahwa sisi keislaman ini kurang disorot dalam narasi populer adalah fakta historiografis, tetapi menyebutnya sebagai sesuatu yang sengaja ditutup-tutupi memerlukan bukti yang hingga kini tidak tersedia.


#


Referensi:

- R.A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang (terjemahan Door Duisternis tot Licht).


- J.H. Abendanon (ed.), Door Duisternis tot Licht, kumpulan surat Kartini.


- Kyai Sholeh Darat, Tafsir Faidh ar-Rahman.

Ahmad Baso, Islam Nusantara: Ijtihad Jenius & Ijma’ Ulama Nusantara.


- M.C. Ricklefs, Polarising Javanese Society.

[28/1 11.08] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/p/1Hc1ZzGGRo/


DAFTAR GERAKAN PEMBERONTAK DI INDONESIA


1.Partai komunis Indonesia (PKI) 


Konflik dimulai pada tanggal 18 September 1948, di Madiun, Jawa Timur, dan berakhir tiga bulan kemudian ketika sebagian besar pemimpin dan anggota FDR ditahan dan dieksekusi oleh pasukan TNI.

Kemudian dilanjutkan Pemberontakan PKI 1965, dikenal sebagai Gerakan 30 September (G30S/PKI), adalah upaya kudeta pada 30 September - 1 Oktober 1965 yang melibatkan penculikan dan pembunuhan tujuh perwira tinggi TNI AD, diduga didalangi oleh PKI untuk menggulingkan Soekarno dan mengubah Indonesia menjadi negara komunis. Dipimpin oleh Letkol Untung atas komando D.N. Aidit, gerakan ini menargetkan perwira tinggi AD, dan memicu penumpasan PKI serta berakhirnya kekuasaan Soekarno, membuka jalan bagi Orde Baru di bawah Soeharto. 


2.Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII)


Pemberontak DI/TII adalah gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia yang dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo, bertujuan mendirikan Negara Islam Indonesia (NII) dengan latar belakang ketidakpuasan terhadap pemerintah RI pasca-kemerdekaan, terutama setelah Perjanjian Renville, dan pemberontakan ini menyebar dari Jawa Barat ke Aceh (Daud Beureueh), Sulawesi Selatan (Kahar Muzakkar), dan Kalimantan Selatan (Ibnu Hajar). 

Tokoh-tokoh Pemberontak Utama:


-.Kartosuwiryo (Jawa Barat): Imam utama gerakan DI/TII, menolak Republik Indonesia dan memproklamasikan NII pada 1949.


-.Daud Beureueh (Aceh): Memimpin pemberontakan di Aceh karena kekecewaan terhadap janji otonomi Aceh.


-.Abdul Kahar Muzakkar (Sulawesi Selatan): Memimpin pemberontakan di Sulawesi Selatan, menolak bergabung dengan APRIS.


-.Ibnu Hajar (Kalimantan Selatan): Memimpin gerakan DI/TII di Kalimantan Selatan.


-.Amir Fatah (Jawa Tengah): Turut terlibat dalam pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah. 


3.Perjuangan Rakyat Semesta ( Permesta)


Pada 2 Maret 1957 Permesta diproklamasikan di Makassar dengan Piagam Perjuangan Semesta, menuntut desentralisasi namun tetap setia pada NKRI.

Pada 17 Februari 1958 Permesta bergabung dengan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera, membentuk gerakan PRRI/Permesta.

Pada Februari - Juni 1958 Pemerintah pusat melancarkan Operasi Merdeka menumpas pemberontakan, Manado berhasil direbut pada akhir Juni 1958.

Dan tahun 1961Sisa-sisa pemberontak Permesta menyerah dan mendapat amnesti, menandai berakhirnya konflik. 

Tokoh Penting :

Letkol Ventje Sumual sebagai Panglima TT VII/Wirabuana dan pemimpin utama Permesta.

Letkol Achmad Husein sebagai Pemimpin PRRI di Sumatera, yang kemudian bergabung dengan Permesta. 


4.Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)


Pemberontak PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) adalah gerakan separatis di Sumatera pada tahun 1958, dipimpin oleh Letkol Ahmad Husein, menuntut perubahan politik dan ekonomi dari pemerintah pusat, menolak Kabinet Djuanda, dan menginginkan Hatta-HB IX membentuk pemerintahan sementara, dengan tokoh sipil seperti Sjafruddin Prawiranegara (PM PRRI), Natsir, dan Sumitro turut mendukung, namun akhirnya ditumpas militer pemerintah pusat, berakhir dengan penguatan pengaruh PKI dan bubarnya Masyumi/PSI. 

Tokoh Kunci Pemberontak PRRI :

-Letkol Ahmad Husein: Pemimpin militer utama dan deklarator PRRI di Sumatera.

-Mr. Sjafruddin Prawiranegara: Diangkat sebagai Perdana Menteri PRRI (tokoh sipil).

-Mr. Assaat Dt. Mudo: Menteri Dalam Negeri PRRI.

-Kol. Maluddin Simbolon: Menteri Luar Negeri PRRI.

-Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo: Menteri Perhubungan/Pelayaran PRRI, tokoh ekonomi penting.

-Mohammad Natsir: Tokoh Masyumi yang mendukung gerakan ini.

-Dahlan Djambek: Menteri Dalam Negeri (sebelum Assaat) dan Menteri Pos & Telekomunikasi PRRI.

-B-urhanuddin Harahap: Menteri Pertahanan/Kehakiman PRRI (mantan PM). 


5.Gerakan Aceh Merdeka ( GAM) 


Gerakan Aceh Merdeka (GAM) adalah gerakan separatis bersenjata yang bertujuan memerdekakan Aceh dari Indonesia sejak 1976, dipimpin oleh Hasan di Tiro, yang berakhir dengan Perjanjian Damai Helsinki pada 15 Agustus 2005, di mana GAM membubarkan sayap bersenjatanya dan berubah menjadi partai lokal (Komite Peralihan Aceh/KPA), setelah konflik berkepanjangan yang menelan banyak korban jiwa. 


6.Republik Maluku Selatan 


Republik Maluku Selatan (RMS) adalah gerakan separatis yang diproklamasikan pada 25 April 1950 oleh tokoh-tokoh Maluku Selatan untuk memisahkan diri dari Indonesia Serikat (RIS) dan membentuk negara merdeka, dipimpin oleh Dr. Christian Steven Soumokil, namun berhasil ditumpas oleh pemerintah pusat pada November 1950 dan para pemimpinnya mengungsi ke Belanda. Meskipun perlawanan bersenjata berhenti, eksistensi pemerintahan pengasingan RMS masih ada di Belanda, berfokus pada isu sosial budaya dan hak asasi manusia, dengan aktivitas yang sering kali menimbulkan kontroversi di Indonesia. 


7.Organisasi Papua Merdeka 


Organisasi Papua Merdeka (OPM) adalah gerakan nasionalis yang didirikan tahun 1965 dengan tujuan memisahkan Papua bagian barat dari Indonesia, dikenal melalui aksi sporadis bersenjata oleh sayap militernya, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) yang dibentuk pada 26 Maret 1973, sebagai upaya mencapai kemerdekaan wilayah tersebut. OPM dianggap sebagai kelompok separatis bersenjata oleh pemerintah Indonesia dan telah terlibat dalam konflik bersenjata hingga saat ini. 


Oleh Andin Banjar

[28/1 11.09] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://m.facebook.com/groups/746730429949365/permalink/1549011583054575/?sfnsn=wiwspwa&ref=share&mibextid=VhDh1V


بِسْــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَ نِ الرَّحِيْـــــمِ


Alhamdulillah ini nasab sy sesuai silsilahnya yang di tanda tangani dan di sahkan Raja Datu Soppeng Terakhir Andi Wana dan Bupati Pertama Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Watasoppeng.


Yang di buat oleh Andi Hamzah Petta Ade Lawo Bin Petta Pabbicara Soppeng Andi Babba dan Andi Maggalatung Bin Andi Bau Makkarateng.


Jalur' Nasab👇


Andi Lae'bbe 👉Andi Babba Pabbicara Soppeng👉La Mata Esso Sulle Datu Soppeng bin La Mappaleonro Datu Soppeng ke 28


👇👇👇👇


👑La Mappapole Onro Arung Lapanning Sultan Nuhung Petta MatinroE ri Amala’na Raja/Datu Soppeng ke-28👑 ❤️ We Yallu Arung Apala


Lahir 👇 Gen 1 

La Mata Esso Sule Datu di Soppeng MatinroE ri Lawelareng ❤️Petta Sogi Anakna karaeng Mandalle


Lahir 👇 Gen 2

La Takko Petta Mile❤️ I Mahangin Petta Sering


Lahir 👇 Gen 3

Andi Ba'ba Pabbicara soppeng❤️ I Bossa Petta Indo


Lahir 👇 Gen 4

Andi Ta le'be❤️I Manisa To Deceng


Lahir 👇 Gen 5

Andi Boddi❤️I Ha'tiga


Lahir 👇 Gen 6

Andi  lae'bbe❤️ Andi Nurhayati Binti Andi Tabo


Cat : Saya cucu Langsung puang Andi Lae'bbe bernama "Andi Ma' Dala Tikka"


Terlampir silsilah mini ini..... Dari Arsip  Ummi ku 


Ternyata Datu Soppeng ke 28 ada gelar Sultan nya artinya beliau bagian raja Pembawa Syariat Islam juga di zamannya...


Saya sangat mengharapkan Ridha Allah Azza Wa Jalla 


Dengan Tujuan saya membuka nasab ini tidak lain agar bertambah nya keakraban antara keluarga agar supaya kita saling mengenal antara yang lainnya, Tetapi dengan nasab untuk di jadikan suatu kebanggaan dan fanatisme ashabiyyah dan menjadikan seseorang menjadi bangga dan sombong untuk merendahkan orang lain..maka hal ini adalah keharaman.


الله أَعْلَم

[28/1 11.14] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/187AzqfDCS/


BALUN SUDAGARAN I


Metamorfosis Trietrepoe 1726: Menyingkap Jejak Metropolitan Purba di Tepian Bengawan Solo


​Oleh: Temmy Wirawan Suryo Diwongso


Jauh sebelum deru mesin bor minyak bumi memecah kesunyian hutan jati di ujung timur Jawa Tengah, sebuah peradaban besar telah berdenyut di tepian Bengawan Solo. Kita mengenalnya hari ini sebagai Cepu. Namun, lembaran sejarah yang tersimpan dalam jurnal lama Belanda membawa kita pada sebuah penemuan luar biasa: sebuah kota bernama Trietrepoe di era Mataram. 


​1. 1726: Menemukan Kota yang Hilang dalam Catatan Valentijn


​Pada tahun 1726, seorang pendeta sekaligus sejarawan Belanda bernama François Valentijn menerbitkan karya monumentalnya, Oud en Nieuw Oost-Indiën. Di dalamnya, ia melukiskan pemetaan wilayah yang sangat rinci, jauh sebelum Perjanjian Giyanti (1755) membelah tanah Jawa.


​Berdasarkan catatan tersebut, wilayah yang kini kita sebut Cepu tercatat dengan nama yang asing namun berwibawa: Trietrepoe. Kota ini digambarkan bukan sebagai desa kecil, melainkan sebuah pusat urban yang makmur dan menyenangkan.


Teks Asli (Bahasa Belanda Kuno):

​"...en de stad Trietrepoe aan de rivier Samangi. Deze acht dorpen hebben meer dan duizend huisgezinnen; doch de stad Trietrepoe rekent men pada vier duizend huisgezinnen. Deze stad is een zeer kleine en vermaaklyke plaats... hebbende zeer schoone Ryst-velden, en eenen zeer grooten handel pada de opper-landen, tot aan Mataram toe..."


​Terjemahan Bebas:

​"...dan kota Trietrepoe di tepi sungai Samangi (Bengawan Solo). Delapan desa di sekitarnya memiliki lebih dari seribu keluarga; namun kota Trietrepoe sendiri diperhitungkan memiliki empat ribu keluarga (rumah tangga). Kota ini adalah tempat yang sangat mungil dan menyenangkan... memiliki ladang-ladang beras yang sangat indah, dan perdagangan yang sangat besar ke daerah pedalaman, bahkan hingga ke Mataram..."


Ket : kami sertakan terjemahan melalu foto yang kami tampilkan. 


​2. Balun: "Sudagaran" dan Metropolitan Mataram Timur


​Angka 4.000 rumah tangga adalah fakta yang menggetarkan. Jika satu keluarga terdiri dari 5 orang, maka penduduk Trietrepoe saat itu mencapai 20.000 jiwa. Di era 1700-an, ini adalah angka sebuah metropolitan. Pemukiman padat ini diyakini berpusat di desa kuno Balun dan Jipang.


​Di bawah naungan raja-raja Mataram Kartasura seperti Sunan Pakubuwana I hingga Amangkurat IV, Trietrepoe berfungsi sebagai:


- Bandar Penyeberangan Utama: 

Menjadi voornaam pas atau jalur lintas utama bagi saudagar dari pedalaman menuju pesisir.


- ​Pusat Ekonomi "Sudagaran": Keberadaan Pazar (Pasar) dan Passar-baan (Alun-alun pasar) membuktikan adanya aktivitas komersial yang mapan.


- ​Benteng Agama dan Budaya: 

Adanya twee Moorsche Tempels (dua masjid) menunjukkan komunitas Muslim yang religius dan terorganisir, kemungkinan dipimpin oleh seorang Tumenggung yang juga menjaga nilai-nilai religi pasca-era Demak.


Trietrepoe tidak berdiri sendiri. Ia didukung oleh "kota-kota satelit" seperti Syken (Jiken) sebagai penyangga jati, serta Sipanpamlang (Ngelo/Menden) dan Kocluwing (Kasiman) yang memiliki ratusan keluarga.


Berdasarkan rentang waktu jurnal Valentijn (terbit 1726) dan catatan dalam Babad Tanah Jawi serta Serat Karaton, berikut adalah nama-nama yang memegang otoritas di wilayah tersebut:


1.​ Tumenggung Suranata (Era akhir Amangkurat II - awal Pakubuwana I):

Beliau adalah salah satu bupati Jipang yang setia pada garis keturunan Mataram dan bertanggung jawab menjaga stabilitas wilayah perbatasan timur.


2.​ Tumenggung Sasradiningrat (Era Pakubuwana I):

Nama keluarga "Sasradiningrat" sering muncul dalam birokrasi Mataram yang menangani wilayah-wilayah strategis di sepanjang Bengawan Solo.


Mereka dibantu Tumenggung Wedana, yang memimpin Distrik Balun sebagai pemimpin Trietrepoe yang memiliki peran ganda yang sangat berat:


- ​Pengawas Perdagangan Internasional: Teks Valentijn menyebutkan perdagangan hingga ke "Hoek van Prigaat" dan Mataram. Ini berarti pemimpin lokal harus memiliki kemampuan negosiasi dengan pedagang asing (Belanda, Arab, Tionghoa) yang singgah di Bandar Balun.


- ​Pengelola Hutan Jati (Bupati Gladag): Karena Trietrepoe dikelilingi oleh desa-desa seperti Syken (Jiken) yang kaya jati, pemimpinnya kemungkinan besar merangkap sebagai pengawas pengiriman kayu untuk kebutuhan pembangunan Keraton Kartasura dan pembuatan kapal VOC.


- ​Pemegang Otoritas Keagamaan: Dengan adanya dua masjid besar (Moorsche Tempels), sang pemimpin juga berperan sebagai pelindung ulama dan masyarakat Muslim di pusat "Sudagaran" tersebut.


3. Dari Trietrepoe ke Ploentoeran: Jejak Konflik dan Perubahan


​Mengapa nama Trietrepoe menghilang dan berganti menjadi Ploentoeran dalam peta-peta Belanda setelah tahun 1726? Sejarah mencatat bahwa pertengahan abad ke-18 adalah masa kelam bagi Jawa.


- Geger Pacinan (1740) & Perang Suksesi: Kekacauan politik di Kartasura merembet hingga ke daerah aliran Bengawan Solo. Jipang dan sekitarnya menjadi palagan pertempuran.


- Luntur secara Administrasi: Nama "Ploentoeran" kemungkinan muncul dari istilah "Luntur". Dalam konteks kolonial, ini bisa berarti wilayah yang "dilunturkan" kekuasaan otonomnya atau wilayah yang mengalami degradasi populasi akibat perang besar.


- Penataan Ulang: VOC dan Mataram melakukan pemetaan ulang. Nama-nama kuno yang sulit diucapkan atau dianggap "terlalu merdeka" seringkali diganti dengan nama administratif baru untuk memudahkan kontrol militer.


4. Lahirnya "Tjepoe": Kembalinya Nama Kuno atau Rekayasa Industri?


​Memasuki tahun 1890-an, seiring ditemukannya "emas hitam" (minyak bumi), nama Tjepoe muncul secara resmi. Banyak yang beranggapan ini adalah akronim Belanda: TJentral Eksplorationale Petrolium Oenited dan itu sah sah saja serta masuk akal. 


​Namun, jika kita melihat kembali pada kata Trietrepoe di tahun 1726, sebuah kesimpulan menarik muncul: Tjepoe bukanlah singkatan rekayasa. Ia adalah evolusi linguistik dari nama kuno Tri-trepo atau Treetrepoe yang kembali "dihidupkan" oleh Belanda karena identitas geografisnya yang sudah tertanam selama berabad-abad.


5 Bukti Material: Jejak Nisan Mataram di Balun Gendeng


Teori tentang kemegahan Trietrepoe di masa lalu kini mendapatkan sandaran bukti fisik yang nyata. Di Makam Umum "Balun Gendeng", Desa Balun, ditemukan nisan-nisan kuno yang memberikan kesaksian bisu atas era tersebut.


Nisan yang ditemukan memiliki karakteristik visual yang sangat spesifik:


- Gaya Mataram Kartasura-Surakarta: Bentuk bahu nisan yang menyerupai sayap atau kurawal (bentuk jantung) dengan ukiran motif lung-lungan (sulur tumbuhan) yang halus menunjukkan cita rasa seni tinggi era Mataram abad ke-18.


- Indikator Status Sosial: Penggunaan bahan batu andesit dengan ukiran detail ini membuktikan bahwa sosok yang dimakamkan di Balun Gendeng bukanlah rakyat biasa. Ini adalah nisan para bangsawan atau saudagar kaya (Sudagaran) yang menguasai nadi ekonomi di Bandar Balun.


- Keselarasan Waktu: Model nisan ini sezaman dengan catatan Valentijn (1726), yang memperkuat asumsi bahwa Trietrepoe memang dihuni oleh kelas sosial menengah ke atas yang mapan secara ekonomi berkat perdagangan sungai.


Balun bukan sekadar desa; ia adalah saksi bisu kejayaan Bandar Sungai Mataram yang pernah menjadi urat nadi Jawa. Keberadaan nisan Mataram di Balun Gendeng menjadi pelengkap narasi bahwa Cepu tidak lahir dari minyak bumi, melainkan dari bandar sungai yang agung. Trietrepoe adalah Metropolitan Mataram di timur yang jejaknya masih bisa kita sentuh melalui nisan-nisan indah di pemakaman Balun.


Sumber Referensi:

1. ​Valentijn, François. (1726). Oud en Nieuw Oost-Indiën. Jilid IV.

2. ​Peta Landkaart van Oost Java uit Valentijn (Koleksi Het Geheugen/Delpher).

3. ​Observasi Fisik Makam Balun Gendeng, Desa Balun, Cepu (2024).

4. ​Analisis Toponimi dan Literasi Sejarah Temmy Setiawan.

[28/1 11.15] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/p/1BgodxdPgP/


Peristiwa Perang Bubat (1357 M) adalah salah satu fragmen paling tragis sekaligus paling kontroversial dalam sejarah Nusantara. Ia bukan sekadar bentrokan dua kerajaan besar di Pulau Jawa—Majapahit dan Kerajaan Sunda—melainkan tabrakan nilai antara kekuasaan dan kehormatan.


Semua bermula dari rencana pernikahan antara Prabu Hayam Wuruk, Raja Majapahit, dengan Dyah Pitaloka Citraresmi, putri Kerajaan Sunda.

Dalam Kidung Sunda, niat Hayam Wuruk digambarkan dilandasi cinta dan ketulusan, serta keinginan mempererat hubungan diplomatik.

Sementara itu, Prabu Maharaja Linggabuana dari Sunda menerima lamaran tersebut karena memandangnya sebagai aliansi setara antara dua kerajaan merdeka, bukan hubungan atasan dan bawahan.


Namun, niat damai itu runtuh begitu rombongan Sunda tiba di Pesanggrahan Bubat, wilayah dekat pusat Majapahit.


Di sinilah kontroversi terbesar sejarah ini bermula.


Mahapatih Gajah Mada, pengemban Sumpah Palapa, memiliki tafsir politik yang berbeda—bahkan bertentangan—dengan rajanya sendiri.

Bagi Gajah Mada, pernikahan ini bukan urusan cinta atau persahabatan, melainkan kesempatan menundukkan Sunda secara simbolik.

Ia menuntut agar Dyah Pitaloka diserahkan sebagai upeti, tanda takluknya Kerajaan Sunda kepada Majapahit.


Bagi pihak Sunda, tuntutan itu adalah penghinaan mutlak.

Putri raja bukan barang persembahan.

Raja tidak datang untuk merendahkan diri.

Dan kehormatan kerajaan tidak bisa dinegosiasikan.


Dalam kondisi terjepit, jauh dari tanah sendiri, dan berhadapan dengan pasukan elit Majapahit, rombongan Sunda dihadapkan pada pilihan paling pahit:


> tunduk hidup dalam kehinaan, atau mati menjaga martabat.


Pilihan itu diambil.


Pertempuran di Bubat bukan perang yang seimbang.

Rombongan Sunda datang untuk pernikahan, bukan untuk perang.

Namun Prabu Maharaja Linggabuana, para bangsawan, dan pengiringnya gugur satu per satu hingga tidak tersisa.

Dari sudut pandang Sunda, peristiwa ini lebih tepat disebut pembantaian, bukan pertempuran terhormat.


Puncak tragedi terjadi ketika Dyah Pitaloka, menyaksikan ayah dan kaumnya tewas, memilih jalan bela pati—mengakhiri hidupnya demi menjaga kehormatan terakhir keluarganya dan kerajaannya.


Dampaknya tidak kecil.

Hubungan Hayam Wuruk dan Gajah Mada merenggang. Sang Mahapatih dianggap bertindak melampaui mandat raja dan akhirnya “diistirahatkan” dari jabatan aktif.

Hayam Wuruk sendiri diliputi duka mendalam, dan hubungan Majapahit–Sunda rusak total.


Lebih jauh lagi, tragedi ini meninggalkan luka budaya jangka panjang, termasuk munculnya larangan pernikahan Sunda–Jawa dalam tradisi lisan masyarakat Sunda—sebuah trauma sejarah yang baru memudar berabad-abad kemudian.


Yang paling mencolok dan kontroversial:

Perang Bubat tidak dicatat dalam Nagarakretagama, kitab resmi yang memuliakan kejayaan Majapahit.

Peristiwa ini justru hidup dalam Pararaton dan karya sastra seperti Kidung Sunda—seolah tragedi itu sengaja disisihkan dari narasi kejayaan.


Perang Bubat mengajarkan satu hal yang tidak pernah dilupakan dalam ingatan Sunda:


> Kekuasaan bisa menang, tetapi kehormatan tidak pernah bisa ditaklukkan.


📌 Catatan Ilmiah


Kidung Sunda dan Pararaton memuat Perang Bubat dari sudut pandang berbeda, sementara Nagarakretagama justru diam.


Perbedaan ini menunjukkan bahwa historiografi Majapahit sangat selektif dalam mencatat peristiwa yang tidak mendukung citra kejayaan negara.


Untuk memahami Perang Bubat secara adil, sejarah harus dibaca lintas sumber, bukan dari satu suara pemenang.


#NusantaraExcited #PerangBubat #SejarahSunda #KerajaanSunda #Pajajaran #BudayaSunda #Majapahit #SejarahNusantara

[28/1 11.18] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02KJ2ZiHuqVPmzXEA6Am3upc1Sk38q7WLQ5UeiTo51zvyUYDJc4mHr5UWphs1xJ3Vcl&id=100001856336410&post_id=100001856336410_pfbid02KJ2ZiHuqVPmzXEA6Am3upc1Sk38q7WLQ5UeiTo51zvyUYDJc4mHr5UWphs1xJ3Vcl&sfnsn=wiwspwa&mibextid=VhDh1V


Intrik Kekuasaan Jawa, Perang Suksesi dan Hilangnya Keistimewaan Surakarta

Kerajaan Majapahit yang berdiri pada 1293 muncul dari reruntuhan Singhasari abad ke-12, yang sebelumnya berkonflik dengan Kediri pada abad ke-11.

Tiga kerajaan di Jawa Timur itu merupakan kelanjutan dari migrasi masyarakat Mataram Hindu dari Jawa Tengah, kawasan sekitar Candi Prambanan dan Borobudur yang berjaya pada abad ke-7 hingga ke-8. Pada awal abad ke-9, muncul pula Kerajaan Kalingga di Jepara.


Di bagian barat Pulau Jawa, berdiri Kerajaan Tarumanagara, kemudian digantikan oleh Pajajaran di tanah Priangan yang meliputi wilayah Bandung, Sumedang, Tasikmalaya, dan Garut.


Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya mencapai puncak kejayaan pada masa Raja Hayam Wuruk (1350–1389) dengan patihnya yang terkenal, Gajah Mada.

Namun menjelang akhir abad ke-14 hingga awal abad ke-15, Majapahit mulai mengalami kemunduran akibat perpecahan internal dan perebutan takhta di antara para pangeran keturunan raja.


Setelah masa itu, berdirilah Kesultanan Islam Demak (1478–1550) dengan raja pertamanya, Sultan Raden Patah.

Kerajaan ini muncul setelah Perang Bubat dan perebutan takhta Majapahit yang berakhir pada masa Raja Gurindrawardhana (Brawijaya VI, 1470–1489). Masa kekuasaan Gurindrawardhana menandai berakhirnya Majapahit secara paripurna.


Kesultanan Demak hanya bertahan sekitar lima puluh tahun. Meskipun berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa (pelabuhan Kerajaan Tarumanagara) pada Juni 1527.

Kerajaan ini kemudian runtuh akibat konflik internal yang muncul setelah wafatnya Sultan Trenggana. Kekuasaan Demak berpindah ke Pajang di pedalaman Jawa Tengah bagian selatan.


Kerajaan Pajang didirikan oleh Joko Tingkir, yang bergelar Sultan Hadiwijaya (1568), dengan pusat pemerintahan di Kartasura, sekitar sepuluh kilometer dari Surakarta.

Kerajaan ini dianggap sebagai kelanjutan kekuatan Majapahit yang telah memeluk Islam, meski dalam praktiknya menampilkan bentuk Islam sufistik dengan corak sinkretisme dan tradisi Kejawen.


Sekitar tahun 1586, Sutawijaya (anak angkat Sultan Hadiwijaya) mendirikan Kerajaan Mataram Islam di Kerta, kawasan Kotagede, Yogyakarta, dengan gelar Panembahan Senopati.

Dinasti ini mencapai puncak kejayaan pada masa Raden Rangsang, yang naik takhta dengan gelar Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613–1645).


Pusat pemerintahan Mataram yang semula di Kerta kemudian dipindahkan ke Plered pada masa Amangkurat I (1646–1677).

Ketika Trunajaya memberontak pada 1677 dengan dukungan mertuanya, Pangeran Kajoran (keturunan Sunan Tembayat Klaten) Plered hancur dan pusat kekuasaan berpindah ke Kartasura pada 1680.


Amangkurat II memerintah di Kartasura pada 1677–1703. Setelahnya, Amangkurat III naik takhta (1703–1705), namun kekuasaannya singkat karena muncul perebutan takhta dengan pamannya, Pangeran Puger, yang kemudian bergelar Pakubuwono I (1704–1719). Pangeran Puger adalah anak Amangkurat I dan saudara tiri Amangkurat II.


Penerus berikutnya adalah Amangkurat IV (1719–1726), lalu Pakubuwono II (1726–1742), dan Amangkurat V (1742–1743).

Amangkurat V sempat didukung pasukan Tionghoa dalam peristiwa Geger Pecinan, yang berawal dari pembantaian orang Tionghoa di Batavia tahun 1740 oleh pemerintah kolonial Belanda.

Gerakan perlawanan kaum Tionghoa itu meluas di sepanjang pesisir utara Jawa dan bersekutu dengan Amangkurat V.


Pada masa Pakubuwono II, Mataram mengalami kehancuran besar. Kerajaan menjual seluruh wilayah pesisir utara kepada VOC, yang sejak awal berperan sebagai pedagang bersenjata dan kerap ikut campur dalam perebutan kekuasaan di Mataram, terutama pada tiga periode suksesi besar (1704–1719, 1719–1723, dan 1746–1757).


Setelah Pakubuwono II turun takhta, kekuasaan berpindah kepada Pakubuwono III (1749–1788). Pada masa pemerintahannya terjadi Perjanjian Giyanti (1755) di Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah, yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua: Kasunanan Surakarta di bawah Pakubuwono III dan Kasultanan Yogyakarta di bawah Hamengkubuwono I (1755–1792).


Dua tahun kemudian, Perjanjian Salatiga (1757) mengakhiri perlawanan Pangeran Sambernyawa (Raden Mas Said) terhadap pamannya, Pakubuwono III dan Hamengkubuwono I.

Perjanjian ini melahirkan Kadipaten Mangkunegaran yang menjadi bagian dari Surakarta.


Dengan demikian, Perang Suksesi Ketiga (1746–1757) menghasilkan tiga kerajaan turunan Mataram Islam: Kasunanan Surakarta dan Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta, serta Kasultanan Yogyakarta.


Sejak masa lampau, suksesi di lingkungan kerajaan Jawa hampir selalu disertai konflik internal yang kemudian mengundang campur tangan VOC dan selanjutnya pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tradisi itu berlanjut pada masa Indonesia merdeka.


Hingga kini, suksesi di lingkungan istana Jawa kerap diwarnai ketegangan dan turut melibatkan campur tangan pemerintah pusat.

Yogyakarta masih bertahan sebagai kerajaan dengan status Daerah Istimewa, sementara Surakarta hanya menikmati status Daerah Istimewa Surakarta dalam kurun singkat, Agustus 1945 hingga Juli 1946.


Konflik horizontal di Surakarta yang digerakkan oleh kelompok anti-swapraja menjadi bagian dari keberhasilan revolusi kaum kiri.

Saat itu, tentara terpecah, dan pemerintahan Soekarno–Hatta belum sepenuhnya berkuasa karena masih dibayangi kekuatan kabinet dan anarkisme politik kiri.


Kekuasaan Daerah Istimewa Surakarta akhirnya hilang ditelan revolusi. Elit keraton gagal menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman, berbeda dengan Daerah Istimewa Yogyakarta yang mampu menjaga persatuan internal dan beradaptasi dengan perubahan politik nasional.

.

.

#dancestudio #patriotism #indianholidays #BlackHistoryMonth #NationalPride

[28/1 12.40] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0Co9GpQJTbe74jDcoW6zoa3rska4Vy1NKvEHcyPr2bn7vJHZuo8WdYrCM6w6tGMZdl&id=100024546128806&post_id=100024546128806_pfbid0Co9GpQJTbe74jDcoW6zoa3rska4Vy1NKvEHcyPr2bn7vJHZuo8WdYrCM6w6tGMZdl&sfnsn=wiwspwa&mibextid=VhDh1V


MAJAPAHIT MENIPU BALI, TAPI BALI JUSTRU MEMAAFKAN DAN MENJAGA SISA SEJARAH MAJAPAHIT


Sejarah, bila terlalu lama dipeluk dengan dongeng, bisa berubah menjadi mitos. Bila terlalu sering didongengkan tanpa dicek bisa menjelma menjadi cerita urban. Majapahit adalah korban dari keduanya.


Majapahit dulu pernah memerangi Tuban. Pernah menipu Bali. Pernah membantai pasukan Mongol, jika hari ini difilmkan, mungkin akan dituduh terlalu berlebihan. Majapahit membangun imperium bukan dengan kelembutan doa, melainkan dengan strategi, intrik, dan darah, sebagaimana semua kekuasaan besar di dunia, semua lahir bukan karena perjuangan suci melainkan darah dan perang pembantaian.


Anehnya, dari sekian banyak perang, penaklukan, dan pengkhianatan yang dilakukan Majapahit, hanya Bubat yang terus berdengung seperti lonceng retak di kepala sejarah orang Jawa dan Sunda. Seolah-olah luka itu tidak pernah sembuh. Seolah-olah tragedi itu lebih besar dari apa pun yang pernah dilakukan Majapahit sebelumnya.


Padahal, jika kita jujur membuka naskah, Bubat bukan perang antar kerajaan besar. Bubat itu kecelakaan atau tragedi diplomasi. Sebuah peristiwa gagal paham, gengsi politik, dan benturan tafsir kekuasaan. Tidak ada bukti bahwa sejak awal Majapahit berniat memusnahkan Pajajaran. Yang ada hanya ambisi, tafsir sepihak.


Pertanyaannya, mengapa Bubat yang diwariskan sebagai perampok peradaban, sementara perang lain dilupakan begitu saja?


Coba berjalan di Bandung. Pernahkah kamu melihat Jalan Gajah Mada? Jalan Majapahit? Pasti tidak ada. Nama-nama itu seolah sengaja disingkirkan dari ruang publik. Bubat tidak hanya hidup di buku sejarah, ia hidup di penamaan jalan, di memori, dalam dongeng dan cerita dan masuk dalam dunia pelajaran Indonesia selama puluhan tahun sehingga cerita ini diwariskan turun-temurun.


Di titik inilah kecurigaan muncul, apakah Bubat sengaja dibingkai ulang di masa kolonial? Apakah tragedi ini dipelintir agar dua kekuatan besar, Jawa dan Sunda tidak pernah benar-benar menyatu? Sejarah kolonial dikenal lihai dalam memecah belah, setiap kebencian antara sesama kadang tidak semua diciptakan Belanda cukup membingkai ulang sejarah.


Tinggalkan sejenak Bubat sekarang kita coba Bandingkan dengan Bali.


Dalam babad-babad Bali, Majapahit bukan dipuja tanpa kritik. Padahal penipuan Majapahit pada bali jauh lebih menyakitkan, Majapahit gagal menaklukkan Bali, lalu menawarkan damai perang, saat Bali damai pemimpinnya dijebak, dimasukkan dalam sumur dan dikubur hidup-hidup. Padahal sejarahnya ada luka, ada amarah, ada cerita tentang pengkhianatan dan paksaan. Namun yang menarik, Bali tidak memutus ingatan pengkhinatan. Justru Bali merawat warisan Majapahit seperti darahnya sendiri. Struktur sosial, upacara, seni, bahkan konsep kekuasaan, semuanya menyimpan napas Wilwatikta.  Dan sampai detik ini Bali tidak menyalahkan Majapahit, Bali memaafkan tanpa Majapahit meminta maaf terlebih dahulu pada Bali.


Semua terbukti, ketika orang Jawa lupa sejarahnya sendiri. Bahkan  hampir tiga ratus tahun lamanya pulau Jawa pernah memiliki Majapahit, Bali dan Lombok lah yang mengingat kembali. Pusaka Majapahit disimpan oleh kerajaan Bali GEl Gel di pulau Lombok. Naskah tetap dijaga. Dan semua tradisi dan budaya Majapahit dilanjutkan oleh Bali.


Jika hari ini kita ingin membayangkan seperti apa Majapahit hidup, bukan hanya berdiri sebagai batu bata merah, maka lihatlah Bali sekarang, itulah visual Majapahit, Bali bukan tiruan Majapahit, melainkan Majapahit sendiri adalah Bali.


Tanpa Bali, Majapahit mungkin hanya akan menjadi nama di kaki candi, tanpa denyut. Atau hanya dikira sebagai candi besar


Lebih jauh lagi, tanpa Negarakertagama, kita bahkan tak akan tahu betapa luas pengaruh Majapahit. Nama-nama yang hari ini berdiri sebagai negara sendiri, Malaka, Singapura, sampai ke Champa dan Thailand pernah tercatat dalam orbit Nusantara.


Sebenarnya agak aneh jika hari ini banyak anak muda mempercayai sejarah alternatif. Bukan karena mereka anti-ilmu, tapi karena mereka mencium ada yang janggal. Sayangnya, banyak berhenti di kalimat provokatif. Membaca setengah lalu mempercayainya sebagai kebohongan. Padahal sejarah bukan sekedar cerita saja.  melainkan ada bukti fisik dan dokumen dan ada konteks, dan budayanya.


Mari kita menggugat Bubat bukan berarti meniadakan tragedi. Justru sebaliknya menempatkannya secara adil. Tidak dijadikan alat kebencian abadi, tidak pula disucikan sebagai kebenaran tunggal. Sejarah yang matang tidak memilih kubu, ia memilih ketepatan.


Di titik itulah lahir karya tulis bernama Wilwatikta. Hasil riset Fatiha. Novel ini tidak menjual sensasi, tidak pula menampar pembaca dengan teori konspirasi murahan. Tulisan Fatiha dalam novelnya mengangkat sebuah budaya melalui psikologi sejarah. Bagaimana kekuasaan berpikir. Bagaimana trauma diwariskan. Bagaimana ingatan bisa dibentuk, dilupakan.


Sembilan seri telah terbit, untuk menjawab semuanya, karena  cara terbaik menghadapi masa lalu bukan dengan marah dengan judul murahan.

[28/1 17.53] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02ahusy8RAC9JBASMbDfxvkYuSicgkto3pdFHbzCaTtiqnJd8LBFSKJzK9awpF4Lyjl&id=100044773939792&post_id=100044773939792_pfbid02ahusy8RAC9JBASMbDfxvkYuSicgkto3pdFHbzCaTtiqnJd8LBFSKJzK9awpF4Lyjl&sfnsn=wiwspwa&mibextid=VhDh1V


"Habib Ali Kwitang Sebuah Nama yang Mampu membuat Gerah Para pembegal Nasa/Sekte Imadiyah"


(Proklamasi Kemerdekaan hasil Munajat Habib Ali Kwitang)


Dalam sejarah Islam Nusantara—khususnya Jakarta—ada nama yang nyaris mustahil dihapus, betapapun keras upaya sebagian pihak yang meragukan ketersambungan nasab para Habaib kepada Rasulullah ﷺ. Nama itu adalah Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, lebih masyhur dikenal sebagai Habib Ali Kwitang.


Ia bukan sekadar tokoh agama. Ia adalah fakta sejarah yang hidup, saksi zaman yang keberadaannya menampar telak narasi simplistis para pemutus nasab dari kelompok Sekte Imadiyah dan affiliasinya.


Habib Ali Kwitang lahir di Batavia (Jakarta) pada 20 April 1870, dan wafat pada 13 Oktober 1968. Hampir satu abad hidupnya diabdikan untuk ilmu, dakwah, dan umat—lintas masa kolonial, pergerakan nasional, hingga Indonesia merdeka. Tidak berlebihan jika dikatakan: mustahil membicarakan Islam Jakarta tanpa menyebut Habib Ali Kwitang.


– Majelis Kwitang: Dakwah, Ilmu, dan Etika Sosial


Dalam kiprah dakwahnya, Habib Ali Kwitang mendirikan Majelis Taklim Kwitang, yang kemudian menjadi salah satu pusat pendidikan Islam paling berpengaruh di Batavia. Majelis ini bukan sekadar forum ceramah, melainkan ruang pembentukan karakter umat—tempat tauhid diajarkan tanpa kebencian, tasawuf ditanamkan tanpa eskapisme, dan akhlak dikokohkan tanpa kehilangan nalar.


Ajaran yang beliau sampaikan berporos pada:


• kemurnian iman,

• solidaritas sosial,

• serta akhlakul karimah sebagai wajah Islam di tengah masyarakat majemuk.


Dalam seluruh aktivitasnya, Habib Ali Kwitang tidak pernah menjadikan mimbar sebagai alat provokasi. Ia tidak mengajarkan hasad, dengki, gibah, apalagi fitnah. Sebaliknya, ia menghidupkan tradisi Ahlul Bait: memuliakan manusia, menjaga martabat sosial, dan menegakkan adab sebelum debat.


Pertanyaannya sederhana namun menggelisahkan bagi para pembenci nasab:

apakah mungkin figur dengan pengaruh moral sedemikian besar diterima luas—oleh ulama, masyarakat, bahkan tokoh nasional—jika nasabnya sejak awal dianggap problematik?


– Ulama Penuntut Ilmu, Bukan Pewaris Gelar Kosong


Narasi bahwa para Habaib “hanya hidup dari klaim nasab” runtuh total ketika berhadapan dengan riwayat keilmuan Habib Ali Kwitang.

Menurut penuturan Ustadz Miftah el-Banjary, pada usia 12 tahun, Habib Ali Kwitang telah berangkat ke Hadramaut untuk menuntut ilmu. Di sana ia tidak hidup dalam kenyamanan. Ia menggembala kambing demi mencukupi kebutuhan hidupnya—sebuah realita yang sering luput dari perhatian, tapi justru memperlihatkan watak ulama sejati: mandiri, sabar, dan jauh dari mental feodal.


Bidang ilmu yang ia dalami meliputi:


• Fikih,

• Tafsir,

• Sejarah Islam,

• dan disiplin keilmuan klasik lainnya.


Setelah Hadramaut, beliau melanjutkan rihlah ilmiahnya ke Makkah dan Madinah, berguru langsung kepada para ulama besar, di antaranya Habib Husein bin Muhammad Al-Habsyi, Mufti Makkah saat itu. Delapan tahun ia habiskan di Timur Tengah sebelum kembali ke Tanah Air pada 1889.


Sekembalinya ke Nusantara, ia tidak berhenti belajar. Ia justru kembali menyambung sanad keilmuan kepada para ulama besar lokal:

Habib Husein bin Muchsin Alatas (Bogor),

Habib Usman bin Yahya (Mufti Batavia),

Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Attas (Pekalongan),

Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar (Bondowoso),

Habib Muhammad bin Thahir Al-Haddad (Tegal),

dan Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi (Surabaya).


Ini bukan jejaring simbolik—ini sanad ilmu yang dapat diverifikasi.


– Guru Para Tokoh Bangsa


Jika nasab Ba‘alawi sekadar “mitos sosial”, maka sejarah Indonesia telah melakukan kesalahan fatal dengan mempercayakan doa dan petuahnya kepada Habib Ali Kwitang.


Faktanya, Soekarno dan Mohammad Hatta menjadikan beliau sebagai penasihat spiritual menjelang Proklamasi Kemerdekaan. Berdasarkan keterangan Habib Zein bin Umar Sumaith (Ketua Umum Rabithah Alawiyah), Soekarno secara khusus menemui Habib Ali Kwitang untuk meminta pertimbangan tentang waktu dan tanggal proklamasi.


Setelah bermunajat, Habib Ali Kwitang menyarankan 17 Agustus 1945, bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H.


Sejarah mencatat: saran itu diikuti.


Apakah ini kebetulan? Atau justru bukti bahwa bangsa ini—sejak awal—menghormati otoritas moral dan spiritual seorang Ulama dan para  Habib?


Murid, Warisan, dan Jejak yang Tak Terhapus


Habib Ali Kwitang juga melahirkan murid-murid besar lintas generasi, di antaranya:


• Dr. KH. Idham Chalid,

• KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur),

• KH. Abdullah Syafi’i,

• Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf (Sayyidil Walid),

• Guru Tohir Rohili Kampung Melayu, dan lainnya.


Secara politik, beliau dikenal dekat dengan Nahdlatul Ulama (NU). Ia tercatat hadir dalam Muktamar NU di Lapangan Ikada (Monas) dan didaulat memimpin doa—sebuah kehormatan yang tidak mungkin diberikan tanpa legitimasi keilmuan dan moral.


Warisan intelektualnya pun nyata. Kitab-kitab seperti:


• Al-Azhar al-Wardiyyah fi ash-Shurah an-Nabawiyyah,


• Ad-Durar fi ash-Shalawat ‘ala Khair al-Bariyyah,


masih dirujuk hingga kini oleh kalangan ulama tradisionalis.


Makamnya di Kwitang tak pernah sepi—terutama pada Maulid Nabi dan malam 25 Ramadhan—sebuah fenomena sosial-keagamaan yang sulit dijelaskan jika ia hanyalah “produk rekayasa nasab”.


– Penutup: Ketika Sejarah Menjawab Keraguan


Menulis ulang kisah Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi hari ini bukan sekadar romantisme masa lalu. Ini adalah ikhtiar sadar untuk melindungi nalar publik dari narasi pemutusan nasab yang dangkal, emosional, dan miskin metodologi.


Bagi mereka yang sejak awal sudah membenci Habaib, tulisan ini mungkin akan memancing nyinyiran cacain dan bully-an. Itu risiko yang saya disadari. Namun bagi mereka yang masih jernih—belum terpapar racun kebencian—kisah Habib Ali Kwitang cukup menjadi satu bukti bahwa nasab Ba‘alawi tidak berdiri di udara, melainkan berakar kuat dalam ilmu, akhlak, dan sejarah bangsa.


Dan barangkali, justru di situlah letak kegelisahan para pembegal nasab:

sejarah terlalu kokoh untuk mereka robohkan dengan teriakan.

_____________________

Oleh: Tamzilul Furqon S.Pd.

[28/1 17.55] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02tsMR4px7Qc7U2UR3qNJDyNGaRY7Vw3NWdEQVVYp7tAuFg4w4UkaDJfrmxBgdzxHdl&id=61551498737273&post_id=61551498737273_pfbid02tsMR4px7Qc7U2UR3qNJDyNGaRY7Vw3NWdEQVVYp7tAuFg4w4UkaDJfrmxBgdzxHdl&sfnsn=wiwspwa&mibextid=VhDh1V


TUANKU IMAM BONJOL : Pahlawan Nasional atau Tokoh Pemaksaan Syariat?


Di buku sekolah, Tuanku Imam Bonjol adalah pahlawan nasional.

Pejuang melawan Belanda. Ulama. Tokoh besar.


Tapi ada satu bagian sejarah yang jarang dibicarakan:


Di fase awal Perang Padri, kaum Padri melakukan pemaksaan syariat dengan kekerasan.

Dan Tuanku Imam Bonjol ada di dalam struktur itu.


Faktanya: Kaum Padri memaksa masyarakat meninggalkan adat dengan cara:


menutup paksa tempat judi dan tuak


menghukum warga yang melanggar


menyerang nagari yang menolak


bahkan sampai pembunuhan dan perampasan harta


Itu bukan dakwah persuasif.

Itu reformasi pakai kekuatan.


Pertanyaan yang tidak nyaman: Kalau hari ini ada kelompok melakukan hal yang sama,

kita menyebutnya apa?

Gerakan dakwah atau radikalisme?


Lebih menarik lagi: Di akhir hidupnya, Tuanku Imam Bonjol sendiri mengakui bahwa banyak tindakan Padri terlalu keras dan melampaui batas syariat.


Artinya: Bahkan tokohnya sadar, gerakan itu pernah salah arah.


Tapi di buku sejarah nasional: Bagian ini dipotong rapi.

Yang ditampilkan cuma versi “pahlawan suci melawan penjajah”.


Padahal versi utuhnya:


Belanda = penjajah oportunis


Kaum Padri awal = reformis tapi militan


Rakyat = korban dua arah


Kontroversinya bukan: “Imam Bonjol jahat atau baik?”


Kontroversinya: Kenapa kita hanya mau merayakan bagian sejarah yang enak,

tapi alergi pada bagian yang berdarah?


Kalau tokoh sejarah tidak boleh dikritik,

itu bukan penghormatan.

Itu mitologi.


#SejarahYangDisembunyikan

#PahlawanAtauRadikal

#ImamBonjolKontroversi

#BukaSejarahAsli

#NarasiNegara

#SejarahTidakNetral

#IslamDanKekuasaan

#FaktaAtauMitos

#BeraniBacaSejarah

[29/1 12.47] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid0RePrpMAv9oBckxoW7BLDGVtaU6cueUszxjNsZqoRhFXMNEU2gH8VKXDk1XoykcwKl&id=100002624216759&sfnsn=wiwspwa&mibextid=VhDh1V


"KUNCI'AN NASAB SAADAH BA'ALAWI ITU ADA DI DZURRIYAT WALISONGO KARENA YANG MEMILIKI KITAB SEJAMAN ABAD 6,7,8,9 HIJRIAH ITU YA KELUARGA WALISONGO BUKAN BA'ALAWI" 


https://web.facebook.com/radenayulinawati/posts/pfbid02HESdYNUcvYfqBxWXpKXUXcon42Zs8dKR3vfhCQmaN55EEgcqApdA2UGYqS3TRXkQl


Luthfi Abdullah Tsani: 


Perlu Anda Ketahui Ini Adalah Manuskrip Manuskrip Kesultanan Palembang, Kesultanan Banten, Kesultanan Cirebon yang Menjadi Rujukan Habib Muhammad Dhiyak Shahab dan Habib Abdurrohman bin Muhammad al-Masyhur Utk Menulis Kitab Syamsu Azh Zhahirah fi Nasabi Ahli al-Bait Jilid I dan Jilid II Yang Menjadi Rujukan Habib Ali Bin Jafar Assegaf Pendiri RA dan Rujukan Rabitah Alawiyah Seluruh Indonesia ......


Nah Data Data tsb Oleh Leluhur Kami di Tulis Berdasarkan Manuskrip Manuskrip yang Lebih Tua lagi dari Abad 15 Masehi dan Kitab Kitab Sejaman dari Negeri Asal Usul Walisongo yang Antum Ledek Tadi .......


Pahamkan Kenapa Ba'alawi Belum Bisa Menghadirkan Kitab Sejaman Abad 4,5,6,7,8,9 Hijriah Seperti yang diminta Kyai Imad Selama Tiga Tahun ini ????


Karena yang Punya Kitab Kitab Sejaman tsb adalah Klrg Walisongo.


Kyai Imad, Mogi Nurfadhil dan Kyai Kyai NAAT dulu banyak belajar Data Data Nasab Walisongo ke Saya, Makanya Mereka Tahu Kunci Matian Kitab Nasab Rujukan Ba'alawi tsb &  Kuncian Nasab Ba'alawi dimana, Paham Antum Fuad Fida Ul dan Hasanuddin Syafi'i ?????

[30/1 14.12] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://m.facebook.com/groups/369530282242685/permalink/927617813100593/?sfnsn=wiwspwa&ref=share&mibextid=VhDh1V


FAKTA SEJARAH


Pola Hubungan Tokoh India dan Indonesia dengan Kekuasaan Kolonial


MIRZA GHULAM AHMAD DAN HABIB UTSMAN BIN YAHYA 


Berdasarkan narasi sejarah, terlihat kesamaan pola hubungan kooperatif antara kedua tokoh dengan penguasa kolonial masing-masing, yang dapat disebut sebagai strategi akomodasi pragmatis. kedua tokoh diangkat dan didukung oleh Kolonialisme di masing-masing negara, India dijajah Inggris dan Indonesia dijajah Belanda.


Inti Pola Kesamaan:


1. Pengakuan Otoritas Kolonial sebagai Realitas Politik: Keduanya menerima kekuasaan kolonial (Inggris di India, Belanda di Hindia Belanda) sebagai fakta yang harus dihadapi, bukan dilawan secara frontal.


2. Pemanfaatan Ruang untuk Agenda Internal: Mereka memanfaatkan stabilitas dan kebebasan relatif yang diberikan kolonial untuk fokus pada tujuan utama mereka: Mirza Ghulam Ahmad pada dakwah dan pembaruan keagamaan secara damai, sedangkan Usman bin Yahya pada pengaruh kebijakan dan perlindungan komunitas Imigran kolaborator melalui jabatan resmi.


3. Sikap Non-Konfrontatif: Keduanya menghindari perlawanan bersenjata atau retorika revolusioner. Mirza menekankan loyalitas damai dalam ajarannya, sementara Usman terlibat dalam kerja sama struktural dan ritual simbolis (seperti doa untuk Ratu).


4. Hubungan Timbal Balik: Sikap mereka memberikan stabilitas dan legitimasi bagi pemerintah kolonial. Sebagai imbalannya, mereka memperoleh ruang gerak, perlindungan, atau otoritas formal untuk mengadvokasi kepentingan kelompok mereka.


Perbedaan Bentuk:


· Mirza Ghulam Ahmad: Keterlibatannya bersifat ideologis dan retoris, diekspresikan melalui pujian dalam tulisan. dan berhasil mendirikan AHMADIYAH dan didukung penuh oleh Inggris 


· Usman bin Yahya: Keterlibatannya bersifat struktural dan institusional, melalui pengangkatan sebagai Mufti dan tindakan seremonial publik. dan berhasil mendapatkan legitimasi dari Belanda sebagai CUCU Nabi, dalam karya Van den Berg.

serta glorifikasi keturunan Baalawi sebagai satu-satunya keturunan Nabi berdasarkan Maklumat Pemerintah kolonial Belanda 


KESIMPULAN:


Kesamaan pola ini mencerminkan pola strategis yang pragmatis terhadap dominasi kolonial. Alih-alih konfrontasi, kedua tokoh memilih jalan akomodasi dan kooperasi untuk memastikan keberlangsungan dan perkembangan tujuan kelompok maupun sosial mereka dalam batasan sistem kolonial. Dalam kajian sejarah, pola semacam ini sering dianalisis sebagai bentuk adaptasi, kolaborasi pragmatis, atau bahkan strategi tidak langsung untuk mempertahankan agency di bawah penjajahan.


Baik di India ataupun Indonesia, kelompok atau keturunan mereka dianggap suci oleh sebagian Masyarakat Jajahan hingga saat ini.

[2/2 04.38] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Tafsiir Mahapatih Gajah Mada Tahun 2026 M


https://www.facebook.com/share/p/1Cw9nhqGaB/


Selama ini kita kerap disuguhi narasi bahwa Gajah Mada mengakhiri hidupnya dalam keadaan suci, "Moksa" menjadi dewa, atau menghilang ke langit. Namun, jika kita menggunakan nalar kritis dan membedah sumber sejarah secara objektif, realitanya jauh lebih kelam. Sang pemersatu Nusantara ini justru berakhir sebagai pesakitan politik yang terasing dari imperium yang ia besarkan sendiri.


Berikut adalah analisis mendalam yang membuktikan bahwa Gajah Mada wafat dalam pengasingan setelah dibebastugaskan secara tidak hormat pasca-Perang Bubat.


1. Perang Bubat: Dosa Politik yang Tak Terampunkan

Sangat penting bagi kita untuk menelaah secara kritis argumen yang menyebut Perang Bubat sebagai hoaks. Absennya peristiwa ini di Nagarakretagama justru memperkuat indikasi bahwa tragedi ini adalah aib besar bagi Raja Hayam Wuruk yang sengaja tidak dicatat demi menjaga marwah kerajaan.


Gajah Mada melakukan kesalahan fatal: ia mengubah niat pernikahan suci Raja menjadi tuntutan upeti dan penyerahan diri Sunda. Akibatnya, calon permaisuri Raja melakukan bela pati (bunuh diri), dan seluruh rombongan Sunda tewas. Dalam konstelasi politik Majapahit, ini adalah pengkhianatan terhadap martabat Raja yang berujung pada hilangnya kepercayaan istana secara permanen.


2. "Mukti Palapa" sebagai Eufemisme Pemecatan

Setelah tahun 1357 M (tahun terjadinya Perang Bubat), posisi Gajah Mada di istana mengalami degradasi drastis. Naskah Pararaton mencatat bahwa ia "beristirahat" atau mukti palapa.


Logika Historis: Dalam manajemen kekuasaan mana pun, seorang Mahapatih yang berada di puncak karier tidak akan tiba-tiba "pensiun" jika tidak ada skandal atau kegagalan besar. Gajah Mada dipaksa menanggalkan jabatannya akibat tekanan internal keluarga kerajaan yang menuntut pertanggungjawaban atas tewasnya Dyah Pitaloka. Ia secara efektif terusir dari pusat gravitasi kekuasaan di Trowulan.


3. Absennya Candi Pendarmaan: Bukti Pencabutan Kehormatan

Ini adalah poin krusial yang sulit dibantah oleh penganut teori "Moksa". Di Majapahit, setiap tokoh besar, menteri, apalagi seorang Mahapatih, sudah sewajarnya dibuatkan Candi Pendarmaan atau monumen pemujaan setelah wafatnya.

 * Raden Wijaya didharmakan di Candi Simping.

 * Tribhuwana Tunggadewi didharmakan di Candi Rimbi.

 * Gajah Mada? Tidak ditemukan satu pun pendarmaan resmi atas namanya.

Ketiadaan pendarmaan ini merupakan bukti kuat bahwa negara telah mencabut hak penghormatan terakhirnya. Ia wafat sebagai rakyat biasa di tanah perdikan Madakaripura—terasing, kesepian, dan jauh dari kemegahan istana yang pernah ia kendalikan.


4. Karma Politik dan Mitos yang Beredar

Kejatuhan Gajah Mada ini seolah menjadi manifestasi nyata dari hukum karma. Ambisinya yang meluap di Bubat, yang mengabaikan empati demi supremasi kekuasaan, justru berbalik menjadi bumerang yang menghancurkan dirinya sendiri. Ia yang pernah menyatukan Nusantara, justru mati dalam kondisi "terpecah" dari restu rajanya.


Adapun narasi bahwa Gajah Mada "Moksa" hanyalah mitos yang beredar untuk memberikan penutup yang heroik bagi tokoh sebesar dirinya. Secara historis, ia adalah manusia biasa yang jatuh sakit (gering) dan wafat dalam kondisi terpuruk secara politis. Hilangnya jejak makamnya bukanlah bukti kesucian spiritual, melainkan konsekuensi dari pengabaian sejarah oleh otoritas Majapahit saat itu yang ingin menghapus jejak kegagalan sang Mahapatih.


Kesimpulan: Objektivitas di Atas Kultus Individu

Menghargai jasa Gajah Mada bukan berarti harus menutup mata terhadap kekeliruannya. Perang Bubat adalah pengingat bahwa ambisi tanpa kearifan dapat meruntuhkan kejayaan yang paling kokoh sekalipun. Gajah Mada tetaplah tokoh besar, namun ia adalah pahlawan yang tragis; membangun peradaban agung, tetapi harus menerima karma pahit: wafat dalam keterasingan oleh bangsa yang ia perjuangkan.


#NusantaraExcited #GajahMada #PerangBubat #SejarahMajapahit #SejarahIndonesia

[2/2 17.20] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/p/1BL8y9YdCG/


Sejarah Palsu, Sejarah Perang bubat, & Situs kawali.


Ciung Wanara ditulis dalam sejarah versi Raffles, Bubat tidak ada tulisan sama sekali.


Pembantaian rombongan Putri China yang datang mau dipersembahkjan ke Majapahit dituliskan oleh Tome Pires, Bubat peristiwa yang membantai nyaris satu dinasti kerajaan tidak ditulis sama sekali.


Petilasan-petilasan yang punya makna sejarah bagi orang Sunda, ditulis oleh Budjangga Manik, Bubat yg seharusnya membekas luar biasa dalam hati dan ingatan orang Sunda hanya ditulis sebagai tempat biasa.


Situs Kawali yang katanya salah satu pusat Spiritual Budaya Sunda,  tidak ada bicara tentang Bubat sama sekali, tidak ada "wangsit spiritual" tentang Bubat, kenapa? karena


Orang-orang Sunda sebelum abad 20 tidak ada yg mengenal Bubat, bahkan Nama Raja & Putri yg tewas di Bubat pun orang-orang sunda tidak ada yg tahu.  


Berdasarkan dari catatan Survey Arkeologi resmi situs Kawali tahun 1981, saat itu Situs Kawali masih Asli & Bebas narasi perang bubat, berbeda dengan sekarang yg sudah ditambah-tambah tentang Bubat.


(Lintangangrem)

[2/2 17.29] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Sejarah Trenggalek Lengkap dari Zaman Prasejarah hingga Modern: Jejak Menak Sopal, Bendungan Bagong, dan Lahirnya Kabupaten di Pesisir Selatan Jawa Ti - Trenggaleknjenggelek.jawapos.com https://share.google/IC0XO1S2HedYhaiX0

[2/2 18.42] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/p/1MNWXgu5cb/


PEMBANTAIAN PLERED 1647


Catatan VOC yang Belum Terverifikasi tentang 6.000 Ulama yang Dibunuh Amangkurat I


Oleh M. Basyir Zubair


Abstrak


Pada 1647 atau 1648, menurut catatan VOC, terjadi salah satu pembantaian paling brutal dalam sejarah Jawa: sekitar 5.000–6.000 ulama dan keluarga mereka dibantai di alun-alun Plered atas perintah Sultan Amangkurat I dari Mataram. Peristiwa ini tercatat dalam laporan Rijcklof van Goens, utusan VOC yang mengklaim menyaksikan langsung kejadian tersebut. Namun terdapat persoalan mendasar: tidak satu pun sumber lokal Jawa, baik babad, prasasti, maupun tradisi lisan, mencatat peristiwa ini. Seluruh narasi tentang Pembantaian Plered bersumber dari catatan Belanda, terutama karya H.J. de Graaf (1961) yang mengolah arsip VOC. Hingga kini, tidak ada penelitian arkeologi, tidak ada penggalian kuburan massal, dan tidak ada verifikasi independen atas klaim pembantaian 6.000 orang tersebut. Artikel ini memaparkan narasi berdasarkan sumber yang tersedia sekaligus mengajukan pertanyaan kritis: apakah peristiwa ini benar-benar terjadi? Jika benar, mengapa sumber Jawa membisu total? Jika tidak, mengapa VOC membangun narasi sedemikian ekstrem? Lebih jauh, mengapa sejarawan Indonesia hampir tidak pernah meninjau ulang klaim yang sangat serius ini?


Kata kunci: Amangkurat I, Plered, pembantaian ulama, VOC, Rijcklof van Goens, sumber Belanda, ketiadaan sumber lokal


I. Pendahuluan: Peristiwa yang Hanya Ada dalam Catatan Belanda


Narasi Rijcklof van Goens (1648)


Pada tahun 1648, seorang utusan VOC bernama Rijcklof van Goens tiba di kraton Plered, ibu kota Kesultanan Mataram yang baru, untuk bernegosiasi kontrak dagang dengan Sultan Amangkurat I. Apa yang ia saksikan atau klaim ia saksikan, digambarkan begitu mengerikan sehingga mendorongnya menulis laporan panjang kepada pemerintah VOC di Batavia.


Menurut van Goens, dua hari setelah kematian putra mahkota Raden Mas Alit, yang diduga diracun oleh ayahnya sendiri, Amangkurat I, sultan memerintahkan pengumpulan seluruh ulama dan keluarga mereka di alun-alun Plered dengan dalih mengadakan upacara doa bersama bagi sang pangeran (de Graaf, 1961).


Ketika ribuan ulama, kiai, santri, serta anggota keluarga mereka berkumpul, jumlahnya menurut van Goens mencapai 5.000–6.000 orang. Pasukan sultan kemudian mengepung alun-alun dan, dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, melakukan pembantaian massal menggunakan keris, tombak, dan pedang. Tidak ada yang dilaporkan selamat. Mayat-mayat ditumpuk dan dibakar, sementara darah disebut mengalir di alun-alun selama berhari-hari (de Graaf, 1961; Ricklefs, 2001).


Van Goens menggambarkan peristiwa ini dengan detail yang sangat grafis: para ulama yang mencoba melarikan diri, tangisan anak-anak, serta sikap Sultan Amangkurat I yang dikatakan menyaksikan kejadian itu dari kejauhan tanpa ekspresi. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai salah satu tindakan paling kejam yang pernah ia saksikan sepanjang hidupnya (van Goens dalam de Graaf, 1961).


Mengapa Amangkurat I Melakukannya?


Menurut interpretasi H.J. de Graaf, pembantaian tersebut didorong oleh paranoia politik dan upaya konsolidasi kekuasaan absolut.


Pertama, para ulama dipandang sebagai ancaman politik. Mereka memiliki pengaruh sosial yang luas dan berpotensi memobilisasi perlawanan terhadap kekuasaan raja. Amangkurat I, yang dikenal bersikap sinkretis dan lebih dekat pada tradisi Hindu-Jawa dibandingkan Islam ortodoks, diduga merasa terancam oleh otoritas religius ulama (de Graaf, 1961).


Kedua, kematian Raden Mas Alit memperparah ketegangan. Putra mahkota ini dilaporkan simpatik kepada ulama dan populer di kalangan rakyat. Kematian yang mencurigakan yang oleh beberapa sumber dikaitkan dengan perintah ayahnya sendiri, berpotensi memicu pemberontakan. Dalam logika ini, pembantaian dipandang sebagai upaya “memotong masalah dari akarnya” (Ricklefs, 2001).


Ketiga, tindakan tersebut dipahami sebagai strategi konsolidasi kekuasaan absolut. Dengan menyingkirkan ulama sebagai kekuatan sosial independen, Amangkurat I diduga berusaha memastikan bahwa tidak ada lagi lembaga atau kelompok yang dapat menantang otoritasnya. Setelah peristiwa itu, menurut interpretasi ini, seluruh struktur sosial Mataram berada di bawah kendali penuh sultan (Moertono, 1968).


Masalah Mendasar: Ketergantungan pada Satu Sumber


Persoalan paling serius dalam narasi Pembantaian Plered adalah ketergantungannya pada satu jenis sumber. Seluruh informasi tentang peristiwa ini bersumber dari catatan VOC, khususnya laporan Rijcklof van Goens yang kemudian diolah oleh de Graaf pada 1961.


Tidak ditemukan:


prasasti Jawa sezaman yang menyebut pembantaian,


babad atau kronik Jawa yang merekam peristiwa tersebut,


tradisi lisan di Plered atau wilayah sekitarnya tentang kuburan massal ribuan ulama,


bukti arkeologis berupa penggalian atau temuan kuburan massal,


maupun sumber-sumber Muslim kontemporer dari dunia Arab, Persia, atau Melayu yang mengonfirmasi peristiwa ini.


Semua sumber lokal Jawa tentang masa pemerintahan Amangkurat I, termasuk Babad Tanah Jawi yang relatif rinci dalam mencatat konflik dan kekerasan politik, membisu total mengenai pembantaian ini (Ricklefs, 2001).


Pertanyaan-Pertanyaan Kritis


Sebelum narasi Pembantaian Plered diterima sebagai fakta sejarah, sejumlah pertanyaan mendasar perlu diajukan:


1. Apakah Rijcklof van Goens benar-benar menyaksikan langsung peristiwa tersebut, ataukah ia hanya merekam informasi dari pihak lain?


2. Apakah VOC memiliki kepentingan politik atau ekonomi untuk membangun citra negatif tentang Amangkurat I?


3. Bagaimana mungkin pembantaian terhadap 6.000 orang tidak meninggalkan jejak dalam memori kolektif masyarakat Jawa?


4. Mengapa Babad Tanah Jawi, yang mencatat berbagai skandal dan kekerasan raja-raja Mataram, sama sekali tidak menyebut peristiwa ini?


5. Di manakah kuburan massal para korban, dan mengapa hingga kini tidak pernah ditemukan?


Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi dasar untuk menelusuri kembali peristiwa Pembantaian Plered secara lebih kritis dan metodologis.


II. Konteks Politik: Amangkurat I dan Krisis Legitimasi


Amangkurat I sebagai Penguasa Kontroversial


Amangkurat I (berkuasa 1646–1677) merupakan salah satu sultan paling kontroversial dalam sejarah Kesultanan Mataram. Ia naik takhta pada 1646, menggantikan ayahnya, Sultan Agung, raja terbesar Mataram yang berhasil menguasai hampir seluruh Jawa dan hampir mengusir VOC dari Batavia.


Namun, Amangkurat I mewarisi sebuah imperium yang luas tetapi rapuh. Berbeda dengan Sultan Agung yang karismatik dan memiliki legitimasi kuat di mata elite dan rakyat, Amangkurat I digambarkan dalam sumber-sumber VOC sebagai penguasa yang problematik. Ia disebut memiliki kecenderungan paranoia dan kekerasan ekstrem, termasuk membunuh siapa pun yang dicurigai mengancam kekuasaannya, bahkan anggota keluarganya sendiri (de Graaf, 1961).


Dalam bidang religius, Amangkurat I juga dipotret sebagai sosok yang sinkretis. Ia tidak menampilkan diri sebagai penguasa Islam ortodoks, melainkan lebih condong pada tradisi mistik Jawa (kejawen) yang memadukan unsur Islam, Hindu, dan kepercayaan lokal (Moertono, 1968). Sikap ini memperlemah legitimasi religiusnya di mata kelompok ulama.


Secara politik-ekonomi, Amangkurat I mengambil arah yang sangat berbeda dari ayahnya. Jika Sultan Agung dikenal sebagai musuh utama VOC, Amangkurat I justru menjalin aliansi dengan VOC untuk mempertahankan kekuasaannya. Ketergantungan ini semakin merusak citranya di mata bangsawan, ulama, dan rakyat yang memandang VOC sebagai kekuatan asing yang eksploitatif (Ricklefs, 2001).


Ulama sebagai Kekuatan Sosial dan Politik


Pada pertengahan abad ke-17, ulama merupakan salah satu kekuatan sosial paling berpengaruh di Jawa. Peran mereka tidak terbatas pada aktivitas keagamaan, tetapi juga mencakup fungsi sosial dan politik yang signifikan. Ulama memimpin pesantren dan masjid, memiliki jaringan luas di pedesaan yang sering kali berada di luar jangkauan birokrasi kraton, serta mampu memobilisasi massa dalam skala besar.


Dalam berbagai konteks di Jawa dan Asia Tenggara, ulama terbukti dapat menjadi aktor penting dalam pemberontakan dan pergantian kekuasaan. Mereka juga berperan sebagai sumber legitimasi religius yang relatif independen dari otoritas sultan. Bagi seorang penguasa yang legitimasi religiusnya lemah, keberadaan ulama dapat berubah menjadi ancaman langsung.


Dalam pandangan seorang sultan yang sinkretis dan cenderung paranoid seperti Amangkurat I, ulama berpotensi mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa yang “tidak islami” dan menggalang perlawanan rakyat. Preseden semacam ini dikenal dalam sejarah kerajaan-kerajaan Muslim di Asia Tenggara, seperti di Aceh, Banten, dan Demak, di mana ulama pernah berperan dalam menjatuhkan penguasa yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam (Ricklefs, 2001).


Kematian Raden Mas Alit sebagai Pemicu Krisis


Menurut catatan VOC, Raden Mas Alit, putra mahkota Amangkurat I, digambarkan sebagai sosok yang populer dan memiliki kedekatan dengan kalangan ulama. Ia disebut lebih religius dan lebih disukai rakyat dibandingkan ayahnya yang otoriter.


Pada tahun 1647, Raden Mas Alit meninggal secara mendadak dalam usia muda. Berbagai rumor yang dicatat dalam sumber Belanda menyebutkan bahwa ia diracun atas perintah ayahnya sendiri. Motif yang dikemukakan adalah ketakutan Amangkurat I bahwa putranya akan merebut takhta dengan dukungan ulama (de Graaf, 1961).


Kematian ini disebut memicu kemarahan dan ketegangan di kalangan ulama dan masyarakat. Dalam laporan van Goens, situasi politik setelah kematian Raden Mas Alit digambarkan sangat genting, dengan indikasi bahwa pemberontakan dapat meletus sewaktu-waktu. Dalam konteks inilah, menurut sumber VOC, Amangkurat I mengambil langkah yang disebut sebagai preemptive strike: melakukan pembantaian massal terhadap ulama sebelum mereka sempat mengorganisasi perlawanan terbuka.


III. Peristiwa Pembantaian: Versi VOC


Pengumpulan Ulama Melalui Tipu Muslihat


Menurut laporan Rijcklof van Goens, beberapa hari setelah kematian Raden Mas Alit, Sultan Amangkurat I mengeluarkan perintah ke seluruh wilayah Mataram agar semua ulama, kiai, dan santri datang ke Plered untuk menghadiri upacara doa bersama (tahlilan) bagi almarhum putra mahkota (de Graaf, 1961).


Perintah ini bersifat imperatif dan tidak menyediakan ruang penolakan. Ketidakhadiran dapat ditafsirkan sebagai tindakan tidak hormat terhadap keluarga kerajaan, bahkan sebagai bentuk pembangkangan politik. Dalam konteks kekuasaan absolut Mataram, perintah semacam ini pada dasarnya wajib dipatuhi.


Van Goens mencatat bahwa ulama datang dari berbagai wilayah pesisir dan pedalaman Jawa, termasuk Demak, Gresik, Kudus, Cirebon, dan Banten. Mereka tidak datang sendiri, melainkan bersama keluarga, istri, anak, dan santri. Jumlah total yang hadir, menurut klaim van Goens, mencapai sekitar 5.000–6.000 orang yang kemudian berkumpul di alun-alun Plered (de Graaf, 1961).


Eksekusi Massal di Alun-Alun Plered


Pada hari yang telah ditentukan, para ulama dan keluarga mereka duduk berjajar di alun-alun Plered untuk mengikuti doa bersama. Menurut laporan van Goens, situasi awal tampak seperti ritual keagamaan biasa, tanpa tanda-tanda kekerasan.


Namun, secara tiba-tiba, pasukan sultan yang berjumlah besar muncul dan mengepung alun-alun dari segala arah. Para prajurit tersebut bersenjata keris, tombak, dan pedang. Van Goens menuliskan bahwa setelah sebuah isyarat diberikan, pasukan segera menyerang kerumunan tanpa peringatan.


Dalam deskripsinya yang sangat grafis, van Goens menyatakan bahwa para ulama, santri, dan anggota keluarga mereka dibantai tanpa pandang bulu. Mereka yang berusaha melarikan diri ditombak dari belakang, sementara anak-anak dan perempuan dibunuh bersama orang dewasa. Darah, menurutnya, mengalir di alun-alun, dan seluruh peristiwa berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, kurang dari setengah jam, tanpa seorang pun yang selamat (van Goens dalam de Graaf, 1961).


Van Goens juga mengklaim bahwa ia menyaksikan kejadian tersebut dari kejauhan, dari area tempat tinggalnya di kompleks kraton. Ia menulis bahwa Sultan Amangkurat I mengamati pembantaian dari balkon istana tanpa menunjukkan ekspresi emosional, sebuah gambaran yang ia ibaratkan seperti seseorang menonton pertunjukan wayang (de Graaf, 1961).


Pembakaran Mayat dan Upaya Penghapusan Jejak


Setelah eksekusi massal selesai, van Goens melaporkan bahwa mayat-mayat korban ditumpuk di tepi alun-alun dan kemudian dibakar. Abu serta sisa-sisa tulang disebutkan dibuang ke Sungai Opak yang mengalir tidak jauh dari Plered. Alun-alun dibersihkan secara menyeluruh, dan dalam waktu singkat tidak tampak lagi tanda-tanda terjadinya kekerasan besar.


Lebih jauh, van Goens menyatakan bahwa Sultan Amangkurat I memerintahkan kebisuan total. Siapa pun yang membicarakan peristiwa tersebut atau mencoba menyebarkan cerita tentang pembantaian akan dihukum mati. Larangan ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa tidak ada catatan atau ingatan publik yang bertahan mengenai kejadian tersebut.


H.J. de Graaf menggunakan laporan ini untuk menjelaskan mengapa sumber-sumber lokal Jawa tidak mencatat peristiwa tersebut. Menurutnya, pembantaian Plered disertai dengan penghapusan memori secara sistematis melalui teror negara, sehingga peristiwa sebesar apa pun dapat lenyap dari catatan tertulis maupun tradisi lisan (de Graaf, 1961).


IV. Masalah Metodologis: Alasan untuk Bersikap Skeptis


Sumber Tunggal dan Risiko Epistemologis


Dalam metodologi sejarah, terdapat prinsip dasar yang tidak bisa ditawar: verifikasi silang (cross-verification). Sebuah peristiwa dianggap dapat diterima secara akademik apabila didukung oleh minimal dua sumber independen yang saling mengonfirmasi.


Pembantaian Plered tidak memenuhi kriteria ini. Seluruh narasi mengenai peristiwa tersebut bersumber dari catatan VOC, khususnya laporan Rijcklof van Goens, yang kemudian disistematisasi oleh H.J. de Graaf. Tidak terdapat konfirmasi dari:


Sumber Jawa (babad, prasasti, kronik kraton)


Sumber Muslim kontemporer (Arab, Persia, atau Melayu)


Sumber Eropa non-VOC (Portugis atau Inggris yang juga hadir di Asia Tenggara)


Bukti arkeologis (kuburan massal, lapisan abu, atau sisa pembakaran)


Sejarawan M.C. Ricklefs secara eksplisit menyoroti persoalan ini. Ia menulis bahwa ketiadaan sumber Jawa merupakan masalah serius yang tidak bisa diabaikan. Menurutnya, meskipun mungkin Amangkurat I berhasil menekan ingatan kolektif, kemungkinan lain yang sama validnya adalah bahwa laporan VOC telah dilebih-lebihkan atau bahkan direkayasa (Ricklefs, 2001).


Dengan demikian, secara metodologis, klaim pembantaian massal ini belum dapat dianggap sebagai fakta historis yang mapan.


Motivasi VOC: Netral atau Beragenda?


VOC bukanlah pengamat netral. Pada dekade 1640-an, perusahaan dagang ini memiliki kepentingan strategis yang jelas terhadap Kesultanan Mataram. Tujuan-tujuan utama VOC pada periode ini meliputi:


1. Mengamankan monopoli perdagangan, terutama beras dan komoditas strategis Jawa


2. Melemahkan Mataram agar tidak kembali menjadi kekuatan militer seperti pada masa Sultan Agung


3. Menciptakan ketergantungan politik dan ekonomi sultan terhadap VOC


Dalam konteks ini, pelaporan mengenai kekejaman Amangkurat I, termasuk pembantaian massal ulama, sangat menguntungkan VOC. Narasi tersebut dapat:


Mendiskreditkan Amangkurat I di mata dunia Islam, dengan menampilkan dirinya sebagai penguasa yang membunuh ulama


Menyediakan justifikasi moral bagi intervensi VOC di kemudian hari


Digunakan sebagai alat tekanan dalam negosiasi politik dan dagang


Hal ini tidak otomatis berarti bahwa van Goens berbohong. Namun, penting ditekankan bahwa ia adalah agen VOC dengan kepentingan institusional, bukan saksi independen. Oleh karena itu, laporannya harus dibaca secara kritis, bukan diterima apa adanya.


Angka 6.000 Korban: Realitas atau Hiperbola?


Klaim bahwa 5.000–6.000 ulama dan keluarga mereka dibunuh dalam satu peristiwa menimbulkan persoalan demografis serius. Pada abad ke-17, total populasi ulama dan santri di Jawa kemungkinan hanya berjumlah puluhan ribu. Pembunuhan 6.000 orang dalam satu hari akan berarti pemusnahan hampir seluruh elite keagamaan Islam Jawa.


Jika peristiwa sebesar itu benar-benar terjadi, konsekuensinya seharusnya sangat jelas, antara lain:


Kolaps sistem pendidikan Islam akibat hilangnya guru dan ulama


Pemberontakan massal dari komunitas santri dan keluarga korban


Reaksi keras dari kerajaan-kerajaan Muslim lain seperti Banten atau Aceh


Namun, tidak ada catatan mengenai dampak-dampak tersebut. Mataram terus berfungsi secara relatif normal setelah 1647. Tidak tercatat pemberontakan besar yang secara eksplisit dikaitkan dengan pembantaian ulama, maupun intervensi dari kekuatan Muslim eksternal.


Hal ini menimbulkan kemungkinan bahwa angka 6.000 adalah hiperbola naratif. Mungkin terjadi pembunuhan terhadap sejumlah ulama, puluhan atau ratusan, yang kemudian dibesar-besarkan dalam laporan VOC.


Keheningan Babad Jawa


Ketiadaan catatan dalam Babad Tanah Jawi merupakan teka-teki terbesar. Babad ini dikenal mencatat secara rinci berbagai kekejaman dan skandal para raja Mataram, termasuk pembunuhan internal keluarga kerajaan dan kekerasan militer berskala besar.


Namun, tidak ada satu pun penyebutan mengenai pembantaian ribuan ulama di Plered (Ricklefs, 2001).


Terdapat tiga kemungkinan penjelasan:


1. Penghapusan memori total melalui teror negara


2. Peristiwa tidak terjadi seperti yang diklaim, atau tidak berskala besar


3. Sensor elite kraton, yang menolak merekam tindakan genosidal sultan


Tanpa penelitian lanjutan, ketiga kemungkinan ini tetap terbuka.


V. Ketiadaan Penelitian Modern: Sebuah Kekosongan Serius


Ketiadaan Bukti Arkeologis


Hingga saat ini, tidak pernah dilakukan penggalian arkeologis sistematis di Plered untuk mencari bukti fisik pembantaian. Jika ribuan orang benar-benar dibunuh dan dibakar, seharusnya terdapat:


Sisa-sisa tulang dalam jumlah besar


Lapisan abu tebal dalam stratigrafi tanah


Artefak pribadi korban


Jejak senjata atau alat pembantaian


Tidak satu pun dari bukti tersebut pernah dicari secara serius. Tanpa data arkeologis, klaim VOC tidak dapat diverifikasi maupun dibantah secara empiris.


Minimnya Kajian Sejarah Indonesia Kontemporer


Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketiadaan penelitian sejarah modern oleh sejarawan Indonesia mengenai peristiwa ini. Hingga kini, hampir semua rujukan masih bergantung pada karya H.J. de Graaf (1961), tanpa telaah ulang kritis.


Tidak ada:


Penelitian ulang arsip VOC dengan metodologi baru


Upaya penelusuran sumber non-Belanda


Analisis mendalam terhadap babad dan tradisi lisan


Studi etnografi di wilayah Plered


Kajian komparatif dengan pembantaian massal lain


Situasi ini menciptakan kekosongan akademik yang serius.


Mengapa Keheningan Ini Terjadi?


Beberapa faktor mungkin berperan:


Sensitivitas politik dan religius


Ketergantungan pada otoritas historiografi kolonial


Keterbatasan akses arsip


Kecenderungan memilih topik penelitian yang “aman”


Apa pun alasannya, keheningan ini merugikan pemahaman sejarah. Tanpa penelitian independen, kita terus terjebak antara menerima narasi kolonial atau menolaknya tanpa dasar empiris yang kuat.


VI. Kemungkinan-Kemungkinan: Apa yang Benar-Benar Terjadi?


Tanpa dukungan penelitian modern yang memadai, kebenaran peristiwa pembantaian ulama pada masa Amangkurat I tidak dapat dipastikan secara definitif. Namun demikian, berdasarkan pembacaan kritis terhadap sumber-sumber yang ada, khususnya laporan VOC, beberapa skenario berikut dapat diajukan sebagai kemungkinan historis.


Skenario 1: Pembantaian Terjadi Seperti yang Diklaim Sumber VOC


Tingkat kemungkinan: ±30%


Argumen pendukung

Van Goens mengklaim sebagai saksi mata dan menyajikan laporan dengan detail yang sangat spesifik, termasuk kronologi, lokasi, serta cara eksekusi. Selain itu, sejumlah sumber lain menggambarkan Amangkurat I sebagai penguasa yang keras, paranoid, dan tidak segan menggunakan kekerasan ekstrem terhadap pihak yang dianggap mengancam stabilitas kekuasaannya. Dalam konteks ini, penghapusan memori melalui teror sistematis dapat menjelaskan ketiadaan sumber lokal Jawa yang mencatat peristiwa tersebut.


Argumen penyanggah

Namun demikian, hingga kini tidak ditemukan bukti fisik berupa kuburan massal, lapisan abu, atau artefak yang dapat dikaitkan dengan pembantaian berskala ribuan korban. Selain itu, sebuah genosida dalam skala 5.000–6.000 orang seharusnya menimbulkan dampak sosial, demografis, dan politik yang lebih jelas dalam sumber-sumber sezaman. Ketergantungan pada satu sumber utama menjadikan klaim ini sangat problematis secara metodologis.


Skenario 2: Terjadi Pembunuhan, Tetapi Tidak dalam Skala yang Diklaim VOC


Tingkat kemungkinan: ±50%


Dalam skenario ini, sangat mungkin terjadi pembunuhan terhadap sejumlah ulama atau tokoh agama yang dianggap membahayakan posisi sultan, tetapi jumlah korban jauh lebih kecil daripada yang dilaporkan oleh VOC. Angka korban kemungkinan dibesar-besarkan untuk kepentingan propaganda kolonial, terutama guna membangun citra Amangkurat I sebagai penguasa kejam dan tidak stabil.


Skenario ini relatif mampu menjelaskan mengapa peristiwa tersebut muncul dalam arsip VOC, tetapi tidak meninggalkan konsekuensi sosial yang sangat masif dalam tradisi lokal maupun sumber Jawa. Ia juga selaras dengan pola umum laporan kolonial yang kerap melakukan dramatisasi untuk kepentingan politik dan diplomatik.


Skenario 3: Pembantaian Tidak Pernah Terjadi dan Merupakan Propaganda VOC


Tingkat kemungkinan: ±20%


VOC memiliki kepentingan strategis untuk mendiskreditkan Amangkurat I, terutama dalam upaya memperkuat posisi tawar mereka di Jawa. Ketiadaan total sumber lokal, baik babad, hikayat, maupun tradisi lisan yang eksplisit, menjadi salah satu argumen utama bagi skenario ini. Selain itu, angka korban sekitar 6.000 jiwa tampak kurang realistis jika dikaitkan dengan kondisi demografi dan logistik Jawa abad ke-17.


Namun, skenario ini juga menghadapi keberatan serius. Sulit membayangkan seorang pejabat tinggi VOC seperti van Goens sepenuhnya memalsukan peristiwa sebesar ini tanpa risiko besar terhadap kredibilitas dan kariernya. Detail-detail naratif tertentu dalam laporannya juga tampak terlalu spesifik untuk dianggap sepenuhnya fiktif.


Apa yang Diperlukan untuk Mengetahui Kebenaran


Untuk mendekati kepastian historis, beberapa langkah penelitian berikut menjadi sangat krusial:


1. Penggalian arkeologis di Plered, khususnya untuk mencari indikasi kuburan massal, lapisan pembakaran, atau sisa material lain.


2. Penelitian arsip lanjutan, mencakup sumber VOC lain serta dokumen Portugis, Inggris, atau sumber Muslim sezaman.


3. Analisis kritis terhadap babad Jawa, termasuk kemungkinan penggunaan bahasa simbolik atau referensi tersandi.


4. Pendekatan etnografis, melalui penelusuran memori kolektif dan tradisi lisan masyarakat Plered dan sekitarnya.


5. Studi komparatif, dengan membandingkan klaim ini dengan kasus kekerasan massal lain dalam konteks sejarah Asia Tenggara.


Sampai seluruh pendekatan tersebut dilakukan secara sistematis, sikap akademik yang paling jujur adalah mengakui keterbatasan pengetahuan kita saat ini: kita belum mengetahui dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi.


VII. Warisan dan Implikasi


Amangkurat I: Monster Sejarah atau Korban Narasi?


Amangkurat I menempati posisi unik dalam historiografi Jawa sebagai salah satu penguasa yang paling sering digambarkan secara negatif. Citra tersebut terutama dibentuk oleh laporan-laporan VOC yang menekankan kekejaman, paranoia, dan tindakan represifnya, termasuk tuduhan Pembantaian Plered.


Namun demikian, pembacaan sejarah semacam ini perlu ditempatkan dalam kerangka “sejarah para pemenang” (victor’s history). VOC muncul sebagai kekuatan yang akhirnya mendominasi Jawa, sementara Mataram runtuh dan tidak lagi memiliki posisi untuk menegosiasikan atau membela narasinya sendiri. Dalam kondisi seperti ini, gambaran tentang Amangkurat I sangat mungkin dibentuk secara sepihak oleh pihak yang memiliki kendali atas produksi arsip dan penulisan sejarah.


Pertanyaan kuncinya tetap terbuka: apakah Amangkurat I benar-benar seorang penguasa yang membantai ribuan ulama, ataukah ia merupakan figur yang direduksi menjadi simbol kebiadaban oleh musuh-musuh politiknya? Sampai saat ini, jawaban yang pasti belum dapat diberikan, dan justru di situlah letak persoalan metodologisnya.


Implikasi terhadap Memori Kolektif Islam Jawa


Apabila Pembantaian Plered benar-benar terjadi sebagaimana diklaim sumber VOC, maka peristiwa tersebut seharusnya menjadi salah satu trauma terdalam dalam sejarah Islam Jawa. Dalam skala simbolik, ia berpotensi melampaui trauma invasi asing atau kolonialisme, karena melibatkan kekerasan massal terhadap otoritas keagamaan dari dalam struktur kekuasaan sendiri.


Namun, yang justru mencolok adalah ketiadaan peristiwa ini dalam memori kolektif masyarakat Jawa Muslim. Tidak ditemukan tradisi peringatan, monumen, ritual ziarah, maupun narasi lisan yang secara jelas merujuk pada tragedi tersebut. Ketiadaan ini tidak serta-merta membuktikan bahwa peristiwa itu tidak pernah terjadi, tetapi menunjukkan adanya ketidakpastian historis yang sangat mendalam.


Situasi ini menciptakan apa yang dapat disebut sebagai “limbo sejarah”: sebuah kondisi di mana masyarakat tidak dapat mengenang, meratapi, atau memaknai suatu tragedi karena dasar faktualnya sendiri tidak pernah benar-benar kokoh.


Pelajaran Metodologis: Bahaya Ketergantungan pada Sumber Tunggal


Kasus Pembantaian Plered merupakan contoh paradigmatik tentang bahaya ketergantungan pada satu sumber dalam historiografi. Ketika sebuah peristiwa besar hanya diketahui melalui satu versi—terlebih lagi berasal dari pihak yang memiliki kepentingan politik, batas antara fakta sejarah dan konstruksi propaganda menjadi sangat kabur.


Dari kasus ini, terdapat beberapa pelajaran metodologis penting bagi penulisan sejarah Indonesia ke depan. Sejarawan perlu secara konsisten melakukan verifikasi lintas-sumber, bersikap kritis terhadap arsip kolonial, serta memiliki keberanian akademik untuk meneliti dan, bila perlu, menggugat narasi yang telah mapan. Tanpa sikap semacam ini, historiografi berisiko terus mereproduksi “fakta” yang sesungguhnya masih berada dalam wilayah spekulasi.


Dengan demikian, Pembantaian Plered bukan hanya persoalan tentang apa yang terjadi di masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana sejarah ditulis, diwariskan, dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.


VIII. Kesimpulan: Misteri yang Menunggu Penelitian


Pembantaian Plered tahun 1647, apabila benar terjadi sebagaimana diklaim sumber VOC, akan merupakan salah satu episode kekerasan paling ekstrem dalam sejarah Jawa dan Islam Indonesia. Sebaliknya, apabila peristiwa tersebut tidak pernah terjadi dalam skala yang dikisahkan, maka kita berhadapan dengan salah satu konstruksi narasi paling berhasil dalam sejarah kolonial, sebuah tuduhan yang selama berabad-abad membentuk citra negatif seorang sultan tanpa pernah diverifikasi secara memadai.


Masalah utamanya sederhana namun mendasar: kita tidak mengetahui kebenarannya karena belum pernah ada penelitian komprehensif yang dilakukan.


Fakta-fakta yang tersedia saat ini menunjukkan pola yang sangat problematis. Seluruh narasi tentang Pembantaian Plered bertumpu pada satu tradisi sumber, yakni arsip VOC, terutama laporan Rijcklof van Goens yang kemudian dirangkum dan dipopulerkan kembali oleh H.J. de Graaf. Di sisi lain, sumber-sumber lokal Jawa, termasuk Babad Tanah Jawi, tidak memberikan konfirmasi apa pun. Bukti arkeologis tidak pernah dicari secara sistematis, dan penelitian sejarah modern yang independen nyaris tidak ada.


Kondisi ini menunjukkan kegagalan kolektif dalam praktik historiografi. Klaim tentang pembantaian ribuan ulama telah berulang kali direproduksi dalam buku teks, tulisan populer, dan wacana publik, tanpa melalui proses verifikasi lintas-disiplin yang seharusnya menjadi standar ilmiah.


Untuk keluar dari kebuntuan ini, beberapa langkah penelitian mendesak perlu dilakukan. Pertama, penggalian arkeologis di kawasan Plered harus dilakukan untuk mencari kemungkinan bukti fisik berupa kuburan massal, lapisan abu, atau artefak yang berkaitan dengan kekerasan massal. Kedua, riset arsip yang lebih luas perlu diarahkan tidak hanya pada sumber VOC, tetapi juga pada arsip Portugis, Inggris, dan sumber Muslim kontemporer yang mungkin terlewatkan. Ketiga, analisis kritis terhadap sumber-sumber kolonial harus dilakukan secara sistematis, dengan mempertimbangkan konteks politik dan kepentingan penulisnya. Keempat, seluruh temuan tersebut perlu dipublikasikan dalam forum akademik yang teruji melalui mekanisme peer review.


Sampai langkah-langkah tersebut dijalankan, sikap akademik yang paling jujur adalah menahan diri untuk menyebut Pembantaian Plered sebagai fakta sejarah yang mapan. Pernyataan yang paling bertanggung jawab secara ilmiah saat ini adalah sebagai berikut:


“Menurut catatan VOC yang belum terverifikasi, pada tahun 1647 terjadi pembantaian massal ulama di Plered. Klaim ini belum dikonfirmasi oleh sumber independen maupun bukti arkeologis, sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut.”


Kebenaran sejarah terlalu penting untuk disandarkan pada satu sumber, terlebih jika sumber tersebut berasal dari pihak yang memiliki kepentingan politik yang jelas. Plered, pada akhirnya, bukan hanya menunggu klarifikasi masa lalu, tetapi juga menunggu keberanian intelektual para peneliti masa kini.


Plered menunggu arkeolog yang berani. Sejarah menunggu peneliti yang jujur.


Yogyakarta 28012026


Daftar Pustaka


de Graaf, H. J. (1961). De Regering van Sunan Mangku-Rat I Tegal-Wangi, vorst van Mataram, 1646–1677. The Hague: Martinus Nijhoff.


Moertono, S. (1968). State and Statecraft in Old Java: A Study of the Later Mataram Period, 16th to 19th Century. Ithaca: Cornell University Southeast Asia Program.


Ricklefs, M. C. (2001). A History of Modern Indonesia Since c. 1200 (3rd ed.). Stanford: Stanford University Press.


van Goens, R. (1956). De vijf gezantschapsreizen van Rijcklof van Goens naar het hof van Mataram, 1648–1654. Edited by H. J. de Graaf. The Hague: Martinus Nijhoff.


Catatan Penulis

Artikel ini tidak dimaksudkan untuk membela ataupun menolak satu versi sejarah secara ideologis. Tujuan utamanya adalah menyoroti ketiadaan penelitian modern yang serius terhadap salah satu klaim paling kontroversial dalam sejarah Jawa. Sebagai peneliti, tanggung jawab utama kita adalah mencari kebenaran melalui metodologi yang ketat, bukan mengulang narasi mapan tanpa kritik. Terjadi atau tidaknya Pembantaian Plered harus ditentukan melalui riset ilmiah, bukan melalui kepercayaan atau penolakan apriori. Kebenaran sejarah adalah hak generasi mendatang, dan kewajiban generasi sekarang untuk mengupayakannya.


Gambar hanya pemanis saja

[2/2 18.45] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/p/1GFtFu45ri/


LELUHUR DARI SURAKARTA DAN YOGYAKARTA DARI AWAL JELAS TRAH SILSILAH KETURUNAN MAJAPAHIT SAMPAI MATARAM 


Susuhunan Amangkurat IV

Merupakan Susuhunan Mataram ke-8 yang ber ibukota di Kartasura. Beliau memiliki nama asli Raden Mas Suryaputra dan bertahta di Mataram pada tahun 1719 hingga 1726 yang mana sepanjang masa nya terjadi Perang Suksesi Tahta Jawa ke 2


Susuhunan Hamangkurat IV merupakan putra dari Susuhunan Pakubuwana I dan memiliki beberapa istri berikut istri Amangkurat IV. 


1. Garwa padmi / Prameswari dalem (permaisuri) GKR. Kencana (Ratu Mas Kadipaten) memiliki anak yang bernama Raden Mas Prabasuyasa yang kelak menjadi Susuhunan Mataram ke-9 dengan bergelar Susuhunan Pakubuwana II.


2.Garwa ampil (selir) Mas Ayu Tejawati yang memiliki anak yang bernama Raden Mas Sujana yang bergelar Pangeran Mangkubumi kelak menjadi Sultan Hamengkubuwana I, pendiri Kesultanan Yogyakarta

[2/2 18.46] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/p/14VhXA51pZp/


LELUHUR DARI SURAKARTA DAN YOGYAKARTA DARI AWAL JELAS TRAH SILSILAH KETURUNAN MAJAPAHIT SAMPAI MATARAM 


Susuhunan Amangkurat IV

Merupakan Susuhunan Mataram ke-8 yang ber ibukota di Kartasura. Beliau memiliki nama asli Raden Mas Suryaputra dan bertahta di Mataram pada tahun 1719 hingga 1726 yang mana sepanjang masa nya terjadi Perang Suksesi Tahta Jawa ke 2


Susuhunan Hamangkurat IV merupakan putra dari Susuhunan Pakubuwana I dan memiliki beberapa istri berikut istri Amangkurat IV. 


1. Garwa padmi / Prameswari dalem (permaisuri) GKR. Kencana (Ratu Mas Kadipaten) memiliki anak yang bernama Raden Mas Prabasuyasa yang kelak menjadi Susuhunan Mataram ke-9 dengan bergelar Susuhunan Pakubuwana II.


2.Garwa ampil (selir) Mas Ayu Tejawati yang memiliki anak yang bernama Raden Mas Sujana yang bergelar Pangeran Mangkubumi kelak menjadi Sultan Hamengkubuwana I, pendiri Kesultanan Yogyakarta

[2/2 18.48] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/p/16FwgpGTJX/


Selama ini, narasi Perang Jawa selalu dibungkus dengan bumbu kepahlawanan Pangeran Diponegoro yang gagah berani. Namun, di balik bayang-bayang sorban dan keris tersebut, tersimpan sebuah kenyataan pahit yang jarang dibicarakan: perang ini adalah awal dari "kematian" kedaulatan sosial dan ekonomi rakyat Jawa. Perang ini bukan sekadar perlawanan, melainkan sebuah tragedi yang membuat tanah Jawa bangkrut secara total—baik secara finansial maupun mental—yang dampaknya kita rasakan hingga berabad-abad kemudian.


1. Harga Sebuah Ambisi: 200.000 Nyawa Melayang

Banyak yang memuja perlawanan ini tanpa melihat angka kematian yang mengerikan. Sekitar 200.000 penduduk sipil Jawa tewas, baik karena pertempuran, kelaparan, maupun wabah penyakit yang merebak akibat perang yang berlarut-larut.

 * Realitasnya: Satu perlima dari populasi Yogyakarta saat itu musnah. Desa-desa menjadi kuburan massal, sawah-sawah terbengkalai, dan struktur sosial masyarakat desa hancur lebur demi sebuah konflik yang awalnya dipicu oleh sengketa lahan bangsawan dan patok jalan Belanda.


2. Kebangkrutan Total dan Utang yang Mencekik

Perang Jawa adalah salah satu perang termahal bagi Belanda, namun dampak ekonominya jauh lebih menghancurkan bagi pihak pribumi.

 * Kas Kerajaan Kosong: Kas Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta terkuras habis.

 * Kehilangan Kendali Ekonomi: Untuk menambal kerugian perang yang mencapai 20 juta gulden, Belanda menerapkan kebijakan yang jauh lebih brutal daripada perang itu sendiri.


3. Lahirnya "Cultuurstelsel": Warisan Berdarah Perang Jawa

Inilah poin yang paling menohok: Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) adalah anak kandung dari kegagalan Perang Jawa.

 * Karena Belanda hampir bangkrut akibat perang ini, mereka memeras rakyat Jawa melalui Tanam Paksa untuk mengembalikan modal.

 * Kompensasi Pahit: Alih-alih mendapatkan kemerdekaan, rakyat jelata Jawa justru dijebak dalam sistem kerja paksa yang paling eksploitatif dalam sejarah kolonial. Perang ini tidak membebaskan rakyat, melainkan justru "menjual" mereka ke dalam penderitaan yang lebih dalam selama puluhan tahun berikutnya.


4. Runtuhnya Wibawa Kaum Bangsawan

Pasca-1830, wibawa bangsawan Jawa tidak pernah sama lagi. Mereka tidak lagi menjadi pemimpin yang berdaulat, melainkan hanya menjadi "pegawai" Belanda yang digaji.

 * Perang ini mengakhiri era kerajaan-kerajaan Jawa yang kuat. Sejak saat itu, keraton hanya menjadi simbol budaya yang tidak memiliki kekuatan politik nyata. Rakyat Jawa pun kehilangan pelindung sejatinya dan dipaksa tunduk sepenuhnya pada administrasi kolonial.


Catatan Edukasi Sejarah: Romantisme yang Mematikan

Memuja Perang Jawa tanpa melihat kehancuran sistemik yang diakibatkannya adalah sebuah kesalahan fatal. Perang ini menunjukkan bahwa keberanian tanpa strategi politik yang matang hanya akan berakhir pada kesengsaraan rakyat kecil. Kita harus berhenti terbuai oleh narasi heroik dan mulai berani melihat bahwa perang ini adalah sebuah "bunuh diri kolektif" yang mengubah tanah Jawa menjadi perkebunan besar milik asing.


#NusantaraExcited #PerangJawa #Diponegoro #SejarahJawa #FaktaSejarah #TanamPaksa #SejarahNusantara #IlusiKejayaan #MataramIslam

[2/2 18.49] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02txhzJe3scXfiqKNUXCwJuqUY6rCFFULJE5LbrSkfaoPQsiqromDWv9xr37MCxbvMl&id=100073335416085&post_id=100073335416085_pfbid02txhzJe3scXfiqKNUXCwJuqUY6rCFFULJE5LbrSkfaoPQsiqromDWv9xr37MCxbvMl&sfnsn=wiwspwa&mibextid=VhDh1V


Kisah Sejarah

--- HAJJAJ BIN YUSUF ATS-TSAQAFI ---

                             (Part 3)

                     Oleh: Mbah Jev 


a).

PEMBERONTAKAN DARI DALAM, PERANG IBN AL-ASH‘ATS


     Waktu bergerak memasuki akhir abad pertama Hijriah, dan ketenangan yang dibangun Hajjaj bin Yusuf di atas rasa takut mulai menunjukkan retaknya. Di balik disiplin tentara dan administrasi yang rapi, tersimpan kelelahan panjang, dendam yang menumpuk, dan kebencian yang tidak pernah benar-benar padam. Kebijakan mengirim pasukan Irak ke timur, yang semula tampak cerdas, perlahan berubah menjadi sumber bencana.


     Di wilayah Sijistan, pasukan muslim menghadapi medan berat dan musuh yang tidak mudah ditaklukkan. Di sana, Hajjaj menunjuk seorang panglima bernama Abdurrahman bin Muhammad bin al-Ash‘ats. Dia berasal dari keluarga terpandang di Kufah, memiliki kharisma, dan dicintai tentaranya. Penunjukan ini pada awalnya tampak tepat. Namun, di sinilah sejarah mulai berbelok.


     Perintah Hajjaj kepada Ibn al-Ash‘ats terkenal keras dan tanpa kompromi. Dalam surat-suratnya, dia menuntut penyerangan terus-menerus, tanpa memberi waktu istirahat, tanpa mempertimbangkan kondisi pasukan.


     [Jangan kau berhenti hingga musuh hancur atau engkau sendiri binasa], tulis Hajjaj.


     Ibn al-Ash‘ats membaca surat itu di hadapan para perwiranya. Wajah-wajah lelah menatapnya. Pasukan telah berbulan-bulan berperang, logistik menipis, dan semangat terkikis.


     Seorang perwira berkata, “Pasukan tidak akan sanggup maju lagi.”


     Ibn al-Ash‘ats terdiam lama. Untuk pertama kalinya, dia merasakan jarak yang dalam antara medan perang dan meja kekuasaan. Perintah datang dari jauh, dingin, tanpa menyentuh tanah yang dipijak tentara.


     Keputusan besar pun diambil. Ibn al-Ash‘ats menghentikan operasi militer dan memerintahkan pasukan untuk beristirahat. Keputusan itu segera sampai ke telinga Hajjaj, dan reaksinya pun meledak.


     Dalam amarahnya, Hajjaj mengirim surat balasan yang penuh cercaan, merendahkan panglimanya di hadapan umum. Surat itu dibacakan di barak, dan kata-kata kasar itu menusuk harga diri tentara Irak yang sejak lama memendam kebencian.


     Di titik itulah, sesuatu berubah. Ibn al-Ash‘ats berdiri di hadapan pasukan dan berkata, “Apakah kalian rela diperlakukan seperti ini, dipaksa mati tanpa kehormatan?”


     Teriakan membahana sebagai jawaban. Pemberontakan pun dimulai, bukan sebagai rencana matang, tetapi sebagai luapan akumulasi luka. Pasukan berbalik arah, meninggalkan Sijistan, dan bergerak menuju Irak. Dalam perjalanan, dukungan mengalir deras. Kufah dan Bashrah bergolak. Para ulama, pembesar, dan masyarakat yang lama ditekan melihat ini sebagai kesempatan membebaskan diri dari teror Hajjaj.


     Slogan yang terdengar bukan hanya melawan Hajjaj, tetapi juga menuntut keadilan dan penghentian kekerasan negara. Nama Ibn al-Ash‘ats dielu-elukan. Dia bukan hanya panglima, tetapi simbol perlawanan terhadap kekuasaan dzalim.


     Ketika kabar ini sampai ke Hajjaj, wajahnya mengeras. Untuk pertama kalinya sejak lama, kekuasaannya benar-benar terancam. Dia mengirim laporan ke Damaskus, meminta bantuan penuh.


     Khalifah Abdul Malik memahami bahaya ini. Jika Irak jatuh ke tangan pemberontak, kekhalifahan bisa runtuh. Maka bala bantuan besar dikirim. Tentara Syam, yang dikenal loyal dan disiplin, bergerak ke Irak untuk mendukung Hajjaj.


     Pertemuan dua kekuatan itu melahirkan perang besar yang mengguncang dunia Islam.

Pertempuran demi pertempuran terjadi di sekitar Kufah dan Bashrah. Debu menutupi langit. Panah berjatuhan seperti hujan. Pasukan Ibn al-Ash‘ats bertempur dengan semangat perlawanan, sementara pasukan Hajjaj bertempur dengan disiplin besi.


     Dalam satu pertempuran besar di Dayr al-Jamajim, dua lautan manusia saling menghantam. Dentuman pedang, jeritan terluka, dan teriakan takbir bercampur menjadi satu. Malam hari, obor-obor menyala di medan perang, menerangi tubuh-tubuh yang tergeletak.


     Ibn al-Ash‘ats berkuda di barisan depan, menyemangati pasukannya. “Hari ini,” teriaknya, “kita bertempur bukan untuk dunia, tetapi untuk kehormatan!”


     Di sisi lain, Hajjaj mengamati dari kejauhan, mengatur formasi dengan penuh perhitungan.


     Pertempuran berlangsung lama. Pada awalnya, pasukan pemberontak unggul jumlah dan semangat. Tetapi perlahan, keunggulan disiplin dan logistik pasukan Syam mengubah keadaan. Satu demi satu posisi pemberontak runtuh.


     Kekalahan mulai terasa. Para pendukung Ibn al-Ash‘ats goyah. Sebagian melarikan diri. Sebagian menyerah. Pada akhirnya, pemberontakan itu hancur.


     Ibn al-Ash‘ats melarikan diri ke wilayah timur mencari perlindungan. Namun takdirnya berakhir tragis. Dia wafat dalam pelarian, dan dengan kematiannya, perlawanan besarnya itu oun padam.


     ***


     Ketika Hajjaj memasuki Kufah kembali, tidak ada ampun. Penangkapan massal dilakukan. Eksekusi digelar. Penjara penuh. Darah mengalir di jalan-jalan kota. Ketakutan kembali berkuasa, lebih pekat dari sebelumnya. Irak memang kembali tunduk, tetapi dengan luka yang lebih dalam. Di mata banyak orang, Hajjaj tidak lagi sekadar gubernur kejam. Dia menjadi simbol penindasan negara atas umatnya sendiri.


     Namun, sejarah belum selesai dengannya. Setelah badai pemberontakan, usia mulai menua, penyakit mendekat, dan pertanyaan tentang akhir hidup seorang penguasa dzalim mulai bergaung di benak banyak orang.


b).

KEKUASAAN YANG MENUA, ULAMA DAN BAYANGAN SAKIT


    Setelah pemberontakan Ibn al-Ash‘ats dihancurkan, Irak kembali tenang, tetapi ketenangan yang berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi penuh ketenangan menjelang ledakan, melainkan suatu kelelahan. Kota-kota seperti Kufah dan Bashrah hidup dalam ketertiban yang dipaksakan, di mana setiap orang tau batas bicara, batas bergerak, dan batas berharap.


     Hajjaj bin Yusuf berada di puncak kekuasaannya. Wilayah timur tetap berada di bawah kendalinya. Qutaibah bin Muslim terus mengirim laporan kemenangan dari negeri-negeri jauh. Pajak mengalir ke kas negara. Damaskus puas.


     Namun, waktu tidak pernah berhenti berjalan. Transisi ini tidak datang sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai perubahan perlahan. Tubuh Hajjaj mulai melemah. Penyakit yang tidak jelas namanya menggerogoti fisiknya. Rasa sakit datang dan pergi, tetapi dia menolak menunjukkan kelemahan di hadapan siapa pun. Kekuasaan, baginya, tidak boleh terlihat rapuh.


     Di tengah kondisi itu, hubungan Hajjaj dengan para ulama semakin menjadi sorotan. Di Irak, banyak ulama memilih diam atau menjauh. Namun ada juga yang berani berbicara, meski dengan kata-kata yang terukur.


     Salah satu nama yang sering disebut adalah Hasan al-Bashri. Dia dikenal sebagai ulama zuhud, lembut tutur katanya, tetapi tajam nasihatnya. Hasan al-Bashri tidak memimpin pemberontakan, tetapi ucapannya sering dianggap menggerogoti legitimasi kekuasaan dzalim.


     Suatu hari, laporan tentang ceramah Hasan al-Bashri sampai ke telinga Hajjaj. Seorang pejabat berkata, “Dia berbicara tentang penguasa dzalim dan azab Allah.”


     Hajjaj terdiam. Wajahnya menegang, tetapi tidak segera bereaksi. “Apakah dia menyebut namaku?” tanyanya.


     “Tidak,” jawab pejabat itu, “tetapi orang-orang mengerti maksudnya.”


     Hajjaj tau, menangkap atau membunuh Hasan al-Bashri akan memicu kegelisahan baru. Dia telah belajar bahwa tidak semua ancaman bisa ditangani dengan pedang. Beberapa harus dibiarkan, meski menyakitkan harga diri.


     Maka, untuk pertama kalinya, Hajjaj memilih menahan diri. Namun, bukan berarti tekanan berhenti. Pengawasan tetap dilakukan. Ulama-ulama lain yang lebih vokal tidak seberuntung Hasan al-Bashri. Penjara tetap terisi. Cambuk tetap berbicara.


     Di sisi lain, Hajjaj juga dikenal memperhatikan aspek keagamaan formal. Dia memerintahkan penertiban bacaan Al-Qur’an, memperbaiki sistem tanda baca untuk memudahkan pembacaan, dan menjaga ketertiban shalat jamaah. Di permukaan, dia tampak sebagai pelindung agama. Kontradiksi ini membingungkan banyak orang. Bagaimana seseorang yang menumpahkan darah bisa begitu peduli pada bacaan kitab suci?


     Jawabannya terletak pada cara berpikir Hajjaj. Agama baginya adalah bagian dari tatanan negara. Ia harus rapi, tertib, dan berada di bawah kendali kekuasaan.


     Seiring waktu, penyakit semakin sering menyerangnya. Malam-malamnya diisi rasa sakit. Tidurnya tidak lagi nyenyak. Dalam kesendirian, bayangan wajah-wajah yang pernah dia hukum kerap muncul, meski tidak pernah dia akui di hadapan orang lain.


     Suatu malam, seorang tabib berkata dengan hati-hati, “Tubuhmu membutuhkan istirahat.”


     Hajjaj menjawab lirih, “Negeri ini tidak pernah istirahat.”


     Kalimat itu terdengar seperti keluhan, bukan perintah.


     Di Damaskus, kepemimpinan juga mengalami perubahan. ‘Abdul Malik bin Marwan wafat, digantikan oleh al-Walid bin ‘Abdul Malik. Hubungan Hajjaj dengan khalifah baru tetap kuat, tetapi tidak sedekat sebelumnya. Generasi berganti, dan aura perlindungan perlahan memudar.


     Meski begitu, Hajjaj masih memegang kendali penuh di wilayahnya. Tidak ada yang berani menentangnya secara terbuka. Tetapi pengaruhnya tidak lagi absolut seperti dulu. Waktu, penyakit, dan kelelahan politik mulai menggerogoti. Di tengah kondisi itu, satu pertanyaan mulai beredar, meski hanya dibisikkan, bagaimana akhir hidup seorang yang ditakuti banyak orang?


     Hajjaj sendiri pernah berkata dalam nada getir, “Ya Allah, ampunilah aku, karena mereka mengira Engkau tidak akan mengampuniku.”


     Ucapannya itu menyebar dari mulut ke mulut, menimbulkan perdebatan. Apakah itu penyesalan? Ataukah sekadar kelelahan? Sejarah belum menjawabnya saat itu.


     Namun, jarum waktu terus bergerak mendekati ujung. Penyakit Hajjaj semakin parah. Kekuatan menurun. Dan satu per satu, orang-orang yang dulu gemetar di hadapannya mulai menunggu dengan diam.


Bersambung ke Part 4. ....

[2/2 18.51] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Temukan Jamiul Masanid was sunan Al Hafizh ibnu Katsir جامع السنن و المسانيد seharga Rp1.204.450. Dapatkan sekarang juga di Shopee! 


https://id.shp.ee/RXLmZj5



Kisah Sejarah

--- HAJJAJ BIN YUSUF ATS-TSAQAFI ---

                             (Part 3)

                     Oleh: Mbah Jev 


a).

PEMBERONTAKAN DARI DALAM, PERANG IBN AL-ASH‘ATS


     Waktu bergerak memasuki akhir abad pertama Hijriah, dan ketenangan yang dibangun Hajjaj bin Yusuf di atas rasa takut mulai menunjukkan retaknya. Di balik disiplin tentara dan administrasi yang rapi, tersimpan kelelahan panjang, dendam yang menumpuk, dan kebencian yang tidak pernah benar-benar padam. Kebijakan mengirim pasukan Irak ke timur, yang semula tampak cerdas, perlahan berubah menjadi sumber bencana.


     Di wilayah Sijistan, pasukan muslim menghadapi medan berat dan musuh yang tidak mudah ditaklukkan. Di sana, Hajjaj menunjuk seorang panglima bernama Abdurrahman bin Muhammad bin al-Ash‘ats. Dia berasal dari keluarga terpandang di Kufah, memiliki kharisma, dan dicintai tentaranya. Penunjukan ini pada awalnya tampak tepat. Namun, di sinilah sejarah mulai berbelok.


     Perintah Hajjaj kepada Ibn al-Ash‘ats terkenal keras dan tanpa kompromi. Dalam surat-suratnya, dia menuntut penyerangan terus-menerus, tanpa memberi waktu istirahat, tanpa mempertimbangkan kondisi pasukan.


     [Jangan kau berhenti hingga musuh hancur atau engkau sendiri binasa], tulis Hajjaj.


     Ibn al-Ash‘ats membaca surat itu di hadapan para perwiranya. Wajah-wajah lelah menatapnya. Pasukan telah berbulan-bulan berperang, logistik menipis, dan semangat terkikis.


     Seorang perwira berkata, “Pasukan tidak akan sanggup maju lagi.”


     Ibn al-Ash‘ats terdiam lama. Untuk pertama kalinya, dia merasakan jarak yang dalam antara medan perang dan meja kekuasaan. Perintah datang dari jauh, dingin, tanpa menyentuh tanah yang dipijak tentara.


     Keputusan besar pun diambil. Ibn al-Ash‘ats menghentikan operasi militer dan memerintahkan pasukan untuk beristirahat. Keputusan itu segera sampai ke telinga Hajjaj, dan reaksinya pun meledak.


     Dalam amarahnya, Hajjaj mengirim surat balasan yang penuh cercaan, merendahkan panglimanya di hadapan umum. Surat itu dibacakan di barak, dan kata-kata kasar itu menusuk harga diri tentara Irak yang sejak lama memendam kebencian.


     Di titik itulah, sesuatu berubah. Ibn al-Ash‘ats berdiri di hadapan pasukan dan berkata, “Apakah kalian rela diperlakukan seperti ini, dipaksa mati tanpa kehormatan?”


     Teriakan membahana sebagai jawaban. Pemberontakan pun dimulai, bukan sebagai rencana matang, tetapi sebagai luapan akumulasi luka. Pasukan berbalik arah, meninggalkan Sijistan, dan bergerak menuju Irak. Dalam perjalanan, dukungan mengalir deras. Kufah dan Bashrah bergolak. Para ulama, pembesar, dan masyarakat yang lama ditekan melihat ini sebagai kesempatan membebaskan diri dari teror Hajjaj.


     Slogan yang terdengar bukan hanya melawan Hajjaj, tetapi juga menuntut keadilan dan penghentian kekerasan negara. Nama Ibn al-Ash‘ats dielu-elukan. Dia bukan hanya panglima, tetapi simbol perlawanan terhadap kekuasaan dzalim.


     Ketika kabar ini sampai ke Hajjaj, wajahnya mengeras. Untuk pertama kalinya sejak lama, kekuasaannya benar-benar terancam. Dia mengirim laporan ke Damaskus, meminta bantuan penuh.


     Khalifah Abdul Malik memahami bahaya ini. Jika Irak jatuh ke tangan pemberontak, kekhalifahan bisa runtuh. Maka bala bantuan besar dikirim. Tentara Syam, yang dikenal loyal dan disiplin, bergerak ke Irak untuk mendukung Hajjaj.


     Pertemuan dua kekuatan itu melahirkan perang besar yang mengguncang dunia Islam.

Pertempuran demi pertempuran terjadi di sekitar Kufah dan Bashrah. Debu menutupi langit. Panah berjatuhan seperti hujan. Pasukan Ibn al-Ash‘ats bertempur dengan semangat perlawanan, sementara pasukan Hajjaj bertempur dengan disiplin besi.


     Dalam satu pertempuran besar di Dayr al-Jamajim, dua lautan manusia saling menghantam. Dentuman pedang, jeritan terluka, dan teriakan takbir bercampur menjadi satu. Malam hari, obor-obor menyala di medan perang, menerangi tubuh-tubuh yang tergeletak.


     Ibn al-Ash‘ats berkuda di barisan depan, menyemangati pasukannya. “Hari ini,” teriaknya, “kita bertempur bukan untuk dunia, tetapi untuk kehormatan!”


     Di sisi lain, Hajjaj mengamati dari kejauhan, mengatur formasi dengan penuh perhitungan.


     Pertempuran berlangsung lama. Pada awalnya, pasukan pemberontak unggul jumlah dan semangat. Tetapi perlahan, keunggulan disiplin dan logistik pasukan Syam mengubah keadaan. Satu demi satu posisi pemberontak runtuh.


     Kekalahan mulai terasa. Para pendukung Ibn al-Ash‘ats goyah. Sebagian melarikan diri. Sebagian menyerah. Pada akhirnya, pemberontakan itu hancur.


     Ibn al-Ash‘ats melarikan diri ke wilayah timur mencari perlindungan. Namun takdirnya berakhir tragis. Dia wafat dalam pelarian, dan dengan kematiannya, perlawanan besarnya itu oun padam.


     ***


     Ketika Hajjaj memasuki Kufah kembali, tidak ada ampun. Penangkapan massal dilakukan. Eksekusi digelar. Penjara penuh. Darah mengalir di jalan-jalan kota. Ketakutan kembali berkuasa, lebih pekat dari sebelumnya. Irak memang kembali tunduk, tetapi dengan luka yang lebih dalam. Di mata banyak orang, Hajjaj tidak lagi sekadar gubernur kejam. Dia menjadi simbol penindasan negara atas umatnya sendiri.


     Namun, sejarah belum selesai dengannya. Setelah badai pemberontakan, usia mulai menua, penyakit mendekat, dan pertanyaan tentang akhir hidup seorang penguasa dzalim mulai bergaung di benak banyak orang.


b).

KEKUASAAN YANG MENUA, ULAMA DAN BAYANGAN SAKIT


    Setelah pemberontakan Ibn al-Ash‘ats dihancurkan, Irak kembali tenang, tetapi ketenangan yang berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi penuh ketenangan menjelang ledakan, melainkan suatu kelelahan. Kota-kota seperti Kufah dan Bashrah hidup dalam ketertiban yang dipaksakan, di mana setiap orang tau batas bicara, batas bergerak, dan batas berharap.


     Hajjaj bin Yusuf berada di puncak kekuasaannya. Wilayah timur tetap berada di bawah kendalinya. Qutaibah bin Muslim terus mengirim laporan kemenangan dari negeri-negeri jauh. Pajak mengalir ke kas negara. Damaskus puas.


     Namun, waktu tidak pernah berhenti berjalan. Transisi ini tidak datang sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai perubahan perlahan. Tubuh Hajjaj mulai melemah. Penyakit yang tidak jelas namanya menggerogoti fisiknya. Rasa sakit datang dan pergi, tetapi dia menolak menunjukkan kelemahan di hadapan siapa pun. Kekuasaan, baginya, tidak boleh terlihat rapuh.


     Di tengah kondisi itu, hubungan Hajjaj dengan para ulama semakin menjadi sorotan. Di Irak, banyak ulama memilih diam atau menjauh. Namun ada juga yang berani berbicara, meski dengan kata-kata yang terukur.


     Salah satu nama yang sering disebut adalah Hasan al-Bashri. Dia dikenal sebagai ulama zuhud, lembut tutur katanya, tetapi tajam nasihatnya. Hasan al-Bashri tidak memimpin pemberontakan, tetapi ucapannya sering dianggap menggerogoti legitimasi kekuasaan dzalim.


     Suatu hari, laporan tentang ceramah Hasan al-Bashri sampai ke telinga Hajjaj. Seorang pejabat berkata, “Dia berbicara tentang penguasa dzalim dan azab Allah.”


     Hajjaj terdiam. Wajahnya menegang, tetapi tidak segera bereaksi. “Apakah dia menyebut namaku?” tanyanya.


     “Tidak,” jawab pejabat itu, “tetapi orang-orang mengerti maksudnya.”


     Hajjaj tau, menangkap atau membunuh Hasan al-Bashri akan memicu kegelisahan baru. Dia telah belajar bahwa tidak semua ancaman bisa ditangani dengan pedang. Beberapa harus dibiarkan, meski menyakitkan harga diri.


     Maka, untuk pertama kalinya, Hajjaj memilih menahan diri. Namun, bukan berarti tekanan berhenti. Pengawasan tetap dilakukan. Ulama-ulama lain yang lebih vokal tidak seberuntung Hasan al-Bashri. Penjara tetap terisi. Cambuk tetap berbicara.


     Di sisi lain, Hajjaj juga dikenal memperhatikan aspek keagamaan formal. Dia memerintahkan penertiban bacaan Al-Qur’an, memperbaiki sistem tanda baca untuk memudahkan pembacaan, dan menjaga ketertiban shalat jamaah. Di permukaan, dia tampak sebagai pelindung agama. Kontradiksi ini membingungkan banyak orang. Bagaimana seseorang yang menumpahkan darah bisa begitu peduli pada bacaan kitab suci?


     Jawabannya terletak pada cara berpikir Hajjaj. Agama baginya adalah bagian dari tatanan negara. Ia harus rapi, tertib, dan berada di bawah kendali kekuasaan.


     Seiring waktu, penyakit semakin sering menyerangnya. Malam-malamnya diisi rasa sakit. Tidurnya tidak lagi nyenyak. Dalam kesendirian, bayangan wajah-wajah yang pernah dia hukum kerap muncul, meski tidak pernah dia akui di hadapan orang lain.


     Suatu malam, seorang tabib berkata dengan hati-hati, “Tubuhmu membutuhkan istirahat.”


     Hajjaj menjawab lirih, “Negeri ini tidak pernah istirahat.”


     Kalimat itu terdengar seperti keluhan, bukan perintah.


     Di Damaskus, kepemimpinan juga mengalami perubahan. ‘Abdul Malik bin Marwan wafat, digantikan oleh al-Walid bin ‘Abdul Malik. Hubungan Hajjaj dengan khalifah baru tetap kuat, tetapi tidak sedekat sebelumnya. Generasi berganti, dan aura perlindungan perlahan memudar.


     Meski begitu, Hajjaj masih memegang kendali penuh di wilayahnya. Tidak ada yang berani menentangnya secara terbuka. Tetapi pengaruhnya tidak lagi absolut seperti dulu. Waktu, penyakit, dan kelelahan politik mulai menggerogoti. Di tengah kondisi itu, satu pertanyaan mulai beredar, meski hanya dibisikkan, bagaimana akhir hidup seorang yang ditakuti banyak orang?


     Hajjaj sendiri pernah berkata dalam nada getir, “Ya Allah, ampunilah aku, karena mereka mengira Engkau tidak akan mengampuniku.”


     Ucapannya itu menyebar dari mulut ke mulut, menimbulkan perdebatan. Apakah itu penyesalan? Ataukah sekadar kelelahan? Sejarah belum menjawabnya saat itu.


     Namun, jarum waktu terus bergerak mendekati ujung. Penyakit Hajjaj semakin parah. Kekuatan menurun. Dan satu per satu, orang-orang yang dulu gemetar di hadapannya mulai menunggu dengan diam.


Bersambung ke Part 4. ....

[3/2 02.15] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/182V5WYweA/


Harlah 100 NU dan Kado Kejujuran dari Gus Aziz Jazuli:


(Membaca Jejak Syi'ah di Balik Pengarang Simṭud Durar dan Klaim Haul Solo)


Memasuki usia satu abad, Nahdlatul Ulama (NU) menghadapi ujian kedewasaan yang nyata: berani membedakan antara tradisi yang benar-benar meneguhkan manhaj dan ritual yang justru memberi legitimasi pada persoalan ideologis. Dalam konteks inilah kajian kritis Gus Aziz Jazuli mengenai pengarang Simṭud Durar patut dibaca sebagai kado kejujuran intelektual bagi NU di usia 100 tahun (lihat kajian di kanal Bisikan Rhoma).


Persoalan pokoknya bukan pada maulid atau haul sebagai praktik doa. Dalam tradisi NU, haul adalah tindakan simbolik, bukan ritual netral. Mengahauli seseorang berarti memberi pengakuan publik bahwa sosok tersebut dianggap lurus akidahnya, aman ajarannya, dan layak diwariskan otoritas moralnya. Ketika tokoh yang dihauli ternyata menyimpan problem serius dalam akidah dan manhaj, maka haul tidak lagi menjadi sekadar doa—ia berubah menjadi stempel legitimasi ideologis. Karena itu, Haul Solo tidak bisa dipandang netral, terutama bagi santri yang belajar dari simbol dan keramaian, bukan dari telaah ilmiah yang ketat.


Kajian tersebut menyoroti indikasi penyimpangan akidah pada Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, mulai dari tradisi pelaknatan sahabat Nabi—khususnya Mu‘āwiyah bin Abī Sufyān—yang jelas bertentangan dengan manhaj Ahlussunnah wal Jamā‘ah, hingga kecenderungan ta’wil batin eksklusif yang mematikan ruang kritik. Dalam sejarah pemikiran Islam, pola seperti ini bukan ciri tasawuf/thariqah Sunni, melainkan dekat dengan tradisi batiniyah Syi'ah Ismailiyah, yang memonopoli makna kebenaran pada elite spiritual tertentu.


Masalah ini diperkuat oleh literatur pendukung seperti Kunūzus Sa‘ādah al-Abadiyyah, yang memuat kisah-kisah karamah ekstrem tanpa disiplin sanad: pelanggaran moral yang dibenarkan atas nama maqam spiritual, klaim gugurnya syariat bagi elite rohani, serta pengultusan tokoh yang ditempatkan di atas hukum. Ini bukan tasawuf ala al-Junayd atau al-Ghazali, melainkan antinomianisme—paham yang dalam sejarah Islam selalu merusak agama dari dalam dengan kedok spiritualitas.


Bahaya menjadi berlipat ketika konstruksi ideologis semacam ini dinormalisasi melalui haul berskala besar, apalagi dibungkus klaim simbolik seperti “Haul Solo”. Surakarta bukan sekadar lokasi acara, melainkan simbol budaya dan Islam santri serta salah satu basis kultural NU. Ketika nama kota dan NU dilekatkan, pesan yang sampai ke publik adalah bahwa ajaran tersebut merupakan bagian sah dari Islam NU. Di sinilah legitimasi bekerja secara diam-diam, tanpa pernah dibahas secara terbuka.


Dampaknya bersifat jangka panjang. Kekhawatiran, hari ini haul dianggap wajar, besok kitabnya dibaca tanpa filter, lusa pelaknatan sahabat dinormalisasi sebagai ekspresi cinta, dan akhirnya NU kehilangan standar internalnya sendiri. NU tidak dihancurkan dari luar, tetapi dikaburkan dari dalam—namanya tetap, tetapi manhajnya memudar.


Karena itu, kritik ini bukan anti-ulama dan bukan anti-tradisi. Justru sebaliknya, ini adalah upaya menjaga marwah ulama dengan menjaga standar keulamaan. Menghormati tokoh tidak berarti membekukan akal. Berdoa untuk mayit tidak otomatis mewajibkan legitimasi ajaran dan ideologi.


Pada titik ini, sikap warga NU seharusnya tegas dan jernih. Tidak ada kewajiban agama maupun ke-NU-an untuk menghadiri Haul Solo, karena perbedaan ideologis dengan tokoh yang dihauli telah jelas menyentuh wilayah akidah dan manhaj. Tidak hadir bukan bentuk kebencian, melainkan ikhtiar menjaga iman dan identitas keilmuan NU. NU tidak kekurangan ulama yang lurus dan tradisi yang sehat.


Jadi, secara akademis, penelitian yang dilakukan Gus Aziz tersebut lebih tepat menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh atau persinggungan doktrin (baik secara sadar maupun tidak melalui asimilasi budaya Yaman) yang membuat ajaran pengarang Simṭud Durar memiliki karakteristik "Syi'ah terselubung", meskipun klan Ba'alwi tersebut tetap mempertahankan "jubah" Sunni dalam praktik publiknya. Taqiyah? Pertanyaan ini menjadi sah diajukan ke ruang publik.


Oleh karena itu, setelah 100 tahun, NU tidak boleh mewariskan kebingungan, tetapi kejernihan. 


"Terimakasih Guz Aziz atas kadonya !"


Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thoriq 


Red./SL.


#pbnu #nu #haul #solo #bermasalah

#SatkorcabBanserKotaMedan

[3/2 10.40] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/p/1J1iUVmzZQ/


Kisah Sejarah Paling Brutal!

     - HAJJAJ BIN YUSUF ATS-TSAQAFI-

                           (Part 1)

                    Oleh: Mbah Jev 


Sebelum Anda membaca, saya ingin bertanya.


Apa yang terlintas dalam benak jika dua sifat yang saling bertentangan bersemayam dalam satu tubuh manusia? Mungkinkah seseorang yang menghafal al-Qur’an, fasih berbahasa Arab, memuliakan para ulama, dan menjaga tertib administrasi negara, pada saat yang sama, juga dikenal sebagai sosok yang menumpahkan darah tanpa ragu? Bagaimana akal dan iman berdamai ketika kebaikan dan kekejaman berjalan beriringan dalam diri yang sama? Apakah sejarah harus melihatnya sebagai pembela stabilitas umat, atau sebagai simbol kekuasaan yang melampaui batas kemanusiaan? Di manakah garis pemisah antara ketegasan yang diperlukan dan kedzaliman yang tercela? Dan ketika nama Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi disebut, apakah dia pantas dikenang sebagai pelayan negara yang disiplin, atau sebagai bayang-bayang gelap dalam perjalanan panjang sejarah Islam?


Ya, Anda dan juga saya, atau siapa pun, akan kebingungan ketika harus memberi satu label utuh kepada Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Penjahat atau pahlawan. Pahlawan atau penjahat. Atau pahlawan penjahat pahlawan atau ....


Ah, ribet!


Atau, jika dia disebut sebagai manusia, catatan kedzalimannya begitu mengerikan hingga banyak sejarawan menyebutnya sebagai salah satu penguasa paling kejam dalam sejarah Islam.


Namun, jika dia diserupakan dengan iblis, fakta-fakta lain justru menunjukkan sisi yang berlawanan: kecakapan, ketertiban, dan jasa-jasa kemanusiaan yang tidak dapat diabaikan. Sebuah paradoks otoriterian yang melampaui nalar sederhana. 


Oke, daripada terjebak dalam kebingungan memberi julukan, marilah kita menanggalkan prasangka dan memasuki sejarahnya apa adanya, sebuah kisah yang ironis, paradoks, kontradiktif, kronikel yang penuh kontroversi, dan perjalanan hidup yang terus membingungkan akal dan nurani manusia dari masa ke masa.

----


a).

== THAIF, AWAL SEORANG PENGABDI KEKUASAAN ==


     Dalam sejarah Islam, Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi adalah seorang tokoh politik dan militer Dinasti Umayyah yang terkenal karena ketegasan ekstrem, kecakapan administrasi, dan kekerasannya dalam menegakkan kekuasaan negara. Dia lahir di Thaif sekitar tahun 40 Hijriah, di sebuah kota yang dikenal keras watak penduduknya dan tajam lidah para oratornya. Dari lingkungan itulah, seorang anak kecil tumbuh dengan didikan disiplin, kefasihan bahasa, dan ambisi yang tidak biasa. Kelak, dia menjadi tangan kanan paling dipercaya Khalifah Abdul Malik bin Marwan, serta salah satu figur paling kontroversial dalam sejarah Islam.


     Thaif sendiri terletak di wilayah barat Arab Saudi, termasuk dalam Provinsi Mekah, dan berada di kawasan dataran tinggi pegunungan Sarawat di wilayah Hijaz. Kota ini terletak di sebelah timur–tenggara Mekah dengan jarak sekira 70–90 kilometer, pada ketinggian kurang lebih 1.700 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut, sehingga memiliki iklim yang lebih sejuk dibanding Mekah. Letaknya yang dikelilingi perbukitan menjadikan Thaif sejak masa lampau dikenal sebagai kota pertanian dan kebun buah-buahan, sekaligus berperan sebagai jalur penghubung penting antara wilayah Hijaz dan Najd.


     Thaif pada masa itu bukan sekadar kota pegunungan yang sejuk. Ia adalah pusat kabilah Tsaqif, kabilah yang dikenal cerdas, berpendidikan, dan memiliki tradisi administrasi yang kuat. Di kota inilah Hajjaj dibesarkan. Ayahnya, Yusuf bin al-Hakam, adalah seorang guru Al-Qur’an dan bahasa Arab. Sejak kecil, Hajjaj dikenalkan pada tata bahasa, retorika, dan hafalan. Lidahnya terlatih tajam, pikirannya disiplin, dan emosinya terdidik untuk tunduk pada aturan.


     Namun, di balik pendidikan itu, tersimpan temperamen keras yang kelak menjadi ciri khasnya. Sejak muda, dia dikenal tidak sabar terhadap kekacauan dan pembangkangan. Dalam lingkungan Thaif yang relatif stabil, sifat itu belum tampak berbahaya. Justru dia terlihat sebagai kelebihan. Ketegasan, kecermatan, dan kecintaan pada keteraturan.


     Perlahan, waktu bergerak. Kekhalifahan Islam memasuki fase baru setelah berakhirnya Khulafaur Rasyidin. Dinasti Umayyah berdiri, tetapi tidak dalam keadaan tenang. Fitnah politik, pemberontakan, dan fragmentasi wilayah menjadi warna utama zaman itu. Irak, Hijaz, dan wilayah timur kekhalifahan adalah daerah yang paling bergolak. Kekuasaan pusat di Damaskus seringkali hanya sebatas nama. Dalam konteks inilah, Hajjaj muda mulai meninggalkan Thaif.


     Awalnya, dia tidak langsung terjun ke dunia militer atau politik tinggi. Dia bekerja sebagai pengajar dan aparat kecil. Tetapi jiwa ambisiusnya tidak cocok berada di balik ruang kelas. Ketika melihat kekacauan di berbagai wilayah Islam, dia tidak melihatnya sebagai tragedi, melainkan sebagai masalah yang harus “diselesaikan”.


     Perpindahan besar pertama dalam hidupnya terjadi ketika dia bergabung dengan pasukan Umayyah. Pada masa itu, Khalifah Abdul Malik bin Marwan sedang berjuang keras menegakkan kembali otoritas pusat. Kekhalifahan terancam oleh klaim Abdullah bin az-Zubair yang menguasai Mekah dan Madinah. Irak menjadi sarang pemberontakan, dan para gubernur silih berganti gagal mengendalikannya. Di medan inilah Hajjaj mulai dikenal. Bukan karena keberanian fisik semata, tetapi karena kepatuhan mutlak pada perintah dan kemampuannya membaca psikologi massa. Dia memahami bahwa kekacauan tidak selalu bisa diatasi dengan bujukan. Ada kalanya, menurut keyakinannya, kekuasaan harus ditegakkan dengan rasa takut.


     Sebuah percakapan yang kelak dikenang terjadi ketika dia pertama kali diperhatikan oleh elite Umayyah. Dalam sebuah pertemuan internal pasukan, ketika banyak perwira saling menyalahkan, Hajjaj berdiri dan berbicara dengan suara datar namun tajam.


     “Pasukan ini tidak kalah karena jumlah,” katanya. “Dia kalah karena tidak memiliki tangan yang berani memukul ketika aturan dilanggar.”


     Beberapa orang terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi mencerminkan pandangan hidupnya. Ketertiban baginya bukan lahir dari kesepakatan, melainkan dari ketaatan.


     Nama Hajjaj mulai naik ketika dia dipercaya memimpin pasukan kecil untuk misi-misi sulit. Dia tidak dikenal murah hati, tetapi efektif. Setiap perintah ditegakkan. Setiap pelanggaran dihukum. Pasukannya takut kepadanya, tetapi juga rapi dan patuh. Di tengah kekacauan pasukan Umayyah yang sering berantakan, ini adalah kelebihan besar.


     Waktu terus bergerak, dan kebutuhan negara semakin mendesak. Abdul Malik bin Marwan membutuhkan sosok yang bukan hanya setia, tetapi juga tanpa ragu menjalankan perintah paling keras. Dari Thaif yang jauh, seorang anak guru Al-Qur’an kini berdiri di ambang sejarah besar.


     Menjelang tahun-tahun akhir dekade 60-an Hijriah, konflik dengan Abdullah bin az-Zubair mencapai titik kritis. Hijaz harus direbut kembali. Mekah, kota suci, berada di tangan lawan politik. Banyak jenderal ragu. Tidak mudah mengangkat senjata di tanah haram. Di sinilah Hajjaj dipanggil menghadap.


     ***


b).

== PERINTAH DARI DAMASKUS, JALAN MENUJU MEKAH ==


     Waktu bergerak memasuki akhir dekade keenam Hijriah, dan peta kekuasaan Islam masih belum menemukan keseimbangannya. Di Damaskus, Khalifah Abdul Malik bin Marwan duduk di singgasananya bukan sebagai penguasa yang mapan, melainkan sebagai penjaga bangunan yang retak dari berbagai sisi. Irak bergolak, Khurasan liar, dan di Hijaz, seorang penantang berdiri dengan legitimasi agama dan sejarah. Abdullah bin az-Zubair.


     Abdullah bin az-Zubair bukan sosok sembarangan. Dia adalah putra Zubair bin al-Awwam, sahabat besar Nabi, dan Asma’ binti Abu Bakar. Di Mekah, dia berbai'at sebagai khalifah, didukung banyak penduduk Hijaz dan sebagian wilayah Islam. Selama bertahun-tahun, klaim itu menggantung seperti bayangan yang menggerogoti wibawa Umayyah.


     Upaya demi upaya telah dilakukan untuk menjatuhkannya. Para jenderal silih berganti dikirim, tetapi kembali dengan kegagalan atau setengah kemenangan. Masalahnya bukan hanya militer. Mekah adalah tanah haram. Mengangkat senjata di sana berarti menanggung beban moral dan sejarah yang berat. Banyak yang ragu. Banyak yang menunda. Banyak yang mencari jalan aman. Di tengah kebuntuan itu, nama Hajjaj bin Yusuf kembali disebut.


     Suatu hari, di istana Damaskus, Abdul Malik memanggilnya menghadap. Ruangan itu hening, hanya suara langkah kaki dan desir pakaian. Hajjaj berdiri tegak, menundukkan kepala secukupnya, tanpa sikap berlebihan.


     “Engkau tahu mengapa aku memanggilmu,” kata Abdul Malik bin Marwan membuka percakapan.


     “Aku mengetahui bahwa urusan Hijaz belum selesai,” jawab Hajjaj tenang.


     Abdul Malik menatapnya agak lama. Di hadapannya berdiri seorang lelaki yang tidak banyak bicara, tetapi tidak pernah ragu menjalankan perintah. Itu yang membuatnya berbahaya, sekaligus berharga.


     “Banyak orang pandai,” katanya kemudian perlahan, “tetapi sedikit yang sanggup memikul dosa politik.”


     Hajjaj mengangkat pandangan.


     “Jika negara runtuh,” katanya, “dosa itu akan menimpa semua orang.”


     Kalimat itu tidak terdengar sebagai pembelaan, melainkan sebagai kesimpulan dingin. Di situlah Abdul Malik melihat jawabannya.


     Perintah pun ditetapkan. Hajjaj ditunjuk sebagai komandan ekspedisi ke Hijaz, dengan mandat jelas, yakni mengakhiri perlawanan Abdullah bin az-Zubair, menegakkan kembali otoritas Umayyah, apa pun konsekuensinya.


    Pada tahap awal, dia diperintahkan menggunakan tekanan politik dan militer terbatas. Tetapi semua pihak memahami, jika cara itu gagal, kekerasan penuh bukan lagi tabu. Dengan mandat itu, fase baru hidup Hajjaj dimulai.


     Perjalanan menuju Mekah bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan transisi moral dan sejarah. Dari Damaskus, pasukan bergerak ke selatan. Debu gurun beterbangan, derap unta dan kuda berpadu dengan denting senjata. Hajjaj berada di barisan depan, wajahnya keras, pikirannya fokus pada satu tujuan.


     Dalam perjalanan, beberapa perwira mencoba berbicara.


     “Wahai Hajjaj,” kata salah satu dari mereka, “kita menuju kota Allah. Banyak di antara pasukan merasa berat.”


     Hajjaj berhenti sejenak, menoleh.


     “Ketahuilah,” katanya, “kita tidak memerangi Ka‘bah. Kita memerangi pembangkangan.”


     Tidak ada pidato panjang. Tidak ada upaya menenangkan hati. Baginya, tugas negara berada di atas kegamangan perasaan.


     Setibanya di sekitar Mekah, situasi sudah jelas. Abdullah bin az-Zubair bertahan dengan pasukan yang loyal, memanfaatkan medan dan dukungan penduduk. Dia bukan hanya mengandalkan senjata, tetapi juga simbolisme.


    Setiap hari, Ka‘bah berdiri di tengah kota, seolah menjadi saksi sekaligus perisai. Hajjaj memulai dengan pendekatan administratif dan tekanan bertahap. Jalur logistik diputus. Desa-desa sekitar dikuasai. Mekah dikepung, perlahan tapi pasti. Dia mengirim utusan, menawarkan keselamatan bagi yang menyerah. Dalam salah satu pesan tertulisnya, dia berkata, [Darahmu aman jika engkau meletakkan senjata dan kembali pada jamaah kaum muslimin.]


     Jawaban Abdullah bin az-Zubair singkat dan tegas. [Aku tidak menjual kebenaran dengan keselamatan semu.]


     Hari demi hari berlalu. Ketegangan meningkat. Di dalam Mekah, persediaan menipis. Di luar, pasukan Umayyah semakin siap. Pada titik ini, banyak komandan akan berhenti. Tetapi Hajjaj tidak datang untuk berhenti.


     Ketika perintah lanjutan dari Damaskus tiba, memberinya kewenangan penuh, sejarah memasuki fase tergelapnya.


     Mesin-mesin perang didirikan. Manjaniq dipasang di bukit-bukit sekitar Mekah. Batu-batu besar disiapkan. Keputusan ini mengguncang banyak pihak. Bahkan di antara pasukan sendiri, ada yang terdiam ngeri. Seorang perwira mendekat dan berkata pelan, “Apakah engkau benar-benar akan melontarkan batu ke arah kota suci?”


     Hajjaj menjawab tanpa emosi. “Aku akan melontarkan perintah khalifah.”


     Maka, pengepungan berubah menjadi penyerangan. Batu-batu meluncur dari manjaniq, menghantam bangunan, mengguncang kota. Suara dentuman bergema di lembah Mekah. Debu naik ke udara. Teriakan terdengar dari berbagai penjuru. Ka‘bahnya sendiri pun mengalami kerusakan parah hampir runtuh akibat serangan batu-baru besar yang dilontarkan dari manjaniq, suatu peristiwa yang kelak dikenang dengan getir dalam sejarah Islam.


     Di dalam kota, Abdullah bin az-Zubair tetap bertahan. Dia berpidato di hadapan pengikutnya, menyeru kesabaran dan keteguhan. Namun, waktu tidak berpihak kepadanya. Satu per satu pendukungnya pergi. Sebagian menyerah. Sebagian melarikan diri. Hingga akhirnya, yang tersisa hanya segelintir orang. Dalam detik-detik terakhir, ibunya, Asma' binti Abu Bakar, yang telah renta dan buta, memberikan nasihat yang kelak dikenang sepanjang zaman.


     “Jika engkau benar,” kata dia, “bersabarlah sampai mati. Jangan serahkan lehermu pada algojo.”


     Pertempuran terakhir pun terjadi. Abdullah bin az-Zubair gugur pada tahun 73 Hijriah. Dengan kematiannya, perlawanan besar terakhir terhadap Abdul Malik di Hijaz berakhir. Ketika kabar itu sampai ke Hajjaj, dia tidak bersorak. Dia hanya memerintahkan satu hal, yakni mengirim laporan resmi ke Damaskus.

[Hijaz telah ditundukkan].


     Namun, kemenangan itu bukan tanpa harga. Luka sejarah terbuka lebar. Nama Hajjaj mulai diucapkan dengan rasa takut dan benci di banyak tempat. Dia telah berhasil bagi negara, tetapi kehilangan simpati umat. Dan tanpa jeda panjang, sejarah kembali bergerak. Damaskus melihat satu fakta jelas, jika satu orang mampu menundukkan Mekah, maka dia adalah orang yang tepat untuk wilayah paling bermasalah berikutnya. Irak.


     Bersambung ke Pat 2 ....

[3/2 12.11] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/p/1Y1L3nFeSw/


Di Haruskan untuk keluarga Ba Alwi (para habib di Indonesia yang berasal dari Yaman), untuk mendapatkan istbat pengakuan dari naqobah asyraf Al-Rassi penguasa negara asal leluhur nya Yaman.,

tetapi di negeri asalnya sendiri, yaitu Republik Yaman, pengakuan mereka sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw.tidak hanya dibatalkan nasabnya berdasarkan kajian kitab nasab, bahkan tidak tanggung-tanggung, pembatalan itu berdasarkan pengumuman yang dikeluarkan oleh Klan Al-Hautsi keturunan keluarga Saddah wa Syarif Al-Rassi, penguasa Negara Yaman.


Al-Hautsi telah mengumumkan pemberitahuan tentang bahwa dua puluh satu marga di Yaman bukanlah keturunan Nabi Muhammad Saw. demikian pengumuman itu dibuat karena sebelumnya, dua puluh satu marga itu mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw. pengumuman itu di post-kan dibeberapa media di Yaman, termasuk media online seperti dalam surat kabar online “Shaut al-Watan” https://voicnews.com/new/374149.


Dua puluh satu marga yang diumumkan bukan sebagai keturunan Nabi Muhammad Saw. itu adalah sebagai berikut: Al-Ahdal, al-Nahari, al-Ba’Alwi, al-Saqqaf, al-Atas, al-Shami, al-amudi, al-Washali, al-jufri, al-Junaid, al-Habsyi, al-Shatiri, al-Wada’I, al-Shili,al-Ba ‘Aqil, al-Zabidi, al-Fad’aq, al-Muhdor, al-‘Idrus, al-Faqih, al-Kaf, al-Ba Hashim.


Adapun pengumuman lengkap itu adalah sebagai berikut:


الحوثيون يعلنون رسمياً تجريد هذه الأسرة من النسب الهاشمي

يحاول البعض نسب نفسة إلى بنوا هاشم رضوان الله عليهم سادة هذه الأرض وهؤلاء ليسوا سوى من المتسلقين الذي لا يتشرفوا بنسبهم و يحاولوا نسب انفسهم الى اطهر الخلق سادة ال البيت الاطهار ومن ضمن هذة الاسر التي لم يثبت اي صلة نسبها الى هواشم وسادة ال البيت الاطهار وهم آل الاهدل، ال النهاري، ال باعلوي، ال السقاف، ال العطاس، ال الشامي، ال العماد، ال الوشلي، ال الجفري، ال الجنيد، ال الحبشي، ال الشاطري، ال الوادعي، ال الشلي، ال باعقيل، ال الزبيدي، ال فدعق، ال المحضار، ال العيدروس، ال الفقية، ال الكاف، ال باهاشم، والعديد من الاسر التي سوف ننشرها تباعاً والتي ضهرت على السطح خلال السنوات الاخيرة من اجل

[3/2 12.13] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/1coMeKvvov/


"YA MEMANG LELUHUR KITA DARI UZBEKISTAN, CHAMPA, MESIR, PERSIA, MAGRIBI, INDO CHINA BAHKAN SNP NYA ADA YANG CTS-168 SAMA SEPERTI JENGHIS KHAN & TIMUR LENK PENGUASA UZBEKISTAN"


Kang Lubab El-Zaman & Gus Imam Ghozali Muchtar :


Ya Kenapa Harus Malu Kalo Haplogroup Benda Kerep, Para Tubagus Banten, 70 Anggota NAAT dan 371 Dzurriyat Walisongo Berhaplogroup O-M175  dan Mutasinya  Kan Memang Leluhur Kita dari INDO-CHINA  Bukan dari Hadramaut  Yaman ??? 


Yang dari Hadramaut Yaman Saja Haplogroup nya G-M201 dan R  Kok.  Terus Mau Ribut Rebutan Apalagi sekarang  ?????


Tulisan Saya Pagi tadi :


"Seorang Ahli Nasab Boleh Salah Tapi Tidak Boleh BerDusta & BerBohong Asal Asalan Menisbatkan Nasab Harus Sesuai Keinginannya & Kehendaknya Demi Kepentingan  Pribadi & Kelompoknya. Karena Hukum Mengaku aku kepada Bin Orang lain jelas Haram, Kufur, Kafir dan tempatnya di Neraka." 


Haplogroup 371 Dzurriyat Walisongo dan  70 Anggota NAAT Adalah Haplogroup O-M175  dan Mutasinya. 


Begitu juga 10 Tubagus Banten dan 10 Raden dari Benda Kerep Semua Berhaplogroup O-M175 dan Mutasinya.


Hanya Tubagus Imam Ibrahim yang Haplogroup R dan Tengku Qori yang Berhaplogroup L sama Seperti Sayyid Ajjal Syamsuddin Omar Al Bukhari Gubernur Yunan China L1a-M76. Dan SNP Mereka Berbeda Jauh dgn SNP Habaib Ba'alawi.....


Ini Membuktikan Bahwa Dzurriyat Walisongo Memang Berasal dari Indo-China Seperti Uzbekistan, China, India dan Champa ( Dekat Kamboja Skrg ) bukan dari Yaman seperti Para Habaib Yang Datang Ke Indonesia Mulai Abad 17 Masehi ....


Sementara 5 Org Habib di Indonesia dan Puluhan Lainnya di Dunia Haplogroup nya G-M201 Tidak Ada Satu pun yang Berhaplogroup O-M175 Seperti Dzurriyat Walisongo.....


Dilihat dari Haplogroup Dan SNP saja Jelas Tidak Ada Hubungan Darah &  Kekerabatan Antara Ba'alawi Muasal Yaman dgn Ratusan Dzurriyat Walisongo yg sdh Melakukan Test DNA tersebut,


Meskipun Hasilnya Sama Sama ZONK Bukan J1-FGC10500, J1-FGC3014, J1-FGC8742 ( Haplogroup Penanda Keturunan Rasulullah Saw ) ....


MAKANYA TEST DNA SAYA RUNGKADKAN Karena Tidak Akurat dan Sampel Utama nya Palsu !!! Mengunakan DNA dari Fosil Manusia Monyet Purba dan DNA 1.059 Rabbi Yahudi Israel yg tergabung dalam Cohen Modal Haplotype Sbgai Sampel Utama Pembanding di FamilyTreeDNA dan 23AndMe Jerman....Bukan DNA Nabi Muhammad SAW dan Keturunannya Bukan DNA Raja Raja Jordania. Raja Jordania dan Raja Maroko saja Haplogroup G2a Bukan J1-FGC10500....

[3/2 14.44] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/p/1DnoAmx6Ru/


Banyak yang memuja para petinggi Wangsa Mataram di abad ke-18 sebagai sosok adi luhung yang tak tertandingi. Namun, tinta sejarah di tahun 1755 mencatat realita yang berbeda. Di bawah temaram lampu meja perundingan Belanda, dua kutub kekuasaan di jantung Jawa tersebut sebenarnya hanya sedang memperebutkan 'potongan kue' sisa-sisa kedaulatan yang disodorkan oleh kongsi dagang asing.


 * Bukan Perang Suci, Tapi Rebutan Kursi: Giyanti adalah puncak dari kegagalan elit Jawa untuk bersatu. VOC (bangsa asing) bertindak sebagai wasit sekaligus bandar. Hasilnya? Mataram pecah jadi dua: Surakarta dan Yogyakarta. Bangga dengan perpecahan? Itu adalah awal dari strategi Devide et Impera yang sukses total karena elit kita lebih haus jabatan daripada kedaulatan.


 * Raja yang 'Diangkat' Kompeni: Dalam naskah Giyanti, secara implisit dan eksplisit, kekuasaan raja-raja tersebut harus mendapatkan legitimasi atau 'restu' dari Gubernur Jenderal VOC. Artinya, secara de facto, penguasa Jawa saat itu adalah pegawai VOC yang diberi gelar Raja.


 * Takhayul vs Tanda Tangan: Di saat rakyat masih sibuk percaya ramalan dan jimat, Nicolaas Hartingh (wakil VOC) cukup membawa selembar kertas dan pena untuk membelah tanah Jawa menjadi dua. Ini bukti bahwa birokrasi dan nalar politik jauh lebih mematikan daripada keris sakti manapun.


 * Matinya Kedaulatan Ekonomi: Lewat perjanjian ini dan lanjutannya, VOC mendapatkan hak istimewa di pesisir utara Jawa. Raja-raja kita 'nyaman' di dalam istana yang megah di pedalaman, sementara urat nadi ekonomi (pelabuhan) diserahkan ke asing. Itulah definisi sebenarnya dari Kandang Kebodohan yang Mewah.


Dekonstruksi Narasi: Perjanjian Giyanti bukan simbol kejayaan, tapi simbol ketidakberdayaan. Kita merayakan pecahnya kerajaan kita sendiri sebagai 'warisan budaya', padahal itu adalah monumen kekalahan nalar diplomasi kita di hadapan kapitalisme global.


​#NusantaraExcited ​#PerjanjianGiyanti #Giyanti1755 ​#SejarahMataram ​#Ngayogyakarta #Surakarta ​#SejarahJawa ​#DevideEtImpera #Kolonialisme

[3/2 14.49] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/p/1AZtmq4KC9/


We Tenri Leleang Kr Tanete Ar Pancana Pajung Luwu


Tersebutlah seorang perempuan bangsawan Luwu, bernama We Tenri Leleang, yang kemudian hari masyhur dikenal dengan gelar Sultana Aisyah Kr Tanete Ar Pancana Pajung ri Luwu MatinroE ri Soreang. Ialah puteri dari We Batari Tungke’ Pajung ri Luwu dan bergelar Sultanah Sitti Fatimah, dan ayahandanya bernama La Rumpangmegga’ To Sappeile Opu Cenning Luwu, seorang bangsawan besar yang kukuh adatnya dan luas pengaruhnya.

We Tenri Leleang adalah cucu dari Laonrong Topalaguna Pajung ri Luwu yang kesepuluh, serta We Pattekettana Datu Tanete. Dari garis inilah turun kepadanya warisan Kerajaan Tanete, yang menjadi hak pusaka serta penguat kedudukannya dalam tatanan adat dan pemerintahan.

Sejak masa mudanya, We Tenri Leleang telah tampak keluhuran budi dan kejernihan akalnya. Tutur katanya terpelihara, timbangannya adil, dan pendiriannya teguh. Para hadat serta orang banyak memandangnya sebagai sosok yang patut didahulukan, sebab ia tidak berat sebelah dalam memutus perkara, tidak tergesa dalam bertindak, serta tidak lalai menjaga adat dan sara’. Maka besar pulalah kewibawaannya di mata negeri.

Dalam perjalanan hidupnya, We Tenri Leleang dipersunting oleh beberapa bangsawan besar, yang masing-masing mempererat ikatan politik dan adat antar negeri.

Pertama, beliau dipersunting oleh La Mappasilling, yang disebut pula I Mappatimung, bergelar Datu Pattojo MatinroE ri Duninna. Dengan pernikahan ini, terjalinlah hubungan yang kukuh antara Luwu dan Pattojo, serta bertambah kuatlah kedudukan We Tenri Leleang dalam urusan adat dan pemerintahan.

Kemudian beliau juga dipersunting oleh La Mallarangeng To Samallangi, bergelar Datu Lompulle Datu Mario ri Awa, seorang bangsawan yang arif dalam urusan negeri dan pandai dalam menjaga perimbangan kekuasaan. Dengan ikatan ini, hubungan antar-kedatuan menjadi tenteram dan terpelihara.

Selanjutnya, We Tenri Leleang dipersunting pula oleh La Massellomo To Appaware’, yang dikenal sebagai Petta Ponggawa Bone LaoE ri Luwu. Ia adalah panglima yang disegani, penguat pertahanan negeri, serta penghubung penting antara Bone dan Luwu dalam masa-masa yang genting.

Pada suatu masa, demi pertimbangan adat dan keadaan negeri, We Tenri Leleang memilih meletakkan jabatan dan mengundurkan diri dari pemerintahan. Maka setelah itu, tahta Luwu diserahkan kepada pamannya sendiri, bernama La Kaseng Tosibengngareng Petta MatinroE ri Kaluku BodoE, saudara seayah dari We Batari Tungke’ibunda beliau. 

Akan tetapi, pemerintahan beliau itu tidaklah panjang, sebab tak lama kemudian wafatlah ia, sehingga negeri kembali berada dalam kebimbangan. Maka berkumpullah para hadat Luwu, bermusyawarah dengan penuh kehati-hatian, menimbang adat dan kelayakan. Dalam mufakat yang seia sekata, mereka berkata bahwa tiada seorang pun yang lebih patut memikul kembali amanah negeri selain beliau We Tenri Leleang.

Lalu dimintalah beliau kembali naik ke singgasana. Maka diterimalah amanah itu dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, bukan karena kehendak diri, melainkan demi keselamatan negeri dan kesejahteraan rakyat. Sejak itulah Luwu kembali berada dalam ketenteraman, sebab kebijaksanaan dan kewibawaan beliau tiada tergantikan.

Demikianlah We Tenri Leleang, Sultana Aisyah Kr Tanete Pajung ri Luwu MatinroE ri Soreang, dikenang hingga akhir hayatnya sebagai penguasa perempuan yang menyatukan adat, agama, dan kebijaksanaan, serta menjadi tanda kebesaran perempuan bangsawan dalam sejarah Luwu dan Tanete.


Buat yg merasa wija silahkan kalau mau join 🙏


https://www.facebook.com/share/g/1Aa7jx9XNo/


https://chat.whatsapp.com/KQtZK25RnF188p1xcGlX2C?mode=gi_t

[3/2 14.54] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: https://www.facebook.com/share/p/1RjXr4g3NL/


Banyak pihak belakangan ini mencoba menyangkal terjadinya Tragedi Bubat (1357 M). Alasannya klasik: "Itu hanya adu domba Belanda" atau "Tidak ada bukti sejarahnya". Namun, bagi siapa pun yang mau membuka mata dan menginjakkan kaki di Situs Astana Gede Kawali, Ciamis, penyangkalan itu akan runtuh seketika.


Sejarah tidak hanya tertulis di atas kertas yang bisa dimanipulasi, tapi tertanam di atas batu yang telah membisu selama ratusan tahun. Di sinilah, di bekas jantung Kerajaan Sunda Galuh, jejak kepulangan para pahlawan yang gugur di Lapangan Bubat tersimpan dengan nyata.


Tiga Batu, Satu Luka: Tempat Persemayaman Abu Jenazah

Di kompleks Astana Gede, terdapat tiga titik sakral yang bukan sekadar hiasan alam, melainkan tempat penyemayaman abu jasad keluarga raja yang menjadi korban ambisi kekuasaan Majapahit:

 * Batu Panyandungan: Di sinilah abu jenazah Prabu Linggabuana disemayamkan. Sang Raja yang memilih gugur demi menjaga martabat kedaulatan Sunda daripada tunduk sebagai bawahan.

 * Batu Panyandaan: Tempat penyemayaman abu jenazah Sang Permaisuri. Beliau bukan sekadar pendamping, tapi saksi sekaligus korban yang memilih setia hingga titik darah terakhir di tanah orang.

 * Batu Pangentengan (Batu Cermin): Tempat bersemayamnya abu Putri Dyah Pitaloka Citra Resmi. Simbol kesucian dan harga diri wanita Sunda yang memilih belapati daripada menjadi piala kemenangan politik.


Mengapa Ini Bukan Rekayasa Belanda?

Para penyangkal sejarah sering menuding naskah Kidung Sunda sebagai buatan kolonial. Namun, apakah mereka bisa menjelaskan mengapa masyarakat Kawali sudah mensakralkan batu-batu ini jauh sebelum Belanda menginjakkan kaki di Nusantara?


Keberadaan Prasasti Kawali yang dibuat oleh Prabu Niskala Wastu Kancana (sang penyintas Bubat) adalah bukti otentik. Mengapa beliau membangun ibu kota yang begitu kuat dengan pesan-pesan kebajikan (Rahayu)? Karena beliau sedang memulihkan sebuah bangsa yang baru saja kehilangan seluruh pucuk pimpinannya dalam satu malam di Bubat.


Menghargai Sejarah Tanpa Menutup Mata

Mengakui adanya Perang Bubat bukan berarti kita membenci saudara kita di Jawa atau merendahkan kebesaran Majapahit. Justru dengan mengakui adanya "titik hitam" ini, kita belajar bahwa ambisi tanpa diplomasi dan pengkhianatan atas nama persatuan adalah kesalahan fatal yang tidak boleh terulang.


Jangan tutupi sejarah hanya karena takut mengakui bahwa pahlawan besar seperti Gajah Mada atau Hayam Wuruk juga manusia yang bisa melakukan kesalahan kelam. Sejarah adalah cermin, bukan topeng.

Situs Astana Gede Kawali adalah bukti bahwa darah Sunda pernah tumpah demi harga diri, dan abunya telah pulang ke rumah.


#NusantaraExcited #SejarahSunda #PerangBubat #AstanaGedeKawali #DyahPitaloka #Ciamis #Galuh #MelawanLupa #SejarahNusantara

[3/2 14.59] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Tim Riset Temukan Titik Terang Sejarah Kepemimpinan PCNU Gresik dari Masa ke Masa - NUGRES

 https://share.google/1YnKz2pXOPzgFoxvu


By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.


Accept



Font ResizerAa


NUGRES > Blog > BERITA > Tim Riset Temukan Titik Terang Sejarah Kepemimpinan PCNU Gresik dari Masa ke Masa


BERITA


Tim Riset Temukan Titik Terang Sejarah Kepemimpinan PCNU Gresik dari Masa ke Masa


Redaksi NUGres2 Februari 2026



Ornamen dinding lambang Nahdlatul Ulama di Kantor PCNU Gresik. Foto: NUGres


GRESIK | NUGres – Penelusuran Tim Riset Penyusunan Sejarah PCNU Gresik dari Masa ke Masa akhirnya menemukan titik terang setelah melalui proses panjang dan mendalam. Riset ini bermula pada 29 Januari 2025, bertempat di Kantor PCNU Gresik, dengan melibatkan berbagai unsur penting yang memiliki keterkaitan langsung dengan sejarah dan perjalanan jam’iyah Nahdlatul Ulama di Kabupaten Gresik.


Pada tahap awal, tim riset menghadirkan sejumlah dzuriyah Muassis dan Muharrik NU, tokoh NU, pemerhati sejarah NU Gresik, serta melibatkan beberapa lembaga di lingkungan PCNU Gresik, di antaranya Lakpesdam NU dan Lesbumi NU Gresik. Diskusi awal ini menjadi fondasi penting untuk membuka ruang ingatan kolektif sekaligus mengidentifikasi sumber-sumber sejarah yang selama ini tercecer.


Diskusi tidak berhenti pada pertemuan pertama. Sepekan kemudian, tepatnya pada 8 Februari 2025, tim kembali menggelar diskusi lanjutan yang lebih mendalam di Kantor PCNU Gresik. Fokus utama pada tahap ini adalah pendataan periodisasi kepemimpinan, khususnya terkait Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah PCNU Gresik dari masa ke masa.


Dalam perjalanannya yang memakan waktu lebih dari satu tahun, tim riset berhasil menghimpun dan mengolah data dari berbagai sumber. Data tersebut meliputi hasil wawancara mendalam yang dilakukan Dr. Shohib dengan Almarhum KH. Machfudz Ma’sum, arsip dan dokumen resmi PCNU Gresik, serta catatan dan penelusuran dari para pemerhati sejarah NU di Gresik.


Proses verifikasi dan sinkronisasi data dilakukan secara cermat untuk memastikan keakuratan sejarah yang akan disusun. Setiap informasi ditelaah, dibandingkan, dan diuji silang agar tidak hanya bersifat naratif, tetapi juga memiliki dasar akademik dan historis yang kuat.


Baca Juga


 PAC GP Ansor, Satkoryon Banser dan Fatayat NU Driyorejo Gresik Kompak Gelar Ziarah Muassis dan Muharrik NU


“Dan itu diputuskan oleh Tim Riset sebagai data dasar hasil penelusuran sejarah periodisasi PCNU Gresik dari masa ke masa,” ujar Ahmad Zainuddin, Senin (2/2/2026), salah satu anggota Tim Penyusun Riset NU Gresik dari Masa ke Masa. Ia menegaskan bahwa hasil riset ini diharapkan menjadi rujukan resmi sejarah PCNU Gresik.


Lebih lanjut, hasil penelusuran sejarah tersebut akan menjadi bagian penting dalam rangkaian Peringatan 1 Abad Hijriah PCNU Gresik dan 1 Abad Masehi Nahdlatul Ulama. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Suci, Manyar, Gresik, pada Sabtu, 7 Februari 2026.


Dalam momentum bersejarah tersebut, PCNU Gresik juga akan mengundang sejumlah tokoh dan pihak yang dinilai berjasa dalam perjalanan organisasi untuk menerima penghargaan. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi sekaligus peneguhan bahwa sejarah NU Gresik dibangun dari dedikasi banyak pihak lintas generasi.


Editor: Chidir Amirullah


TAGGED:nu gresikPCNU GresikSejarahSejarah NU GresikTim Penyusun Sejarah NU Gresik


Leave a comment


Berita & Artikel Terkait



BERITA


Berkhidmat kepada Umat, Klinik Annahdlah MWCNU Dukun Gresik Hadirkan Pengobatan Gratis


2 Februari 2026



BERITA


Lewat Rembug Organisasi, PAC GP Ansor Benjeng Gresik Mantapkan Tiga Fokus Gerakan


2 Februari 2026



KOLOM KALEM


Mujahadah di Puncak Sejarah: Meneguhkan Militansi Jam’iyah dalam Spirit 313 Ahli Badr


2 Februari 2026



Follow US


© 2026 NUGRES Official Media PCNU Gresik. All Rights Reserved.

[3/2 17.57] SUHU PSPB RONGGOLAWEZ21: Real Vs Hoax  ?!


https://www.facebook.com/share/p/18A1W2nb5K/


Habib Abdullah bin Alwi Baraqbah Bangil Menyingkap Tabir Beberapa Ulama Masyhur


Siapa yang tak mengenal KH Muhammad Zaini Abdul Ghani (Guru Sekumpul, KH Usman (Ayahanda KH Asrori Kedinding, Surabaya), dan H. Basroni Tulungagung, sosok alim dan dermawan yang sangat masyhur.


Dibalik kemasyhuran mereka, ternyata ada guru yang menjadi kunci dari kealiman dan kedermawanan beliau-beliau, yaitu Habib Abdullah bin Alwi Baraqbah Bangil. Saat itu, Habib Abdullah bin Alwi Baraqbah menemui mereka dalam situasi yang belum masyhur seperti sekarang ini dan menyingkap tabir mereka serta memerintahkan untuk mengerjakan dua amalan kunci.


Habib Abdullah bin Alwi Baraqbah memberi pesan kepada mereka untuk memperbanyak shalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW dan menjadi orang yang dermawan terhadap fakir miskin dan anak yatim. 


Berkat mengamalkan dua pesan amaliyah tersebut, KH Muhammad Zaini Abdul Ghani, KH Usman, dan H. Basroni Tulungagung menjadi ulama yang masyhur akan keilmuan, mahabbah, dan akhlak yang mulia.


Pertemuan dengan Guru Sekumpul


Suatu ketika, Habib Abdullah bin Alwi Baraqbah mencari seseorang yang bernama Muhammad Zaini (Guru Sekumpul) dari Banjar yang saat itu tinggal di Desa Kauman, Bangil. Kemudian atas izin KH. M. 


Syarwani Abdan (Guru Bangil), Muhammad Zaini dipertemukan dengan Habib Abdullah bin Alwi Baraqbah. Lalu Habib Abdullah menyingkap tabir Muhammad Zaini seraya berkata jika dirinya (Muhammad Zaini) akan menjadi ulama besar suatu saat nanti.


Ternyata perkataan Habib Abdullah benar adanya, KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani menjadi ulama besar yang terkenal dengan keilmuan dan akhlak muliau beliau.


Pertemuan dengan KH Usman


Dahulu, KH Usman sering berziarah ke makam Habib Abdullah bin Ali Al Haddad Sangeng. Pada suatu malam, KH Usman bermimpi berjumpa dengan Habib Abdullah bin Ali Al Haddad Sangeng, dalam mimpinya Habib Abdullah Sangeng memerintahkan KH Usman untuk mengaji pada Habib Abdullah bin Alwi Baraqbah yang ketika itu belum dikenalinya.


Kemudian KH Usman mencari petunjuk tentang Habib Abdullah Baraqbah kepada masyarakat Bendomungal, dan salah satu di antara mereka mengatakan bahwa kediaman Habib Abdullah Baraqbah dekat dengan Langgar Jarhum. Kediaman Habib Abdullah Baraqbah saat itu merupakan sebuah rumah yang paling jelek diantara rumah-rumah lain di sekitar langar. Namun, di situlah Habib Abdullah Baraqbah dan keluarga tinggal.


Semenjak berguru kepada Habib Abdullah bin Alwi Baraqbah, KH Usman telah dikasaf akan menjadi ulama yang masyhur akan akhlak mulia, humanis, sederhana dan dermawan.


Pertemuan dengan H. Basroni Tulungagung


Saat itu Habib Abdullah Baraqbah sedang berada di Tulungagung, beliau bertemu dengan Basroni muda dalam sebuah majelis ilmu. Waktu itu, H. Basroni masih sebagai pemuda pengangguran dan belum memiliki penghasilan.


Kemudian, Habib Abdullah Baraqbah memanggil Basroni muda. Dengan spontan, Basroni menghampiri Habib Abdullah Baraqbah dan mencium tangan beliau. Habib Abdullah Baraqbah lalu berkata, “Engkau Basroni, akan menjadi orang yang terkenal dan semua bangunan yang ada di sekitar sini akan menjadi milikmu.”


Semoga kisah teladan ini dapat membawa manfaat kepada kita semua, dan membuat kita semakin giat dalam memupuk amal ibadah. Amin. GSA DAILY 

Disadur dari unggahan Haidar Ali Muhammad

Editor: Daniel Simatupang

Sumber : Laduni

و الحمد للّه ربّ العالمين

صلّى اللّه على محمّد

0 comments:

Post a Comment