HARTABUTA :
Senin, 12-1-2026 M
Sumber :
https://www.facebook.com/share/1C6uPBzeML/
Dzurriyyah Pangeran Bumidirja
Kangjeng Pangeran Bumidirja (Ki Bumi) dgn R.Ayu Bumidirja (Nyai Bumi, dari Bagelen), berputra ~
1. R.M. Gusti (Kyai Gusti/R.T. Wongsodirjo).
2. R.M. Bagus (Kyai Bagus/Lurah Wirobumi).
3. R.Ajeng Ageng (Nyai Ageng).
4. R.M. Bekel (Kyai Bekel/R.Panji Prawirobumi)..
Versi ' Nyai Ageng kagarwa Ki Demang Wawar, berputra ~ Ki Werganaya (Demang Wawar), berputra ~
1. Nyai mbarep (Ni Pembayun) garwa Kyai Honggoyudo (Demang Kutowinangun).
2. Nyai Anom (Ni Ragil) garwa ampeyan/selir Kangjeng Pangeran Puger (Susuhunan Pakubuwono I), berputra ~ Jaka Sangkrip (yg artinya Jejaka Pangaling-aling/penyekat)..
Versi " R. Panji Prawirobumi (Kyai Bekel/R.M. Bekel, makam dusun suaran mekarsari Kutowinangun), berputra ~ R.M. Wuragil (Kyai Kentol Wuragil, makam paseban bayat Klaten), berputra ~
1. Kyai Honggoyudo (R.M. Honggojudo, makam dusun suaran mekarsari Kutowinangun).
2. Kyai Singoyudo, makam dusun joho desa klapasawit Bulus Pesantren)..
Kyai Honggoyudo garwo Nyai Mbarep (Ni Pembayun, putri Ki Werganaya Demang Wawar), berputra ~
1. Nyai Wirarana ing Jrakah.
2. Kyai Honggodiwongso (Ki Drapaita) ing Kalipancur Peniron, berputra ~ Kyai Djojotaroeno (Ki Drapasuta) ing Krajan Peniron, berputra ~ Kyai Surenggodo Ronodiwiryo / Ronodiwongso ing Kalipancur Peniron.
3. Nyai Nolowiyogo.
4. Nyai Wirowongso ing Blimbing.
5. Kyai Sutoyudo.
6. Kyai Surodjoyo ing Ngambal.
7. Jaka Sangkrip 1678 - 1762 M (Ki Surawijaya/Tumenggung Honggowongso/Raden Tumenggung Arung Binang I)..
Di Kutowinangun, sejak kecil Jaka Sangkrip sudah menunjukan kepandaian, ketangkasannya dan keberaniannya dibanding saudara"nya dan teman"nya. Dari keberaniannya itu dia berani menerjang berbagai tempat yg dianggap sangat berbahaya, sehingga hal itu berakibat cukup fatal. Suatu waktu saat bermain-main dengan teman dan saudara"nya, mereka bermain di dekat rumpun bambu bersembunyi- sembunyian. Saat bersembunyi itu Jaka Sangkrip bergesekan dengan bulu-bulu pohon bambu yg gatal, akibatnya sekujur tubuhnya terserang rasa gatal dan digaruk-garuknya, tambah digaruk bertambah gatal hingga kulitnya mengelupas dan berdarah-darah. Akhirnya menjadi penyakit kulit yg cukup parah, sekujur badannya berkoreng dan mengeluarkan nanah yg berbau. Dalam kondisi seperti itu, sampai usia dewasa agar tetap sehat yaitu dengan memperdalam olah kanuragan yg telah diberikan oleh gurunya saat masih belum kena penyakit dan bermujasemadi memohon kepada Allah Swt. untuk kesembuhannya. Akhirnya diputuskan untuk meninggalkan desa nya diam" dan pergi jauh sambil bertirakat dan mencari obat kesembuhannya, tanpa arah tujuan yang pasti, arah jalannya menuju ke barat tanpa berhenti akhirnya sampai ke sebuah hutan dekat gunung Geyong yg masih termasuk wilayah Panjer. Selama 21 hari Jaka Sangkrip bermujasemadi dan berdiam di hutan itu, akhirnya dia didatangi seorang tua yg memberinya Cincin serta menyuruh pergi ke arah barat terus sampai bertemu rumah yg mempunyai kerbau bule di kampung itu, bertapalah cucunda didalam perut kerbau itu sampai nanti dikeluarkan orang , lalu mandilah disana dibelik (kolam kecil) yg sudah tersedia.. syahdan pemilik kerbau bule dan yg menyiapkan belik adalah Ki Rejotani, setelah kerbau disembelih dan Jaka Sangkrip dikeluarkan serta dimandikan, dengan kehendak Allah yang Maha Kuasa maka lunturlah semua penyakit kulit yg ada ditubuh Jaka Sangkrip tanpa bekas. Hingga sampai waktunya Jaka Sangkrip berpamitan dan mengucapkan terimakasih yg tiada terhingga kepada Ki Rejotani sekeluarga dan penduduk dusun itu serta berpesan agar belik/kolam yg airnya dipakai untuk memandikannya sampai penyakitnya hilang dan sembuh (waras) agar dinamakan Belik Kawarasan, sejak itu desa itu dikenal dengan nama Desa Kawarasan dan diangkatlah Ki Rejotani menjadi Lurah Kawarasan.
Empat puluh lima hari sudah semenjak dia meninggalkan Kutowinangun sampai saat itu, selama itu pula seolah Jaka Sangkrip bertapa dalam keramaian, pikiran dan rasanya menjadi lebih tajam, paham akan ilmu-ilmu yg tadinya belum pernah dia dapatkan, nanti akan terbukti kemampuan Jaka Sangkrip yg berguna bagi orang lain serta dirinya. Itulah karunia dari Allah Swt. karena kesungguhannya melaksanakan niatnya sambil berprihatin.. Beberapa waktu kemudian, sampailah Jaka Sangkrip disebuah dusun yg cukup ramai, melewati segerombolan orang" sedang membangun sebuah rumah yg cukup besar, dalam pembuatan batur (fondasi) diminta untuk membantu pembuatan batur bangunan, setelah baturan itu selesai maka Jaka Sangkrip berpamitan untuk melanjutkan perjalanan dan berpesan agar desa itu dinamakan Kebaturan, dan jadilah Desa Kebaturan sebagai desa yg makmur.. Selanjutnya Jaka Sangkrip melanjutkan perjalanannya, sampai disebuah tempat dimana terdapat banyak sekali bebek yg sedang diangon oleh beberapa org, dan Jaka Sangkrip berpesan agar desa itu dinamakan Desa Kabebekan, disuruhnya para penggembala bebek itu untuk menyapaikan pesan kepada Kepala Desanya.. Lanjut pula Jaka Sangkrip berjalan, sampai ke sebuah tegalan yg ditumbuhi rumput" yg hijau subur, ditegalan itu bertebaran kambing" yg sedang diangon, kepada para gembala kambing itu Jaka Sangkrip berpesan untuk disampaikan kepada Kepala Desa nya agar desa itu dinamakan Kawedusan.. Dalam perjalanan selanjutnya, Jaka Sangkrip bertemu dengan orang yg sedang berjalan tergesa-gesa lantas ditanya, dia seoran dukun beranak yg mendapat panggilan untuk mengobati orang sakit seusai melahirkan bayi laki" kembar yg sehat hanya ibunya yg sakit. Mendengar itu lalu Jaka Sangkrip memetik beberapa lembar daun Dadap dan daun Waru, kemudian diremasnya kedua daun itu sambil mohon kepada Allah Swt. agar orang yg diobati daun itu segera sembuh, lalu diberikan kepada dukun itu agar remasan daun Dadap dan Waru itu diberi air bening lalu sebagian airnya diminum sebagian lagi dibalurkan ke perut sisakit, Insya Allah si Sakit akan segera sembuh dan sehat kembali, juga dipesankan tempat itu dinamakan Desa Kembaran dan kedua bayi kembar itu diberi nama Dadap dan Waru, yg kemudian akhirnya desa itu Desa Kembaran.. Nama" tempat, dusun dan desa itu sampai sekarang tetap lestari di Kabupaten Kebumen.. Perjalanan Jaka Sangkrip berlanjut sampai dan bermalam ditepian sungai Lukulo yg airnya mengalir berkelok-kelok laksana seekor ular menuruti jalannya menuju ke arah selatan, tempatnya bermuara di Lautan Kidul (Selatan) yg konon di Lautan Kidul itu bersemayam Kangjeng Ratu Kidul penguasa samudera. Karena tiada rakit dan jembatan untuk menyebrang, maka Jaka Sangkrip menyiapkan batang" bambu untuk melompat menyebrangi sungai Lukulo, setelah sampai disebrang melanjutkan perjalanan ke arah Barat mencari dusun terdekat. Kemudian sampailah Jaka Sangkrip disebuah dusun yg tampak ramai, melewati satu rumah yg cukup besar Jaka Sangkrip tertarik melihat lelaki setengah umur sedang merawat seekor ayam dikelilingi oleh orang" yg membantunya memandikan ayam" lainnya. kemudian menghampiri lalu berjongkoklah Jaka Sangkrip dan berbicara ke siempunya ayam. tuan, tampaknya ayam tuan ini mempunyai tanda sifat" sebagai ayam yg baik yg dengan kehendak Allah Yang Maha Pengasih dapat mendatangkan rejeki yg cukup, juga perlu diketahui bahwa dusun inipun akan menjadi dusun yg mukti, makmur loh jinawi, maka berilah nama Desa Pejagoan. Sampai saat ini nama daerah itu masih tetap bernama Pejagoan.. Selanjutnya Jaka Sangkrip meneruskan perjalanan ke arah Selatan, menuju Pantai Kidul (Selatan). Disebuah dusun Jaka Sangkrip terhenti sejenak karena melihat kerumunan orang dan seorang wanita setengah baya bertengkar dengan seorang wanita yg lebih muda, singkat cerita lalu Jaka Sangkrip memberikan petuah kepada kedua wanita dan masyarakat yg hadir di tempat itu, agar mereka menjauhkan dirinya dari pertengkaran yg tidak perlu yg hanya akan merusak kerukunan saja. Selanjutnya Jaka Sangkrip berpesan pula agar dusun itu diberi nama Kawayuhan (Wayuh, menikahi wanita lebih dari satu). Dan Desa Kawayuhan pun lestari sampai saat ini..
والحمد للّه رب العالمين
صلّى اللّه على محمّد
No comments:
Post a Comment